Hidupgaya.co – Wakil Menteri Kesehatan Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, mengungkap hasil pemeriksaan menunjukkan 4 dari 10 anak Indonesia punya masalah gigi berlubang. Situasi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari anak.
Kabar baiknya, pemeriksaan gigi sudah masuk ke dalam program Cek Kesehatan Gratis, dan pemeriksaan ini harus diikuti oleh semua anak sekolah.
Namun demikian, Prof. Dante mendorong pemeriksaan gigi tidak melulu lewat Cek Kesehatan Gratis. “Waktu untuk memeriksakan gigi yang baik adalah bukan ketika kita menderita sakit gigi, tetapi sebaiknya dilakukan secara rutin setiap enam bulan,” ujarnya di sela acara Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026 di Jakarta, baru-baru ini.
“Maka saya minta, karena di sekolah ada UKS, anak-anak yang bertugas di UKS ini bisa menjadi ‘detektif gigi berlubang’ supaya mereka dapat membantu mengenali tanda-tanda gigi bermasalah pada teman-temannya.”
Wamen menambahkan, nantinya semua sekolah bisa rutin dilakukan pemeriksaan gigi, baik oleh Kementerian Kesehatan, Suku Dinas Kesehatan, maupun oleh anak-anak itu sendiri.
“Semoga dengan upaya-upaya tersebut kesehatan gigi masa depan lebih baik, karena masalah gigi bukan hanya masalah kesehatan di dalam mulut saja, tapi juga berkaitan dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan,” bebernya seraya nencontohkan penyakit di katup jantung yang disebabkan oleh kuman Streptococcus beta-hemolyticus grup A yang ada di dalam gigi berlubang.
Dia berharap Bulan Kesehatan Gigi Nasional bisa menjadi momentum bagi kita untuk lebih peduli terhadap kesehatan gigi.
“Mudah-mudahan kita bisa melahirkan generasi-generasi hebat yang kesehatannya terjaga mulai dari sekarang, salah satunya melalui upaya menjaga kesehatan gigi mereka,” tandas Prof. Dante.
Perlindungan dimulai dari keseimbangan mikrobioma mulut
Masih banyak mispersepsi tentang kondisi gigi dan mulut yang sehat, yang akhirnya menempatkan masyarakat pada posisi yang lebih rentan untuk mengalami berbagai permasalahan gigi dan mulut.
Terkait gaya hidup masyarakat Indonesia, tercatat 47,5% mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali dalam sehari, dan meskipun 95,6% masyarakat menyikat gigi setiap hari, hanya 6,2% yang melakukannya di waktu yang tepat.
Bahkan saat mengalami masalah gigi dan mulut, hanya 11,2% masyarakat yang mencari tenaga medis gigi dalam satu tahun.

Berbagai faktor ini antara lain menyebabkan 57% penduduk Indonesia usia 3 tahun ke atas masih mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut.
Untuk itu, dibutuhkan pemahaman lebih dalam mengenai kesehatan gigi dan mulut, khususnya pentingnya keseimbangan mikrobioma mulut.
Prof. drg. Suryono, Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI) menerangkan rongga mulut merupakan komunitas mikroba terbesar kedua dalam tubuh manusia dan memiliki ekosistem yang dihuni oleh lebih dari 700 spesies mikroorganisme yang disebut sebagai mikrobioma mulut.
“Layaknya pada usus, microbiome mulut terdiri dari bakteri baik dan bakteri yang berpotensi merugikan. Maka, seiring berkembangnya ilmu kesehatan gigi dan mulut, tujuan perawatan yang lebih tepat bukanlah menghilangkan sebanyak mungkin bakteri, melainkan menjaga keseimbangan microbiome mulut,” terangnya.
Pasalnya, ketika keseimbangannya terganggu atau mengalami disbiosis, bakteri merugikan dapat berkembang lebih dominan dan memicu berbagai permasalahan gigi dan mulut.
Masalah tersebut misalnya seperti pembentukan plak. Ketika plak terus terakumulasi dan lingkungan di dalamnya berubah, hal itu dapat menguntungkan kelompok bakteri tertentu.
Pada gigi berlubang, konsumsi gula yang terlalu sering dapat membuat bakteri menghasilkan asam secara berulang, sehingga lingkungan rongga mulut menjadi semakin asam dan menyebabkan demineralisasi enamel hingga akhirnya terbentuk karies.
Perubahan komunitas bakteri di sekitar garis gusi juga dapat memicu respons peradangan tubuh sehingga menimbulkan radang gusi, baik itu gingivitis hingga periodontitis.
Selain itu, masalah bau mulut pun berkaitan dengan aktivitas bakteri yang memecah berbagai substrat di rongga mulut dan menghasilkan senyawa sulfur volatil yang memiliki aroma tidak sedap.
Jaga keseimbangan mikrobioma mulut
Agar terhindar dari masalah-masalah tersebut, Dr. drg. A. Tajrin, Ketua Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMPI) menyampaikan menjaga keseimbangan mikrobioma mulut dapat dilakukan dengan berbagai cara.
“Menjaga kebersihan gigi dan mulut melalui perawatan yang tepat, membatasi konsumsi gula, memperbanyak makanan bergizi dan kaya serat serta mencukupi kebutuhan cairan untuk mendukung produksi dan fungsi air liur sebagai pertahanan alami rongga mulut, menghindari rokok, mengelola stres dan mencukupi waktu tidur,” terangnya.
Tidak kalah penting, rutin konsultasi ke dokter gigi setidaknya enam bulan sekali agar berbagai permasalahan yang dapat mengganggu keseimbangan miktobioma mulut dapat dideteksi dan ditangani sejak dini.
Tahun ini BKGN 2026 berfokus mengedepankan pentingnya menjaga keseimbangan mikrobioma mulut dan diresmikan melalui kegiatan edukasi serta pemeriksaan gigi bagi siswa-siswi SDN Menteng 01 Jakarta.
Selanjutnya, program ini akan digelar selama Oktober – Desember 2026 di Fakultas Kedokteran Gigi dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan di berbagai wilayah Indonesia.
BKGN merupakan cikal bakal dari peringatan Hari Kesehatan Gigi Nasional (HKGN) yang diperingati setiap 12 September. Selama 17 kali pelaksanaan, BKGN terus berkembang mengikuti dinamika kebutuhan masyarakat dan perkembangan sains terkini.
“Di BKGN 2026, kami ingin mengangkat paradigma baru mengenai pentingnya perlindungan ekstra dalam merawat kesehatan gigi dan mulut, yaitu dengan menjaga keseimbangan microbiome mulut sebagai awal dari kesehatan gigi dan mulut secara menyeluruh,” kata drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc., Personal Care Community Lead Unilever Indonesia.
Sejalan dengan fokus edukasi BKGN 2026 mengenai mikrbioma mulut, Pepsodent menghadirkan Pepsodent Pro.Care, pasta gigi pertama dari Pepsodent dengan teknologi Microbiome Active yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun oleh para ilmuwan dari berbagai belahan dunia.
Teknologi ini memanfaatkan One Trillion Active Ions untuk menekan pertumbuhan bakteri yang merugikan sekaligus mendukung pertumbuhan bakteri baik agar keseimbangan microbiome mulut tetap terjaga.
Melalui mekanisme yang menyerupai cara kerja prebiotik, teknologi ini mampu memperkuat pertahanan alami rongga mulut sehingga membantu memberikan perlindungan ekstra pada kesehatan gigi dan mulut secara lebih menyeluruh.
Teknologi Microbiome Active telah teruji secara klinis dan dirancang untuk memberikan perlindungan hingga 24 jam. (HG)