Hidupgaya.co – Gelombang Korea (hallyu) menyapu berbagai berbagai belahan dunia seiring meningkatnya popularitas budaya Korea Selatan secara global, yang didorong oleh elemen-elemen kunci seperti K-pop, K-drama, dan kuliner Korea.

Gelombang Korea menjadi kekuatan yang tak terbendung, seiring melejitnya fandom global untuk grup musik dan serial televisi populer, juga besarnya permintaan terhadap perawatan kulit Korea (K-beauty), kosmetik, hingga hidangan Korea yang mendunia seperti kimchi, tteokbokki, dan tentu saja ramyeon.

Dan kini, K-fashion tampaknya akan menjadi gelombang baru yang datang dan memicu ‘demam’ berikutnya, termasuk Indonesia.

Seiring dengan dengan munculnya hallyu, menjadikan Korea memiliki pengaruh dalam tren mode di seluruh dunia karena popularitas budaya pop modernnya.

Selama beberapa dekade, mode di Korea Selatan telah berkembang karena inspirasi dari budaya Barat di masa lalu, kekayaan Korea, serta statusnya sebagai negara maju.

Mode Korea Selatan mempertahankan gaya unik yang telah memengaruhi tren di seluruh dunia: ekspresif dan mencerminkan rasa individualitas.

Korean Wave tak diragukan punya pengaruh di dunia mode. Sejumlah bintang pop dan pemeran dari Korea didaulat menjadi duta mode global untuk merek-merek terkemuka dunia, mereka tampil di sejumlah kota besar dan konsumen ingin meniru apa yang mereka pakai. Diyakini, fenomena mode ini akan segera mencapai seluruh dunia.

Koleksi Studio di Perla di panggung JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Dan kini, tiga label fashion asal Korea, Studio di Perla, CONSTELLER DL, dan OHGYO menampilkan koleksi tak biasa di JF3 Fashion Festival 2026. Bagi mereka, catwalk bukan sekadar lintasan model, melainkan ruang dialog antara seni, filosofi, identitas, dan pengalaman manusia.

Ketiga rumah mode tersebut memperlihatkan bagaimana K-Fashion terus berevolusi menjadi bahasa artistik yang mampu melampaui batas budaya dan tren musiman. 

Studio di Perla menyajikan koleksi Aporia, istilah filsafat yang menggambarkan keadaan ketika jawaban-jawaban lama tidak lagi memadai untuk memahami realitas baru. Judul itu merujuk pada momen ketika nilai-nilai dan konvensi yang ada tidak lagi dapat memberikan jawaban yang mutlak.

Melalui koleksi ini, Studio di Perla mengeksplorasi pembongkaran batasan-batasan yang dibentuk oleh gender, kelas, ras, dan otoritas budaya, sekaligus menyoroti perjalanan individu.

Lewat eksplorasi siluet kontemporer, label ini mempertanyakan berbagai konstruksi sosial yang selama ini dianggap mapan—mulai dari gender, kelas sosial, ras hingga otoritas budaya.

Setiap rancangan hadir sebagai simbol kebebasan individu dalam mendefinisikan dirinya sendiri.

Koleksi Studio di Perla di panggung JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Perwakilan Studi di Perla menyampaikan bahwa mode seharusnya membuka ruang dialog, bukan memberi jawaban yang mutlak. Aporia adalah ajakan untuk melihat identitas sebagai sesuatu yang terus berkembang dan tidak dibatasi oleh label-label sosial.

Koleksi ini menghadirkan permainan struktur, potongan, serta detail yang menggambarkan proses dekonstruksi terhadap norma-norma lama.

Bagi Studio di Perla, pakaian bukan sekadar benda yang dikenakan, tetapi medium untuk menyampaikan keberanian mempertanyakan kemapanan. Setiap busana menjadi representasi perjalanan personal manusia dalam menemukan jati dirinya.

CONSTELLER DL: Fashion is a canvas

Jenama CONSTELLER DL membawa filosofi Fashion is a Canvas, menjadikan setiap busana sebagai karya seni yang hidup. Panggung busana berubah menjadi galeri seni bergerak yang memadukan ekspresi visual dengan kreativitas mode Korea.

“Bagi kami, pakaian adalah kanvas tempat seni terus hidup dan bergerak. Lewat JF3 kami ingin memperkenalkan kreativitas Korea kepada audiens global sekaligus membangun dialog budaya melalui mode,” kata perwakilan desainer CONSTELLER DL dalam temu media sebelum pertunjukan koleksi di JF3 Fashion Festival 2026.

Koleksi CONSTELLER DL di panggung JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Lewat kolaborasi bersama M8 SHOWROOM milik MCC GLOBAL, label ini hadirkan berbagai karya seni orisinal, media art, hingga koleksi fashion yang menunjukkan bagaimana industri kreatif Korea berkembang tanpa batas disiplin.

Partisipasi di JF3 menjadi langkah strategis untuk memperluas jejaring internasional sekaligus memperkenalkan budaya Korea melalui bahasa mode.

JULYSEVEN by OHGYO

OHGYO adalah merek fashion berbasis seni yang didirikan oleh pelukis dan desainer asal Korea, Oh Hye-young, yang mengeksplorasi hubungan antarmanusia, memori emosional, dan proses membangun kembali hubungan melalui mode, lukisan, suara, dan pertunjukan.

Proyek utamanya, JULYSEVEN, bermula dari lima lukisan dalam pameran tunggal Oh Hye-young tahun 2020 berjudul Human Connection, yang menggambarkan cinta, perpisahan, kerinduan, dan kehidupan setelah kehilangan.

Seniman ini mengubah emosi-emosi tersebut menjadi bentuk tiga dimensi melalui mode — pakaian sebagai patung bergerak yang membawa emosi dan kenangan manusia.

Koleksi JULYSEVEN by OHGYO di panggung JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Koleksi JULYSEVEN terinspirasi dari legenda Asia Timur tentang Sang Gembala dan Sang Penenun, dua kekasih yang dipisahkan Bima Sakti dan hanya dapat bertemu sekali setiap tahun.

OHGYO berasal dari kata-kata dalam bahasa Korea yang berarti ‘gagak’ dan ‘jembatan’ merujuk pada jembatan legendaris yang melintasi Bima Sakti yang menyatukan kembali kedua kekasih tersebut.

Nama ini melambangkan jembatan yang menghubungkan antar manusia, cinta dengan kenangan, lukisan dengan mode, serta perpisahan dengan penyembuhan.

Kisah tersebut diterjemahkan menjadi perjalanan emosional tentang cinta, kehilangan, penyembuhan, hingga lahirnya harapan baru. 

Peluncuran JULYSEVEN menegaskan identitas OHGYO sebagai merek seni, label yang koleksinya tidak didasarkan pada tren musiman, melainkan berasal dari proyek seni 3D yang diwujudkan dalam bentuk busana.

Seluruh koleksi dibangun dari proyek seni tiga dimensi yang kemudian diwujudkan menjadi karya busana. Di tangan OHGYO, busana tidak berdiri sendiri. Musik, pencahayaan, video, tata ruang, hingga gerak para model menjadi bagian dari satu narasi artistik yang saling melengkapi.

Siluet-siluet arsitektural yang bersifat gender-fluid dipadukan dengan teknik draping, konstruksi asimetris, permainan volume, serta tekstur yang kontras, menciptakan busana yang berubah karakter mengikuti gerakan tubuh.

“Kami ingin menghadirkan pengalaman yang membuat setiap orang kembali merenungkan hubungan mereka dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia,” terang MOOA, direktur artistik OHGYO.

JULYSEVEN bukanlah koleksi yang lahir dari tren atau mode musiman. Titik awalnya adalah penyelidikan mendalam terhadap kemanusiaan dan pengalaman hidup, mencakup pertanyaan tentang cinta dan kehilangan, hubungan dan perpisahan — yang dieksplorasi melalui filsafat dan seni selama bertahun-tahun.

Inspirasi inti kedua adalah alam: hutan, laut, kabut, dan langit malam, yang masing-masing mewakili tatanan dan siklus yang lebih tua daripada umat manusia itu sendiri, tercermin dalam palet warna, bahan, dan desain ruang koleksi ini.

Koleksi JULYSEVEN by OHGYO di panggung JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Kain dipilih berdasarkan bobot, tekstur, transparansi, kekakuan, dan respons terhadap gerakan, menggabungkan bahan yang terstruktur dan yang mengalir untuk menonjolkan kontras antara keterbatasan dan kebebasan, ketegangan dan kelonggaran.

“Mode bagi kami bukan hanya sesuatu yang dikenakan, melainkan pengalaman yang dapat menyentuh emosi,” imbuh MOOA.

Bagi OHGYO, keberlanjutan bukan sekadar penggunaan material ramah lingkungan, melainkan membangun hubungan emosional antara manusia dan pakaian sehingga setiap karya memiliki nilai yang terus bertambah seiring perjalanan waktu. 

Melalui 20 koleksi (8 busana pria, 12 wanita), OHGYO berharap para penikmat mode tidak hanya sekadar mengagumi desain-desainnya, melainkan juga merasakan pengalaman yang mendorong mereka untuk kembali merenungkan hubungan mereka dengan diri sendiri, orang lain, dan  dunia. (HG)