Skip to content

Dari Ende untuk Dunia

Hidupgaya – Kekayaan wastra Nusantara tak diragukan lagi. Salah satu daerah yang memiliki budaya unik adalah Ende, sebuah kabupaten di Pulau Flores, provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Adalah Novita Dewi (45), pengusaha yang membesut tenun dan batik Ende menjadi tas dengan desain cantik dipadukan dengan kulit sapi berkualitas tinggi.

Pemilik House of Ende ini mengaku bisnis tas bermerek Ende lahir dari kegelisahan dirinya yang melihat mayoritas perempuan Indonesia sangat tergila-gila dengan tas, namun menggunakan merek luar negeri.

“Banyak perempuan Indonesia keranjingan tas. Mereka membeli dengan harga yang tidak murah, dan saya melihat tas Indonesia tidak pernah ada. Sangat disayangkan budaya, kultur bangsa Indonesia yang memiliki potensi begitu besar tidak dimanfaatkan secara positif,” kata Novita.

Berdasarkan hal itu, Novita memberanikan diri untuk memproduksi tas yang tidak kalah dengan produksi luar negeri, namun tetap melestarikan budaya lokal Indonesia. Tercetuslah tas Ende Indonesia, tas yang merek lokal yang mengusung beragam kelebihan, antara lain bisa dipesan sesuai keinginan pembeli, dibuat dengan ketelitian tinggi, mengangkat budaya lokal dan tentu saja unik.

Dalam mengangkat budaya lokal, Ende kali ini fokus pada tema Betawi dengan Ende Aje.  Menurut Novita, budaya Betawi memiliki keunikan yang beragam dan indah. Ia mencontohkan, seperti ondel-ondel, tari yapong, dan roti buaya yang selalu ada di kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi.

“Ini menginspirasi daya untuk mengabadikannya menjadi sebuah hasil karay tas yang saya persembahkan untuk Jakarta,” tuturnya.

Novita mengakui, apa yang dilakukan di House of Ende masih sangat kecil artinya, dan ia belum merasa puas. Meski demikian, Novita berharap langkahnya itu menjadi titik tolak dan menginspirasi warga Jakarta untuk lebih mencintai budaya dan produk Jakarta.

Harga tas yang ditawarkan House of Ende mulai dari Rp4 juta per buah. (HG)

Iklan

Vaultone, Jam Tangan Unik Bidik Kalangan Premium

Hidupgaya – Jam tangan menjadi aksesoris penting dalam keseharian. Bukan hanya sebagai pelengkap penampilan, namun jam juga bisa menunjukkan selera dan status pemakainya.

Ketika teknologi belum secanggih sekarang, jam tangan merupakan satu-satunya alat penunjuk waktu paling efisien di tengah sibuknya kegiatan sehari-hari. Meskipun sekarang sudah banyak peragkat canggih  yang memiliki fungsi penunjuk waktu, namun peran jam tangan tetap tidak bisa tergantikan.

Hal inilah yang mendasari  Victor Djohan dan Abra Sumendap membesut Vaultone, jam tangan otomatis (tanpa menggunakan batere) yang membidik kalangan muda.

Victor dan Abra mengaku sejak lama menyukai jam. “Saya suka Hublot. Desainnya bagus dan unik,” kata Abra menyebut salah satu jam favoritnya.

Vaultone merupakan merek jam yang dibesut Victor dan Abra pada 2017. Saat peluncuran perdana, Vaultone dibuat 100 buah. “Saat ini sudah terjual 50 melalui penjualan online,” kata Victor dalam temu media di Jakarta saat memperkenalkan jam yang saat ini masih dibuat di Hongkong dengan mesin buatan Miyota, Jepang.

Dihargai Rp8 juta per unit, Vaultone bermaksud menyasar kalangan menengah atas.  “Vaultone ditujukan bagi pria yang mencari jam tangan berkualitas dengan desain unik,” ujar Victor.

Menurut Victor, Vaultone menawarkan kebebasan bagi pecinta jam tangan premium untuk mencari jam tangan sesuai keinginan masing-masing yang mempresentasikan jati dirinya. “Bisa custom, misalnya bezel (muka jam) bisa disesuaikan dengan warna mobil atau motor,” kata Victor seraya menyebut bezel jam dijual seharga Rp200 per buah. Saat ini tersedia bezel dalam 5 warna, yaitu mulai hitam hingga gun metal.

Koleksi perdana Vaultone memperkenalkan satu tipe edisi terbatas yaitu Underdog dengan 3 warna yang berbeda yaitu black, rosegold dan silver. Harga sama Rp8 juta per buah. “Ada layanan purna jualnya sehingga pembeli tidak perlu khawatir apabila terjadi sesuatu hal dengan jam tangan miliknya,” janji Victor.

Victor optimistis bisa bersaing dengan merek internasional, sebutlah Seven Friday. “Vaultone bisa bersaing dengan merek internasional. Saat ini manufakturing casing memang dari Hongkong, mesin dari Miyota, Jepang. Nantinya akan bikin pabrik di Indonesia dan mengusung konten lokal. Doakan saja,” ujarnya.

Victor serius terkait konten lokal ini. Dia mencontohkan, nantinya Vaultone akan berkolaborasi dengan merek batik di Indonesia. “Bezel akan diukir dengan batik sebagai pembeda dengan merek lain,” ujarnya.

Jam tangan yang tersedia sekarang memiliki diameter 4,8 cm, cukup besar untuk ukuran tangan perempuan. “Nantinya akan dibuat jam untuk perempuan yang lebih kecil, juga kepikiran bikin smartwatch,” bebernya.

Soal peminat jam tangan premium, Victor produknya bisa diserap pasar. “Pasar menengah atas di Indonesia tengah tumbuh pesat. Belum ada jam tangan premium lokal di Indonesia,” ujar Victor diamini Abra.

Untuk saat ini, produk Vaultone bisa dibeli melalui http://www.vaultonewatch.com. “Dalam waktu dekat akan kolaborasi dengan Thewatchco dan buka toko di Lippo Mall Kemang,” ujar Victor.

Selain produk jam tangan, juga menawarkan aksesoris seperti berbagai strap (tali jam tangan) yang terbuat dari kulit, juga bezel. (HG)

Gandeng Samuel Wattimena, The Palace Jeweler Rilis Koleksi Perhiasan Nusantara

Hidupgaya – Perhiasan sudah lekat dengan perempuan. Tak hanya pelengkap penampilan, namun perhiasan juga menjadi fashion statement tersendiri.

Perhiasan yang unik akan menjadi nilai tambah dalam mempercantik penampilan, apalagi jika mengusung khazanah budaya Nusantara yang seolah tiada habis untuk dieksplorasi. Nah, terinspirasi dari keindahan dan kekayaan budaya Nusantara, The Palace Jeweler berkolaborasi dengan perancang busana terkemuka Indonesia, Samuel Wattimena, merilis  Koleksi Perhiasan Nusantara.

Koleksi Perhiasan Nusantara terbagi dalam Seri Nusa, Seri Anta dan Seri Tara yang terinspirasi oleh keindahan berbagai perhiasan tradisional Indonesia yang tersebar di wilayah Indonesia Bagian Barat, Tengah, dan Timur.

Samuel mengatakan, kekayaan budaya Indonesia selalu menjadi inspirasinya dalam berkarya. “Karena alasan inilah saya mendukung The Palace Jeweler yang menginisiasi penggunaan perhiasan Indonesia dan diwujudkan dalam bentuk Koleksi Perhiasan Nusantara,” ujar desainer senior ini di sela-sela peluncuran koleksi teranyar The Palace Jeweler di Jakarta, baru-baru ini.

Ada 86 jenis perhiasan pada seluruh koleksi Perhiasan Nusantara yang terdiri dari gelang, cincin, anting-anting, dan kalung dari emas dan berlian. Menurut General Manager The Palace Jeweler Jelita Setifa, koleksi ini dibuat dengan kadar emas yang tepat dan pilihan berlian dengan kualitas yang beragam. “Kami berharap perhiasan yang terinspirasi keindahan Nusantara ini dapat memberikan esensi budaya Indonesia yang kaya, indah, dan menawan,” ujar Jelita di kesempatan yang sama.

Seri Nusa, Anta dan Tara

Menurut Samuel Wattimena, koleksi perhiasan yang menonjolkan identitas Indonesia terdiri dari Seri Nusa, Seri Anta, dan Seri Tara. Ketiga seri perhiasan tersebut memiliki arti kesatuan budaya Indonesia.

Seri Nusa memiliki makna rangkaian kepulauan, Seri Anta bermakna angan-angan seseorang, dan Seri Tara mengandung arti perempuan dengan kebebasan jiwa dan menyatakan keberhasilan juga prestasi hidup sejati.

“Dalam mendesain koleksi perhiasan Nusantara Seri Nusa, saya mendapatkan inspirasi dari pending yaitu bentuk perhiasan yang mewakili Indonesia Bagian Barat. Untuk Seri Anta, saya terinspirasi dari Mamuli dan Marangga yang mewakili bentuk perhiasan Indonesia Bagian Tengah,” jelas Samuel.

Terakhir, Seri Tara mewakili bentuk perhiasan Indonesia Bagian Timur yang terinspirasi dari Mas Bulan Base, Belak, dan Pepek Soriti.

Koleksi perhiasan Nusantara ini bisa diperoleh di sejumah gerai  The Palace Jeweler, Frank&Co, dan Miss Mondial, mulai harga Rp3 juta hingga Rp200 juta. Berminat? (HG)

Tip Memilih Alas Kaki yang Nyaman untuk Traveling

Hidupgaya – Generasi kekinian identik dengan generasi penantang yang senang memacu adrenaline dan mencoba hal baru. Backpacking ke tempat seru, aktivitas outdoor, dan hiking yang kian menantang sudah menjadi bagian dari traveling kekinian.

Data menunjukkan, minimal dua dari lima generasi muda Indonesia menulis “traveling/aktivitas outdoor” sebagai hobi dan pilihan rekreasi mereka. Nah, hal penting yang tak boleh dilupakan saat melakukan aktivitas luar ruang atau rekreasi menantang adalah memilih alas kaki yang pas, yaitu ringan, kuat, nyaman, praktis dan cocok digunakan di segala kondisi.

Menjawab kebutuhan tersebut, Portolite merilis sandal baru yang ringan – hanya memiliki berat 250 gram per pasang. “Sangat mengurangi beban langkah kaki saat traveling. Sandal outdoor atau biasa disebut “sandal gunung” di Indonesia ini memiliki kontur unik yang mengikuti bentuk kaki, sehingga semakin sering dipakai akan semakin nyaman,” kata Direktur Pemasaran Porto Indonesia Heriyanto pada peluncuran sandal terbaru di Jakarta, baru-baru ini.

Kaki yang nyaman dan terjaga, adalah salah satu prioritas saat bepergian, sehingga PortoLite menggunakan kain fiber webbing yang ramah lingkungan, lembut dikulit dan cepat kering, agar kaki tetap nyaman ketika melangkah di tempat yang berair. “Dengan sol yang empuk, antibakteri, tahan air, dan antiselip sebagai fiturnya, PortoLite akan menjadi andalan outdoor footwear Anda bahkan dalam cuaca hujan dan becek,” imbuh Heriyanto.

Selain itu, Heri mengklaim, sesain dari produk PortoLite juga sangat unik, berwarna dan stylish, sehingga terlihat keren saat dipakai. Dia menambahkan, sandal dan sepatu dengan teknologi Ultralight EVA sebenarnya sudah sering digunakan untuk hiking dan outdoor activity di Amerika dan Eropa.

“Seiring berkembangnya trend outdoor activity dan backpacking, Porto menghadirkan teknologi Ultralight EVA tersebut ke Indonesia, yang akan mempermudah dan meningkatkan kenyamanan beraktivitas,” bebernya.

Porto merupakan salah satu brand footwear yang sudah melekat pada masyarakat Indonesia, terus mengedepankan kualitas dan inovasi dalam produknya. Dengan visi menyediakan alas kaki yang berkualitas, nyaman, bergaya dan terjangkau, Porto kini sedang gencar melakukan ekspansi distribusi di pasar Indonesia.

Produk produk Porto dan KananKiri serta PortoLite dapat ditemukan di toko, department store terdekat, Shopee, Lazada, Zilingo dan online store lainnya.”Kami menjalin kerja sama  engan Shopee, Lazada dan Zilingo. Khususnya Shopee pada tanggal 26-30 April 2018 mendatang PortoLite akan tayang di halaman utama,” tandas Heriyanto.(HG)

Pemenang IndoHCF Innovation Awards II 2018 Diumumkan

Hidupgaya – IndoHCF Innovation Awards II-2018 kembali digelar dengan menghasilkan sejumlah pemenang baik dari institusi, pemerintah daerah, dan individu dengan inovasi yang unggul dan unik di masing-masing kategori.

Ketua IndoHCF dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS, mengatakan, pogram penghargaan IndoHCF Innovation Awards diadakan sebagai sumbangsih dari IndoHCF untuk ikut mendukung perkembangan dunia kesehatan di Indonesia, khususnya dalam pelaksanaan program pemerintah dan inovasi oleh anak bangsa.

“IndoHCF Innovation Awards bertujuan untuk memberikan penghargaan kepada instansi dan individu/kelompok perorangan yang telah berhasil menjalankan program-program peningkatan pelayanan kesehatan di Indonesia,” ujar Supriyantoro.

IndoHCF Innovation Awards II-2018 dibagi dalam lima kategori yakni SPGDT, KIA, GERMAS, ALKES, dan ICT HEALTH. Untuk tahun ini khusus kategori SPGDT, KIA, dan GERMAS  penghargaan diberikan kepada pemerintah daerah yang sudah berupaya melakukan inovasi terhadap 3 program di atas dan sudah langsung ditetapkan pemenang yang akan menerima penghargaan.

“Kita harus memberikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah yang telah melakukan upaya inovasi dalam menyukseskan program pemerintah, khususnya di bidang kesehatan,” imbuhnya.

Berikut para pemenang IndoHCF Innovation Awards II-2018 untuk tiga kategori tersebut:

Kategori SPGDT

Penghargaan diberikan kepada pemerintah daerah, yakni Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang memiliki  inovasi program SPGDT dalam membangun jejaring antar provinsi dengan kabupaten/kota di wilayahnya. Kemudian Kota Bandung yang memiliki inovasi jejaring lintas sektoral. Penghargaan untuk Kabupaten Kepulauan Sula, walaupun dengan segala keterbatasan kemampuan daerah yang terdiri atas beberapa kepulauan, ternyata mampu melakukan inovasi dalam proses rujukan antar pulau.

Kategori KIA

Penghargaan diberikan kepada Pemerintah Daerah Kota Semarang  dengan program GIAT (Gerakan Ibu Anak Sehat) bersama Gasurkes KIA (Petugas Surveilans Kesehatan Ibu Anak) dengan inovasi deteksi dini terhadap permasalahan Kesehatan Ibu dan Anak, yang diharapkan dapat mempercepat penanganan masalah KIA.

Kategori INOVASI GERMAS

Penghargaan diberikan kepada Pemerintah Daerah Kota Yogyakarta, dengan inovasi gerakan masyarakat melalui optimalisasi Kelurahan Siaga. Penghargaan juga diberikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu Utara, dengan inovasi gerakan masyarakat yang multietnis dan lintas sektoral.

Untuk dua kategori lainnya yaitu Inovasi Alkes dan ICT Kesehatan, ditetapkan masing-masing 5 finalis, yang penetapan urutan pemenangnya akan ditetapkan pada malam penghargaan pada Kamis (26/4/2018) dimulai jam 19.00 di Ballroom Fairmont Hotel, Jakarta. (HG)

 

Antam Rilis Logam Mulia Usung 4 Motif Batik Indonesia

Hidupgaya – Emas masih menjadi komoditi yang menjanjikan, terutama dalam bentuk emas batangan. Nah, baru-baru ini PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali merilis logam mulia ‘collectible items’ seri Batik Nusantara yang sarat makna dan memiliki filosofi yang dalam.

Sebelumnya, Antam pernah merilis logam mulia edisi batik, yang mendapat antusiasme dari konsumen.

Diakui Direktur Pemasaran Antam Tatang Hendra, peluncuran logam mulia edisi batik diharapkan dapat mendongkrak minat investasi masyarakat produk emas.

“Seperti halnya seri pertama, emas batangan Batik Indonesia seri kedua ini merupakan satu-satunya di dunia. Jelas, hal ini dapat menjadi nilai tambah produk emas batangan Antam,” kata Tatang di sela-sela peluncuran emas batangan seri batik yang diproduksi Antam di Jakarta, baru-baru ini.

Sebagai collectible items, kata Tatang, koleksi emas batangan Batik Indonesia akan menarik masyarakat luas untuk melirik produk ini sebagai cara berinvestasi.

Mengusung motif Wahyu Tumurun, Wahyu Tumurun, Sekar Jagad, juga Purbonegoro, motif-motif batik ini dicetak pada emas batangan 10gr dan 20gr. Kadar kemurnian emas pada koleksi ini mencapai 99,99%.

Jika pada edisi pertama logam mulia bermotif batik terjual 10 ribu keping, untuk koleksi kedua ini diharapkan terjual melebihi edisi pertama.

Meski tidak menyebut target penjualan, namun Tatang optimistis peminat logam mulia edisi batik ini lebih banya. Alasannya, edisi logam mulia motif batik teranyar ini memiliki sejumlah keunikan yang menjadi nilai tambah, antara lain emas batangan ini dicetak dengan dimensi yang lebih lebar sehingga meningkatkan visibilitas detail dari masing-masing jenis motif batik.

“Kami juga mengemas secara khusus koleksi ini guna menambah kesan eksklusif produk seperti pada emas batik seri pertama,” beber General Manager Antam Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia, Abdul Hadi Aviciena dalam kesempatan yang sama.

Koleksi logam mulia seri Batik Indonesia ini dijual di seluruh jaringan Butik Emas Logam Mulia di tiga butik di Jakarta, dua butik di Surabaya, Makassar, Palembang, Semarang, Balikpapan, Banjarmasin, Medan, Bali, dan Yogyakarta. Nah, silakan dibeli. Cantik-cantik lho desainnya. (HG)

Hanung Bramantyo Optimistis ‘The Gift’ Sedot Minat Penonton

Hidupgaya – Sutradara Hanung Bramantyo membesut film drama ‘The Gift’ yang mengusung sejumlah nama besar, seperti Reza Rahadian, Christine Hakim, Dion Wiyoko, juga Ayushita Nugraha.

Bagi Hanung dan Reza, The Gift merupakan kolaborasi ke sekian kali. Terakhir mereka terlibat dalam film ‘Benyamin Biang Kerok’.

Hanung mengaku film ini memiliki makna personal baginya, karena sutradara yang sukses membesut ‘Ayat-Ayat Cinta’ ini diberikan kebebasan dalam berkarya.

Adalah Anirudhya Mitra dan Rodney Vincent dari Seven Sunday Films selaku produser pun memberikan keleluasaan. Seven Sunday Films, rumah produksi yang telah menciptakan beberapa video komersil yang epik untuk beberapa brand besar, untuk pertama kalinya membuat film layar lebar. Hanung dipercaya menggarap The Gift dan memilih sejumlah nama untuk terlibat di dalamnya.

Mengapa pilih Reza sebagai pemain utama? “Saya ingin bekerja sama dengan orang yang mau diajak kerja sama, lebih seperti keluarga. Saya kenal Reza sejak lama,” ujar sutradara yang telah menggarap lebih dari 25 judul film layar lebar.

Suami Zaskia Adya Mecca itu bahkan mengaku sudah luar dalam mengenal bagaimana seorang Reza Rahadian dalam keseharian dan ketika berlakon.

Hanung mengaku selalu puas dengan akting Reza. Sebelum ‘Benyamin Biang Kerok’ keduanya pernah membesut Kartini, ? (Tanda Tanya), Perempuan Berkalung Sorban, dan lainnya.

Dalam ‘The Gift’ Reza berperan sebagai Harun, seorang tuna netra yang menutup diri dalam lingkungan. Kemudian ia bertemu seorang perempuan bernama Tiana (Ayushita) yang mengubah perspektifnya dalam kehidupan.

Demi memerankan karakter Harun dengan totalitas, Reza bahkan menghabiskan waktu bersama 9 tuna netra dan mempelajari segala hal dari mereka. Mulai dari kebiasaan sehari-hari hingga gerak bola mata mereka. “Film ini adalah obat kangen saya kepada Mas Hanung setelah melalui beberapa produksi,” ungkap aktor berusia 31 tahun ini.

Rencananya film ini akan tayang pada 24 Mei 2018, bertepatan dengan bulan Ramadhan. Akan stigma bahwa film yang tayang di bulan Ramadhan hanya akan menarik sedikit penonton, Hanung menampiknya. “Film bagus akan tetap menarik penonton,” ujarnya.

Pengambilan gambar dilakukan di dua tempat yaitu Yogyakarta dan Menara Pisa, Italia. Alur cerita The Gift, disebut Hanung, tak terduga. “Tonton sendiri,” tandasnya. (HG)