Skip to content

Honda Pamerkan Robot Cerdas di Ajang CES 2018

Hidupgaya – Honda memperkenalkan berbagai fungsi dan desain robot serta Artificial Intelligence (AI) di ajang International Consumer Electronics Show 2018 (CES) yang berlangsung  9-12 Januari 2018 di Las Vegas, Amerika Serikat.

Dikembangkan dengan konsep 3E (Empower, Experience, Empathy), display Honda tersebut ditampilkan untuk memaparkan visi dimana teknologi robot dan AI dapat membantu manusia dalam berbagai situasi.

Robot cerdas Honda 3E-A18 (dok. Honda)

“Kita telah memasuki era dimana robot akan menjadi esensial di keseharian kita, dan robot memiliki kemampuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia,” kata Presiden & CEO Honda R&D Yoshiyuki Matsumoto.

Prinsip 3E yang dianut dalam pembuatan robot konsep adalah bagian dari fokus utama Honda di CES 2018, yaitu robotika, mobilitas dan manajemen energi. Honda bertujuan meningkatkan aspek-aspek tersebut melalui kerjasama dengan rekan yang memiliki kesamaan visi dalam membangun teknologi.

Di CES 2018, Honda juga mendirikan booth Mobile Power Pack World yang menampilkan beragam alat bertenaga baterai yang dapat diganti dan diisi ulang, serta exchanger system yang memudahkan penyimpanan untuk suplai listrik berlebih.

3E – Empower
“Empower” menggambarkan sebuah konsep dimana robot dan manusia dapat bekerjasama dengan memperkuat kelebihan masing-masing. Honda mendemonstrasikan ide ini melalui 3E-D18, sebuah robot otonom dengan teknologi AI yang dilengkapi dengan drivetrain bertenaga listrik dan dapat membantu berbagai aktivitas manusia seperti Search and Rescue (SAR), pemadam kebakaran, konstruksi, agrikultur dan pekerjaan rumah tangga.

Selain itu, Honda juga menampilkan 3E-B18. Dengan perangkat tambahan, robot 3E-B18 dapat digunakan sebagai kereta barang. Ukuran yang kompak memungkinkan alat ini untuk melakukan navigasi di tempat sempit, dilengkapi dengan ketinggian kursi yang dapat diatur saat mengendarainya di jalan menanjak atau menurun.

3E – Experience
“Experience” menggambarkan sebuah ide dimana manusia dan robot dapat bertumbuh bersama melalui interaksi satu sama lain. Konsep ini didemonstrasikan kedalam robot 3E-C18, sebuah robot elektrik berukuran kecil yang dibuat sebagai platform mobile yang mendukung aktivitas manusia.

Platform yang dilengkapi AI dapat belajar dengan mengobservasi bagaimana orang-orang berinteraksi, serta beroperasi secara otonom. Sedangkan platform yang berbentuk kereta dapat berfungsi sebagai pembawa barang, yang dilengkapi sebuah kanopi dan memiliki fungsi setir.

3E – Empathy
“Empathy” menggambarkan konsep dimana robot dapat memiliki empati saat melakukan kegiatan bersama manusia. Untuk mewujudkan konsep ini, Honda telah mengaplikasikan AI ke dalam robot 3E-A18 yang dapat menjadi pemandu di beberapa tempat seperti bandara dan pusat perbelanjaan, serta memiliki kemampuan untuk memberikan informasi dan memiliki kepedulian terhadap kebutuhan individu dan kelompok melalui analisa terhadap ekspresi wajah dan lingkungan di sekitarnya.

Mobile Power Pack World
Pada pameran Mobile Power Pack World, Honda memaparkan bagaimana sumber energi terbarukan dapat diaplikasikan kedalam berbagai peralatan. Untuk menghindari kelebihan suplai listrik yang terbuang sia-sia, Honda menciptakan Honda Mobile Power Pack untuk menyimpan suplai listrik berlebih kedalam baterai portabel. Alat ini dapat diganti dan diisi ulang sehingga dapat digunakan sebagai sumber listrik untuk beragam situasi.

Setiap Honda Mobile Power Pack memiliki output sebesar 1 kWh atau lebih dan beberapa buah Power Pack dapat digunakan secara serentak sebagai sumber energi untuk kendaraan listrik berukuran kecil.

Selain itu, Honda menampilkan Mobile Power Pack Charge & Supply – Expandable Concept, yang dapat digunakan sebagai sumber listrik di dalam rumah yang mengakomodasi banyak alat elektronik. Mobile Power Pack dapat berkomunikasi dengan perangkat lain serta mengumpulkan data mengenai bagaimana alat tersebut digunakan, kemudian mengirimkan data tersebut ke perangkat lain saat sedang melakukan pengisian daya.

Robot cerdas Honda 3E-C18 (dok. Honda)

Selanjutnya, Honda menampilkan Honda Mobile Power Pack Exchanger Concept yang dapat ditempatkan di beberapa lokasi untuk menyuplai penggantian baterai bagi pengguna kendaraan listrik berukuran kecil, serta melakukan pengisian listrik ke dalam banyak unit Power Pack secara serentak. Selain itu, Exchangers dapat menjaga ketersediaan listrik dengan menyuplai listrik dari Power Pack kedalam jaringan stasiun saat permintaan listrik tinggi.

Honda juga menampilkan Honda Mobile Power Pack 4W-Vehicle Concept, sebuah kendaraan EV ramah lingkungan yang didesain dengan slot untuk dua Power Pack di setiap sisi. (HG)

Iklan

Honda Kokoh di Pasar SUV

Hidupgaya – Sepanjang tahun 2017, produk-produk Honda berhasil menguasai penjualan di beberapa segmen terbesar pasar otomotif Indonesia, yaitu segmen SUV, Hatchback dan City Car + LCGC 5 penumpang.

Sementara itu, Honda Brio Satya kembali menjadi produk terlaris Honda di tahun 2017 sekaligus mencatat peningkatan penjualan dibanding tahun sebelumnya.

Honda kokoh di posisi teratas penjualan produk-produk SUV di sepanjang tahun lalu melalui Honda HR-V, Honda BR-V dan Honda CR-V. Secara total, ketiga produk tersebut mengumpulkan penjualan sebesar 76.918 unit, atau sebesar 46,2% dari total market SUV (segmen LSUV + SUV) di Indonesia.

Honda HR-V 1.5 liter sendiri menjadi market leader di kelas LSUV dengan penjualan sebesar 33.386 unit dan pangsa pasar 36% di kelasnya. Dari kelas yang sama, Honda BR-V menyumbangkan penjualan 21.932 unit dengan pangsa pasar 24%.

Sementara itu, Honda CR-V mencatat penjualan 15.905 unit dengan pangsa pasar 22% di kelas SUV dan Honda HR-V 1.8 liter mengumpulkan penjualan 5.695 unit dan pangsa pasar 8% di kelas yang sama.

Marketing & After Sales Service Director PT Honda Prospect Motor Jonfis Fandy, mengatakan, secara umum, pasar di tahun 2017 mengalami sedikit pertumbuhan, terutama didorong oleh kenaikan penjualan di segmen komersial. Sementara itu, terjadi penurunan di segmen mobil penumpang, sehingga juga turut mempengaruhi penjualan produk-produk Honda yang berada di segmen ini. “Namun demikian, kami bersyukur bahwa penjualan produk-produk Honda tetap kuat di hampir seluruh segmen terbesar di pasar otomotif Indonesia,”  ujarnya.

Melalui Honda Jazz dan Honda Civic Hatchback, produk-produk Honda juga mencatat penjualan tertinggi di segmen Hatchback dengan total 17.574 unit, atau sebesar 52% dari seluruh penjualan Hatchback di tahun 2017. Honda Jazz menjadi market leader di segmen ini dengan total penjualan 16.100 unit dengan pangsa pasar 48%, sementara Honda Civic Hatchback menyumbangkan penjualan sebanyak 1.474 unit dengan pangsa pasar 4% di kelas yang sama.

Keluarga Honda Brio masih menjadi penyumbang penjualan tertinggi bagi Honda, sekaligus menguasai pasar mobil City Car + LCGC 5 penumpang di tahun 2017. Secara total Honda Brio Satya dan Honda Brio RS mengumpulkan penjualan sebesar 53.958 unit, atau sebesar 39,2% dari total penjualan City Car + LCGC 5 penumpang di Indonesia sepanjang tahun lalu.

Honda Brio Satya juga tercatat sebagai produk terlaris Honda di tahun 2017 dengan penjualan sebesar 43.378 unit dan pangsa pasar 18% di kelasnya. Tak hanya itu, penjualan Honda Brio Satya juga tercatat meningkat sebesar 19% dibandingkan penjualan di tahun sebelumnya. Dari kelas City Car, Honda Brio RS menyumbangkan penjualan 10.580 unit dengan pangsa pasar 33% di kelasnya.

Produk MPV Honda turut menyumbangkan penjualan yang baik di tahun 2017. Honda Mobilio meraih penjualan 35.430 unit dengan pangsa pasar 14% di kelas LMPV. Sementara Honda Odyssey menambah penjualan 282 unit dengan pangsa pasar 4% di kelas Upper MPV.

Dari kelas Sedan, Honda City menjadi market leader dengan penjualan 1.024 unit dan pangsa pasar 57% di kelas Mini Sedan. Posisi market leader juga diraih Honda Civic di kelas Small Sedan, dengan penjualan 1.321 unit dan pangsa pasar 65%. Sementara itu, Honda Accord mencatat penjualan 300 unit dengan pangsa pasar 10% di kelas Medium Sedan dan Honda Civic Type R menambah penjualan 52 unit dengan pangsa pasar 34% di kelas Sport.

Secara total, sebanyak 186.859 unit mobil Honda terjual sepanjang tahun 2017, dengan pangsa pasar Honda sebesar 17,3% dari total pasar otomotif Indonesia. (HG)

Wanita Jadi Motor Penggerak Utama Bisnis Penjualan Langsung

Hidupgaya – Dulu, penjualan langsung alias diret selling masih dipandang sebelah mata. “Kurang gengsi, karena nggak kerja kantoran…” Demikian alasan yang dilontarkan mengapa orang malas terlibat dalam bisnis ini. Padahal, bisnis penjualan langsung – khususnya di zaman cari kerja susah – menjanjikan pendapatan yang tidak sedikit.

Tahu nggak, data menunjukkan penjualan langsung adalah salah satu metode penjualan yang mengalami pertumbuhan beberapa tahun terakhir. World Federation of Direct Selling (WFDSA) merilis data penjualan langsung global per Juni 2017. Data menunjukkan penjualan ritel melalui metode langsung pada 2016 yang menunjukkan nilai transaksi penjualan global mencapai US$182,6 miliar atau meningkat 1,9% tahun 2015.

Di Indonesia, nilai transaksi penjualan langsung pada 2016 mencapai US$1,18 juta atau setara Rp15,75 triliun. Jumlah tersebut meningkat 10% ketimbang capaian tahun 2015 sebesar Rp 14,31 triliun dan naik 24% ketimbang catatan 2014 sebesar Rp12,68 triliun.

Pertumbuhan global tersebut didorong oleh peningkatan di Asia Pasifik sebesar 46%, Amerika 33%, Eropa 20% dan Timur Tengah dan Afrika 1%.

Chairman of WFDSA sekaligus CEO dan President of Oriflame Holdings Magnus Brannstrom mengungkapkan, saat ini dunia tengah mengalami transformasi, dimana transformasi digital akan turut mendorong penjualan langsung.

Disadari atau tidak, bisnis penjualan langsung membantu menggerakkan roda perekonomian negara dan memiliki kontribusi yang signifikan dalam menciptakan micro-entrepreurs.

Ketua Umum  Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) Djoko Hartanto Komara menambahkan, penjualan langsung domestik masih berpotensi mengalami pertumbuhan. Hal ini karena pasar Indonesia terus mengalami perkembangan didukung oleh SDM yang besar.

“Yang menarik, banyak perusahaan penjualan langsung baik lokal maupun asing untuk memperluas pasarnya di Indonesia. Selain memberikan pendapatan tambahan bagi para direct seller, penjualan langsung juga menyerap banyak tenaga kerja,” ujar Djoko dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini.

Djoko menambahkan, pertumbuhan penjualan langsung Indonesia saat ini nomor dua di dunia setelah China dengan angka 10,3%. China pertumbuhannya 12%.

Dengan pertumbuhan rata-rata 10% per tahun, Djoko optimistis nilai penjualan langsung di Indonesia mencapai sekitar Rp25 triliun pada 2021. “Angka ini dipicu oleh bonus demografi di Indonesia yang cukup tinggi. Lalu, perkembangan media sosial yang sangat pesat di Indonesia juga menjadi motor pertumbuhan penjualan langsung,” imbuhnya.

Magnus Branstorm setuju dengan Djoko. “Indonesia negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dunia saat ini. Dengan munculnya ecommerce selama ini meningkatkan pertumbuhannya. Industri direct selling mendukung pertumbuhan ekonomi negara, seperti Amerika saja 5 persen populasinya terkoneksi dengan direct selling,” ujarnya.

Hal yang menarik dari penjualan langsung yang disoroti Magnus adalah, sebanyak 74% penjual langsung dilakoni oleh perempuan.

Tumbuh pesatnya Internet akan berkontribusi pada bisnis penjualan langsung. Magnus mencontohkan, jika dulu para penjual langsung harus ‘ketok pintu’ dalam memperkenalkan produk, dengan media sosial mereka bisa merekomdasikan produk yang dijualnya lebih luas lagi. “Produk lebih dipercaya untuk dibeli jika direkomendasikan,” ujarnya.

Tak pelak lagi, kepercayaan menjadi kunci bisnis ini, tapi juga menjadi tantangan di bisnis ini. “Kami dari asosiasi tahun ini mendorong agar pelaku di bisnis ini lebih bangga, meningkatkan komunikasi dan edukasi serta menegaskan dijalankannya etika para direct seller dalam menjalankan bisnisnya,” pungkas Magnus. (HG)

Inilah Tren Kecantikan yang Bakal Diminati Konsumen Zaman Now

Hidupgaya – Untuk bisa tampil cantik, ada banyak cara. Jika dulu orang cukup ‘pasrah’ dengan bentuk wajah dari lahir, kini berkat kemajuan teknologi, wajah yang kurang sempurna pun bisa ‘diakali’ agar tampil lebih menawan.

Aplikasi ‘beauty’ di ponsel menjadi salah satu andalan untuk ‘menyulap’ tampilan menjadi lebih cantik saat diunggah di sosial media. Sayangnya, aplikasi ini tak begitu membantu manakala kita berkomunikasi dengan teknologi ‘video call’ yang menunjukkan wajah kita. Sejauh ini, belum ada aplikasi yang bisa ‘mempercantik’ tampilan saat menggunakan fasilitas video call.

Nah, menyiasati hal ini, industri estetika di Tanah Air tampaknya masih akan banjir peminat. Bukan sekadar bentuk wajah V mirip setrika yang diminati, namun diprediksi minat orang untuk tampil lebih cantik akan bergeser.

Seperti disinggung sebelumnya, media sosial saat ini tidak hanya sebatas foto saja. Fitur live video seperti Instagram Live menjadi tren yang sekarang ini banyak digunakan dan digandrungi oleh banyak orang. Melalui live video tersebut orang-orang bisa berbagi momen-momen unik mereka kepada orang lain untuk bisa terus eksis .

Kekurangan fitur live video saat ini adalah tidak menyediakan opsi editing karena proses pengambilan videonya bisa dari berbagai sudut secara realtime, dan bisa ditonton secara langsung oleh para pengguna media sosial. Beda banget dengan foto selfie yang bisa diedit demi tampilan lebih cantik saat ditampilkan di media sosial.

Untuk bisa terus berbagi momen maupun pengalaman lewat media sosial dengan mempunyai tampilan wajah sempurna saat live video yang diambil dari berbagai angle, membuat orang-orang lebih peduli dengan kontur wajah mereka secara keseluruhan.

Menurut Founder & Presiden Direktur Miracle Aesthetic Clinic Group Lanny Juniarti Dipl.AAAM, belakangan ini masyarakat mendambakan lebih dari sekadar bentuk wajah V. “Terjadi pergeseran minat. Belakangan konsumen menginginkan tampilan dan kontur wajah seseorang menjadi lebih ideal secara keseluruhan,” kata Lanny dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini. Hal itulah yang mendasari terjadinya tren ‘reshape-relift-contouring’ pada  industri estetika di tahun ini.

Reshape merupakan prosedur membentuk kembali struktur wajah sehingga menjadi lebih ideal, terutama wajah bagian bawah agar terlihat lebih berbentuk V. Relift merupakan tindakan yang bertujuan untuk mengencangkan/mengangkat kembali kulit kendur terutama di wajah bagian bawah yang tampilan garis rahangnya tidak sempurna. Sedangkan Contouring merupakan langkah pembentukan wajah untuk mengembalikan bentuk ideal dan proporsional antarasetiap segmen agar terlihat sempurna secara 3 dimensi.

Lanny menambahkan, konsumen mendambakan prosedur kecantikan yang tanpa melibatkan pisau bedah. Menjawab kebutuhan konsumen saat ini, kata Lanny, Miracle Aesthetic Clinic menyediakan perawatan unggulan untuk treatment “Reshape, Relift dan Contouring”. “Ini prosedur non invasive (tanpa operasi) yang bertujuan membantu orang-orang mendapatkan tampilan dan kontur wajah ideal yang dilihat dari berbagai angle,” ujarnya.

Perawatan tersebut mencakup Miracle Radiesse Filler, Miracle Aptos Excellence Total Lift yaitu perawatan dengan tanam benang terbaru dari Miracle, juga Miracle Botox Cosmetic yang pasti aman dan hasilnya efektif.

Prosedur perawatan kecantikan, kata Lanny, diminati beragam kalangan. Mulai anak-anak muda generasi Milenial hingga usia yang lebih tua.  “Untuk mereka yang di bawah usia 17 tahun jika ingin melakukan terapi estetik harus mendapat persetujuan orangtua. Tanpa itu, kami tak bisa melakukannya,” ujarnya.

Terdapat pula 4 jenis tipe wajah untuk treatment “Reshape Relift Contouring” yaitu  Positive Ageing, Transformation, Beautification dan Correction.

1.Positive Ageing, merupakan tipe orang yang ingin mengatasi masalah penuaan, membuat tampilan wajah lebih muda terutama untuk mengatasi kehilangan volume pada wajah, menghilangkan kerutan atau mengencangkan kulit.

2. Transformation, yakni tipe orang yang ingin menyempurnakan bentuk wajahnya, misalnya yang terlihat chubby menjadi lebih tirus dan lebih ideal.

3. Beautyfication, diperuntukan bagi orang yang ingin terlihat lebih cantik dan bentuk wajahnya lebih proporsional.

4. Correction, yaitu orang yang bentuk wajahnya kurang simetris, sehingga melakukan perawatan agar kontur wajahnya menjadi lebih ideal. (HG)

Industri Estetika Tanah Air Akan Berkibar, Ini Alasannya

Hidupgaya – Industri ritel mungkin boleh dibilang berdarah-darah. Namun industri estetika tampaknya pamornya tetap naik, dan malah makin moncer.

Perkembangan industri estetika Indonesia tahun ini diperkirakan masih akan berkilau di tengah beragam gejolak perekonomian dengan melemahnya ritel yang terjadi saat ini.

Menurut Deputy CEO Markplus Jacky Mussry, industri estetika di Indonesia masih akan mendapatkan animo tinggi. Dia mengatakan, pendapatan masyarakat Indonesia secara umum mengalami peningkatan sepanjang 2017.

Sayangnya, momen ini tidak diikuti oleh pertumbuhan pengeluaran masyarakat yang berimbas pada turunnya industri ritel. Akibatnya, banyak toko yang gulung tikar, bahkan melibatkan jaringan toko besar akibat sepi pembeli.

Jacky menambahkan, belakangan terjadi perubahan perilaku konsumen. “Konsumen saat ini lebih mementingkan produk yang dapat menunjang lifestyle mereka. Inilah salah satu hal yang menyebabkan terjadinya kenaikan double digit di industri kecantikan di tengah melemahnya industri ritel,” kata dia dalam acara “Aesthetic Outlook 2018 – Reshape, Relift, Contouring” yang digelar Miracle Aesthetic Clinic dan Markplus di Jakarta, baru-baru ini.

Konsumen kini mencari pengakuan sosial dan pribadi. Atas alasan inilah Jacky menyarankan, pemain di industri kecantikan hendaknya mengubah konsep pemikiran dari ‘beauty’ menjadi ‘beYOUty’, di mana penekanan pendekatan di industri kecantikan adalah pada sisi sudut pandang dan harapan konsumen.

Lebih lanjut Jacky menambahkan, agar mampu bersaing dan berkembang, pemain di industri kecantikan haruslah melakukan dua hal, yaitu meningkatkan attraction dan curiosity. Dua hal itu dicapai dengan melakukan pendekatan human spirit dan digitalization.

“Pendekatan human spirit dilakukan untuk memberikan fokus kepada manusianya. Sementara itu, di era yang tanpa batas ini, digitalization haruslah menjadi salah satu pendekatan pemain industri kecantikan untuk memenangkan pasar,” ujarnya.

Tak bisa dimungkiri, tren di industri kecantikan saat ini dipengaruhi digitalisasi maupun internet yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Ini ditunjang oleh penggunaan media sosial terus meningkat dari tahun ke tahun. Apalagi diiringi dengan perubahan perilaku masyarakat yang mengarah pada gaya hidup.

Jacky membeberkan, saat ini masyarakat cenderung lebih suka membelanjakan uangnya untuk merasakan berbagai pengalaman baru daripada membeli berbagai macam barang. “Gaya hidup seperti berlibur, mengunjungi restoran terbaru, ataupun pergi menonton konser menjadi tren masa kini. Experience yang mereka alami Ini diperlihatkan atau dipamerkan melalui media sosial,” pungkasnya. (HG)

Kain Indonesia Mengundang Decak Kagum di Milan

Hidupgaya – Indonesia Cultural Fashion Goes to Milan telah berlangsung di Base Milano, Milan, Italia, 19 Desember 2017. Base Milano merupakan salah satu wilayah distric fashion yang sangat terkenal di Milan, Italia.

Empat desainer Indonesia, yaitu Elemwe by Lily Mariasari, Tyramona by Decy Ramona, Territory by Terry Putri dan Alkhansas by Khansa unjuk karya di perhelatan yang mempromosikan kain-kain Nusantara.

Turut hadir dalam perhelatan tersebut Duta Besar Indonesia untuk Italia Esti Andayani dan perwakilan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Milan. “Kalau lihat karya-karyanya (desainer Indonesia) memang sudah pantas untuk ditampilkan,” kata Esti.

Indonesia Cultural Fashion pertama kali digelar di Amsterdam, Belanda. Tahun ini ada nuansa berbeda, berupa suguhan kolaborasi Guitar Meet Kendang oleh gitaris ternama Indonesia, Tohpati di awal acara.  Beberapa lagu yang dibawakan antara lain Janger, Es Lilin, Kampuang Nan Jauh di Mato, dan Ksatria.

Desainer yang tampil di ICF ini menampilkan sejumlah karya, yaitu:

Brand Territory by Terry Puteri

Tema yang akan disajikan adalah Territory of Borneo, yakni busana wanita modern, dengan sentuhan kain khas Banjarmasin yakni sasirangan. Material lain yang digunakan adalah sifon, cotton, dan silk.

“Ini adalah kali pertama Territory mengikuti fashion show di Italia, sebagai kota pusat mode dunia maka pencapaian ini akan menjadi sangat istimewa,” ujar Terry dalam temu media di Jakarta, beberapa hari sebelum perhelatan berlangsung.

Tyramona

Tema motif yang akan diperkenalakan adalah  dari Toraja Pak Tedong, dimana tedong bonga adalah paling berharga bagi masyarakat toraja dan memiliki harga yang terbilang paling mahal. Dengan memakai Motif Pak Tedong ini membuat kehidupan derajat yang tinggi dan di hormati. Material bahan yang digunakan biasanya bahan micro, shantung, dan balloteli.

Elemwe (Batik Betawi)

Kali ini, Elemwe akan mengangkat tema Pesona Jakarta, empat desain ini terdiri dari batik betawi dengan paduan bahan polos. Kain dengan motif seni budaya Betawi, Tanjidor yaitu salah satu kesenian Betawi tempo dulu.

Kain dibuat dengan warna sogan yang menggunakan tiga jenis bahan katun, doby dan sutra ini menggunakan metode pembuatan tradisional dengan cara dilukis langsung oleh penrajin (batik tulis) sehingga hasilnya sangat rapi dan jelas apa yang dilukiskan pada kain tersebut.

Agar busana menjadi  terlihat lebih elegan maka digunakanlah bahan-bahan polos campuran dengan tambahan aksen payet.

Alkhansas

Tema yang dibawakan terinspirasi dari keanekaragaman dan kekayaan Indonesia. Dalam koleksi ini, Alkhansas memadupadankan kain tradisional Indonesia dengan beberapa motif seperti batik dari Cirebon, hingga batik motif Kapal Pinisi dan huruf Lontara dari Bugis, Makassar.

Nilai-nilai yang menjadi ciri khas Indonesia pun diekspresikan dalam beberapa pakaian denga  warna merah menyala tanda keberanian.

Selain pemilihan warna dan motif kain seperti batik dan huruf lontara, nilai intrinsik yang menjunjung nilai  budaya Indonesiaan seperti keberagaman coba disuguhkan dalam satu koleksi singkat, serta variasi jenis material, siluet, dan color palette. (HG)

 

Generasi X Lebih Bahagia Ketimbang Milenial

Hidupgaya – Dibandingkan dengan Generasi Milenial, Generasi X ternyata lebih bersyukur atas apa yang mereka punya sepanjang 2017.

Tidak mengehrankan jika sepanjang tahun 2017 Gen X  merasa sangat bahagia karena alasan keluarga, kesehatan, juga ekonomi. Mereka juga memiliki harapan-harapan baru di tahun 2018 dan kesempatan berjalan-jalan.

Generasi Milenial sibuk dengan gadgetnya

Menurut Iwan Murty, CEO MISI (Merdi Intar Sinau), professional development center yang juga praktisi marketing, pencinta riset pasar dan perilaku konsumen, dengan perbedaaan lifestage maka kelihatan perbedaan prioritas dalam hidup. “Gen-X terlihat lebih memprioritaskan ketenangan hidup seperti keluarga yang tentram, kesehatan yang baik.  Sedangkan Millenial, terutama Millenial Muda, masih harus berlomba untuk memulai ‘kehidupan’ mereka yaitu mendapatkan pekerjaan, meniti karir, mendapatkan jodoh dan membangun keluarga,” ujar Iwan.

Survei ini mengumpulkan data dalam periode 5 – 15 Desember 2017 dengan jumlah responden sebanyak 8.066 berumur dari 15 – 55 tahun.   Responden didapat dari panel Snapcart yang sekarang ini berjumlah lebih dari 800.000 orang secara online hingga data sebanyak ini terkumpul dengan cepat hanya dalam hitungan hari.

Millenial didefinisikan sebagai orang-orang yang berumur 18 – 35 tahun (lahir di awal tahun 80an).  Dikarenakan rentang umur yang luas dari 18 – 35 tahun, maka generasi ini dibagi lagi menjadi Millenial Muda (18 – 25 tahun) dan Milenial Dewasa (26 – 35 tahun).

Sedangkan Gen-X didefinisikan dengan umur 36 ke atas.  Studi ini diadakan di beberapa kota di Indonesia antara lain Jabodetabek, Medan, Surabaya, Bandung, Semarang, Palembang dan kota lainnya di Indonesia.

 Dalam penelitiannya, Iwan Murty menemukan bahwa 1/3 dari penduduk Indonesia berusia 15 – 55 tahun mengatakan sangat bahagia dan ternyata Gen-X merasa lebih bahagia dibandingkan dengan Millenial.

Bagi mereka yang mengatakan sangat bahagia, separuhnya mengatakan mereka sangat bahagia karena keluarga / keberadaan keluarga mereka (49%).  Selebihnya ada yang mengatakan karena kesehatan mereka (12%), kondisi ekonomi yang lebih baik (11%), mempunyai pengharapan yang baik untuk tahun baru (11%) dan dapat refreshing / berjalan-jalan (8%).

Secara keseluruhan hanya 31% dari Millenials yang mengatakan sangat bahagia dibandingkan 37% dari Gen-X.  Hasil ini sangat signifikan secara statistik dikarenakan jumlah sample yang sangat besar (n=6,775 Millenial dan n=1,073 Gen-X).

Temuan lainnya yang menarik adalah Gen-Z, yaitu mereka yang lahir di tahun 2000 ke atas, ternyata tingkat kebahagian mereka lebih rendah lagi.  Kemungkinan karena bagi mereka tekanan untuk belajar dan perasaan ketidakpastian akan masa depan mereka lebih besar dibandingkan dengan generasi lainnya. (HG)