Hidupgaya.co – Menjaga kesehatan rongga mulut, termasuk gigi dan gusi menjadi hal wajib. Bukan sekadar sikat gigi, pemeliharaan harus dilakukan menyeluruh, termasuk merawat gusi yang selama ini kerap terabaikan.
Dokter Gigi Spesialis Periodonsia drg. Ines Augustina Sumbayak, Sp.Perio mengungkap perawatan gusi masih sering terabaikan karena gejalanya muncul secara samar. “Gejala itu jarang menimbulkan rasa sakit, terutama di tahap awal, biasa disebut gingivitis,” ujarnya di acara Pepsodent GumExpert Lab di Jakarta, baru-baru ini.
Ines menambahkan, jka dibiarkan, kondisi itu akan berkembang menjadi periodontitis, yang merupakan peradangan gusi yang lebih parah dan bersifat tidak bisa pulih. “Di tahap ini, perawatannya biasanya jadi jauh lebih kompleks dan biaya yang dikeluarkan mahal,” ujarnya.
Gusi yang sehat berwarna pink, bukan merah. “Kalau gusi merah itu pasti ada peradangan, bisa muncul rasa panas yang menimbulkan rasa tidak nyaman,” cetusnya.
Ines menyampaikan masalah gusi justru menjadi akar dari berbagai keluhan gigi dan mulut, seperti gigi sensitif, gigi goyang hingga tanggal, rasa sakit pada gigi saat mengunyah, napas tidak segar atau bau mulut, bahkan mulut yang tidak terasa nyaman karena gusi bengkak.

Dia menambahkan, gusi merupakan organ penting dalam menjaga kesehatan rongga mulut. “Gusi itu fondasi, dan gigi ibarat rumah. Kalau fondasi nggak kuat maka rumah akan runtuh. Akibat fondasi gusi kurang baik efeknya bisa gigi gampang goyang, tanggal, rasa sensitif pada gigi, bahkan hingga pergeseran,” terangnya.
Orang yang bermasalah dengan gusi biasanya akan muncul bau mulut. “Orang yang punya masalah gusi biasanya bau mulut banget, napasnya bau,” ujarnya.
Hal itu karena ada rasa sakit di sela gusi sehingga makanan gampang nyempil terjebak di gusi yang bengkak.
Dia mengingatkan, masalah gusi yang diabaikan juga akan berdampak serius bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan karena dapat meningkatkan risiko penyakit sistemik seperti jantung, stroke, diabetes, infeksi pernapasan dan komplikasi kehamilan.
“Sakit jantung, penyakit autoimun bisa muncul akibat masalah gusi yang tidak terselesaikan,” Ines mengingatkan.
Untuk menjaga kesehatan gusi, dokter spesialis gigi yang berpraktik di Audy Dental itu menyarankan rutin sikat gigi setidaknya dua kali sehari selama dua menit menggunakan pasta gigi khusus untuk kesehatan gusi.
Pemakaian dental floss juga disarankan untuk mencegah penumpukan plak paga gigi yang bisa berimbas pada masalah gusi.
Ines menyarankan kalau ada masalah gusi sebaiknya kontrol ke dokter gigi setiap tiga bulan. Serta, ganti sikat gigi secara teratur, terutama bila kepala sikat sudah ‘mekar’ dan tidak lagi nyaman digunakan.

Rikka Anggitha, Head of Marketing Oral Care Unilever Indonesia menyampaikan, untuk membantu masyarakat menjaga kesehatan gusi dengan lebih optimal, Pepsodent memiliki rangkaian varian Pepsodent Gum Expert.
“Memadukan kekuatan sains dan teknologi terkini, Pepsodent Gum Expert diformulasikan khusus untuk merawat kesehatan gusi agar tetap merekat kuat pada gigi,” ujarnya.
Dia menekankan acara Pepsodent GumExpert Lab bertujuan meningkatkan awareness masyarakat untuk stop menormalisasi fokus perawatan hanya pada gigi.
“Menjaga kesehatan gusi sebagai fondasi gigi sama pentingnya, bahkan dalam banyak kasus, bisa jadi jauh lebih penting,” pungkas Rikka. (HG)