Hidupgaya.co – Bakti Indonesia bukan sekadar kegiatan sosial tahunan, melainkan ikhtiar demi menjaga sebuah janji kebangsaan. Tahun ini, perjalanan itu mencapai Kelenteng Agung Sam Poo Kong di Semarang, sebuah tempat yang sejak awal kelahirannya telah mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk berpisah, tetapi kesempatan untuk saling mendekat.

Acara yang berlangsung 6-8 Agustus dihadiri sejumlah figur publik, seperti Aldi Taher, Fatur, Paramitha Rusady, Sania, dan Lucky Resha yang datang dengan sukarela untuk ikut memeriahkan perhelatan ini.

Lebih dari enam abad lalu, Laksamana Cheng Ho, seorang Muslim dari Tiongkok, singgah di tempat ini. Dari persinggahan sederhana itu lahir sebuah ruang yang hingga kini dihormati umat Konghucu, Buddha, dan Tao.

Sejarah Kelenteng Agung Sam Poo Kong menjadi bukti bahwa identitas yang berbeda dapat hidup dalam penghormatan yang sama.

Cek kesehatan gratis Bakti Indonesia yang digelar di Kelenteng Agung Sam Poo Kong Semarang (dok. Ist)

“Bagi kami, Kelenteng Agung Sam Poo Kong bukan hanya situs sejarah, tempat ini gambaran metafora Indonesia. Di sini kita belajar bahwa manusia boleh berbeda keyakinan, tetapi tetap bertemu dalam kebaikan,” terang Mulia Jayaputri, penggagas Bakti Indonesia.

Pesan itu kian penting di zaman ketika perbedaan sering disalahpahami. “Semangat itulah yang menjadi fondasi Bakti Indonesia,” imbuh Mulia.

Gerakan ini dibangun di atas tiga nilai utama: merawat cinta Tanah Air, menghadirkan aksi kemanusiaan, dan menjaga keberagaman sebagai kekayaan bangsa.

Gelaran acara sengaja dilakukan setiap Agustus, bertepatan dengan bulan peringatan kemerdekaan Indonesia. “Bagi Bakti Indonesia kemerdekaan bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi memastikan bahwa manfaatnya dapat dirasakan masyarakat hingga hari ini,” beber Mulia.

Layanan kemanusiaan, cek kesehatan gratis hingga konsultasi psikologi

Warga sekitar dapat menikmati layanan gratis kesehatan, konsultasi psikologi, serta mendengarkan aneka gelar wicara mengenai kesehatan dan psikologi yang dapat mengedukasi masyarakat.

“Kami berharap pelayanan yang diterima masyarakat selama Bakti Indonesia membawa dampak kesadaran untuk merawat sesama. Menumbuhkan budaya tanggung jawab antarmanusia, karena kebersamaan akan hidup apabila diwujudkan dalam tindakan nyata,” tandas Mulia.

Mulia Jayaputri, penggagas Bakti Indonesia (dok. ist)

Aksi kemausiaan ini didukung oleh ratusan tenaga medis yang mengerahkan layanan pemeriksaan.

Tersedia layanan pemeriksaan darah, rekam jantung, mata, gigi, tes laboratorium, deteksi kanker hingga pembagian ribuan paket vitamin guna memastikan dampak kesehatan yang berkelanjutan.

“Kolaborasi serta dukungan lintas sektor yang kian meluas menjadi hal yang menggembirakan,” ujar Jovita Navy Setyawati, ketua pelaksana Bakti Indonesia.

Dia menekankan, merawat keberagaman tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab satu agama, satu organisasi, atau satu kelompok saja, melainkan sebagai iktiar bersama untuk menjaga Indonesia tetap satu.

Acara ini didukung Siloam International (LIPPO Group), Pertamina Hulu Energi, Bank Mandiri, dan Yayasan Rafi dan Ramy. (HG)