Hidupgaya.co – Desainer Prancis dan Indonesia yang terlibat dalam program PINTU Residency menampilkan karya kolaborasi di JF3 Fashion Festival 2026.

Mickael Nana dan Beatrice Angelica mempersembahkan koleksi GARUDA, sedangkan Lisa Rayar dan Gabriel Marcella sajikan koleksi Au Large di panggung runway yang berlangsung di Fashion Tent La Piazza Summarecon Kelapa Gading, 23 Juli silam.

Masuk tahun kedua, PINTU Residency mempertemukan dua desainer Indonesia dan dua desainer Prancis dalam program residensi selama empat bulan.

Dibuat sebagai bagian dari program PINTU Residency, sebuah inisiatif dari lembaga Prancis di Indonesia dan merek Lakon Indonesia karya Thresia Mareta, proyek ini mencerminkan dialog antara fashion Indonesia dan Prancis melalui keahlian, gaya, dan pertukaran budaya.

Lebih dari sekadar menghasilkan koleksi, PINTU Residency membangun ruang dialog antara desainer, artisan, material, teknik, dan latar budaya yang berbeda.

GARUDA, koleksi kolaborasi Michael ‘Marlon’ Nana dan Beatrice Angelica tampkl perdana di JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Kolaborasi ini menjadi upaya untuk menciptakan proses kreatif yang setara, relevan, dan memiliki nilai jangka panjang bagi seluruh pihak yang terlibat.

Berlangsung sejak April hingga Juli 2026, para peserta menjalani proses riset bersama, mengeksplorasi teknik tekstil tradisional, bekerja langsung dengan komunitas artisan, serta mengembangkan koleksi melalui pertukaran pengetahuan dan budaya.

GARUDA, persatuan dalam keberagaman

GARUDA adalah koleksi kolaborasi yang dikembangkan oleh desainer Indonesia, Beatrice Angelica, pendiri NOEN, dan desainer Perancis Michael ‘Marlon’ Nana, pendiri Marlon Nana.

GARUDA, koleksi kolaborasi Michael ‘Marlon’ Nana dan Beatrice Angelica tampkl perdana di JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Terinspirasi oleh lambang nasional Indonesia, GARUDA melambangkan kekuatan, perlindungan, dan keterbukaan sekaligus mewujudkan identitas kreatif bersama. Melalui koleksi ini, Mickael dan Beatrice mewujudkan perpaduan ini dengan merayakan jargon Bhinneka Tunggal Ika (persatuan dalam keberagaman).

Koleksi ini mengeksplorasi perpaduan antara warisan tekstil Indonesia dan penjahitan Barat. Kedua desainer menunjukkan bagaimana tradisi yang berbeda dapat hidup berdampingan dan saling memperkaya, menciptakan lemari pakaian kontemporer yang berakar pada rasa hormat, pertukaran, dan inovasi.

Terinspirasi oleh foto-foto arsip dari akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di Indonesia yang mengungkap tradisi busana lokal dan pengaruh Eropa hidup berdampingan secara alami, kedua desainer menggunakan teknik draping tradisional, siluet yang dililit, dan tekstil buatan tangan ditafsirkan ulang melalui lensa kontemporer.

Inspirasi tambahan datang dari para seniman seperti Lenny Kravitz, Erykah Badu, dan Lauryn Hill, yang gaya pribadinya menggabungkan kode-kode Barat dengan warisan budaya.

Penjahitan Eropa dari tahun 1970-an dan 1980-an memberikan struktur arsitektural pada pakaian, sementara keahlian Indonesia menghadirkan fluiditas dan kedalaman budaya. Dengan kata lain, GARUDA merayakan mode sebagai bahasa dialog di mana warisan berkembang tanpa kehilangan identitasnya

Koleksi yang ditampilkan di ajang runway JF3 terdiri dari sepuluh busana siap pakai, berupa pakaian wanita dan pria. karya kolaborasi ini menghadirkan potongan yang tegas dengan bahu lebar, jaket berstruktur, dan celana panjang berpotongan lebar diimbangi oleh pakaian berpotongan longgar yang terinspirasi oleh tradisi busana Indonesia.

Tiga tekstil tenun tangan eksklusif dikembangkan bersama para perajin wanita Lombok menggunakan teknik tradisional. Kain ditenun dari katun dengan pewarna alami, menampilkan motif Garuda khusus yang diperindah dengan sulaman beludru.

GARUDA, koleksi kolaborasi Michael ‘Marlon’ Nana dan Beatrice Angelica tampkl perdana di JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Kain-kain untuk menjahit, denim, beludru, tekstil tenun, dan pakaian luar teknis digabungkan untuk menciptakan tekstur yang kaya, siluet yang berstruktur, dan interpretasi kontemporer dari kerajinan tradisional.

Keberlanjutan menjadi inti dari proyek ini melalui kerja sama erat dengan para perajin lokal dan pelestarian teknik tenun tradisional. Koleksi ini mendukung kerajinan tangan Indonesia dengan mengembangkan tekstil eksklusif yang ditenun dengan tangan di Lombok menggunakan pewarna alami, mendorong pewarisan pengetahuan leluhur sekaligus menciptakan peluang baru bagi komunitas perajin.

Proyek ini juga melibatkan perajin yang berbasis di Jakarta yang ahli dalam pembuatan manik-manik dan kerajinan rantai besi, termasuk Lului Studio. Lidya Yuniaty Nainggolan, yang menciptakan potongan-potongan rantai manik-manik, dan Zab’a Craft oleh Chici Fitria, yang memproduksi jaket rajut.

Au Large, dialog antara dua budaya maritim

Di Mojokerto, Jawa Timur, desainer Prancis Lisa Rayar dan Gabriel Marcella, perancang busana Indonesia, mengembangkan koleksi Au Large. Terinspirasi oleh tradisi maritim Prancis dan budaya pesisir Jawa, koleksi ini mempertemukan batik, struktur tailoring, dan referensi seragam dalam siluet kontemporer

Au Large merupakan hasil dari dialog antarbudaya antara dua desainer yang dipertemukan oleh minat yang sama terhadap keahlian kerajinan tekstil, pertukaran budaya, dan mode kontemporer.

Au Large, karya kolaborasi Lisa Rayar dan Gabriel Marcella tampil perdana di JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

“Laut sering dipandang sebagai batas. Melalui Au Large, kami ingin menunjukkan bahwa laut juga bisa menjadi tempat pertemuan, di mana keahlian kerajinan, tradisi, dan gestur yang sama menghubungkan orang-orang lintas budaya,” cetus Lisa Rayar dan Gabriel Marcella.

Yang menjadikan koleksi ini terasa spesial, kedua desainer berhasil mengungkap bahasa maritim bersama yang telah terbentuk melalui gerak-gerik, keahlian kerajinan, dan ikatan yang mendalam dengan laut.

Memiliki makna ‘lepas pantai’ dalam bahasa Prancis, Au Large mengeksplorasi hubungan antara tradisi maritim Prancis dan Indonesia.

Koleksi ini menjalin dialog antara dunia pelaut Prancis dan komunitas pesisir Jawa Utara, terinspirasi oleh penelitian Gabriel Marcella mengenai Sedekah Laut, upacara tradisional Jawa yang mengungkapkan rasa syukur dan penghormatan kepada laut.

Hadirkan 12 tampilan yang memadukan ciri khas pakaian kerja maritim Prancis dengan keahlian kerajinan tekstil Indonesia, koleksi mewujud pada pakaian terstruktur berpadu dengan draperi yang mengalir dan siluet oversized, menciptakan busana yang berada di antara perlindungan, fungsionalitas, dan keanggunan.

Tali-tali menjadi elemen desain struktural, kain yang terdraperi mengingatkan pada layar yang terbawa angin, sementara konstruksi berlapis-lapis mengingatkan pada jaring ikan dan perlengkapan maritim.

Palet bahan memadukan batik buatan tangan, denim, katun, kain teknis ringan, rajutan rib, kain jas bergaris, jaring bersulam dengan motif terinspirasi batik yang menafsirkan ulang tato simbolis para pelaut Prancis, tekstil keemasan berkilau yang terinspirasi oleh pantulan matahari terbenam di laut, serta kain transparan berwarna-warni dalam nuansa biru yang menangkap gerakan dan kedalaman lautan.

Au Large, karya kolaborasi Lisa Rayar dan Gabriel Marcella tampil perdana di JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Salah satu inovasi utama koleksi ini adalah penciptaan motif batik orisinal, yang dikembangkan secara khusus untuk proyek ini dengan menggabungkan motif kotak-kotak/sarung yang terinspirasi tartan Indonesia dengan garis-garis maritim Prancis yang ikonik melalui teknik sablon batik yang inovatif.

Pola baru ini mencerminkan perpaduan dua identitas tekstil sekaligus mempertahankan keaslian keahlian kerajinan batik.

AU LARGE mengedepankan pendekatan yang penuh pertimbangan terhadap dunia mode dengan bekerja sama erat bersama para perajin batik Indonesia, mengutamakan keahlian kerajinan tangan daripada produksi massal. Setiap kain batik dibuat secara manual satu per satu, sehingga setiap potongannya menjadi unik.

Sepanjang proses desain, perhatian khusus diberikan pada efisiensi penggunaan kain, memanfaatkan sisa potongan kain untuk pakaian tambahan dan detail desain, sehingga mengurangi limbah dan mendorong penggunaan bahan yang lebih bertanggung jawab. (HG)