Hidupgaya.co – Area laundry, sudut penyimpanan, dan ruang utilitas justru menjadi bagian dari aktivitas yang paling sering dilakukan di rumah, tetapi penataan dan desainnya jarang dipikirkan secara matang seperti ruang lainnya. Hanya sekadar ada, sehingga malah kerap terlupakan penataannya.
“Dari kunjungan kami ke berbagai rumah, kami melihat bahwa masyarakat sebenarnya sudah punya cara sendiri untuk mengatur rumah. Namun, dari situ kami juga bisa melihat bagian-bagian yang masih terasa merepotkan, misalnya ketika seseorang harus bolak-balik mengambil barang, memindahkannya, atau mencari tempat untuk menyimpannya,” ujar Ruth Panjaitan, Home Furnishing & Competence Development Leader IKEA Indonesia.
Dari situ diketahui bahwa penataan rumah bukan hanya soal tempat untuk menyimpan barang, tetapi juga tentang bagaimana ruang tersebut dapat membantu orang melakukan aktivitasnya.
Pengamatan melalui Home Visit IKEA, bersama dengan wawasan dari Life at Home report, menjadi bagian dari cara IKEA memahami kehidupan di rumah.
Pendekatan ini sejalan dengan visi IKEA untuk menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik bagi banyak orang. Karena setiap rumah pada akhirnya memiliki kebiasaan yang berbeda, maka penataan ruang dapat dimulai dari bagaimana aktivitas di dalamnya dilakukan agar terasa lebih mudah.
Melalui The Forgotten Rooms di IKEA Jakarta Garden City, IKEA Indonesia mengajak masyarakat melihat kembali area-area tersebut dengan memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalamnya, mulai dari aktivitas yang dilakukan, barang yang dibutuhkan, hingga bagaimana satu aktivitas berpindah ke aktivitas berikutnya.
Pada area cuci baju atau laundry misalnya. Masalahnya tidak selamanya terletak pada mesin cuci atau ukuran ruang. Ketika ruang untuk setiap aktivitas tersebut tidak tertata dengan jelas, pakaian dan perlengkapan laundry dapat berpindah-pindah sebelum akhirnya kembali ke tempatnya.
Ruang yang sama pun bisa terasa lebih merepotkan bukan karena terlalu kecil, tetapi karena alurnya tidak mendukung apa yang perlu dilakukan di sana.
M. Yusuf Attorik, Interior Design Leader IKEA Indonesia, melihat hal serupa ketika menentukan bagaimana sebuah ruang sebaiknya ditata.
“Ketika kita melihat barang, biasanya pertanyaannya … ini mau ditaruh di mana. Padahal kita bisa mulai dari pertanyaan lain, aktivitas apa yang dilakukan di sini, siapa yang menggunakannya, dan barang apa yang paling sering dibutuhkan,” bebernya.

Berangkat dari hal itu, kita bisa melihat apa yang perlu berada dekat jangkauan, apa yang bisa disimpan lebih jauh, dan ruang mana yang sebenarnya masih bisa digunakan,.
Cara melihat ruang seperti ini juga dapat diterapkan pada area penyimpanan di bawah tangga, garasi, gudang kecil, atau satu sudut rumah. Ketika kebutuhan penyimpanan bertambah, ruang vertikal, dinding, sudut, maupun area di sekitar peralatan yang sudah ada dapat dimanfaatkan sebagai solusi tanpa harus membuat ruangan baru.
Torik mengingatkan, memanfaatkan ruang bukan berarti harus mengisi setiap sudut; ruang untuk bergerak dan melakukan aktivitas tetap perlu diperhatikan
Menurutnya, menata ruang bukan berarti mencari satu cara yang paling benar untuk semua rumah. Setelah memahami aktivitas yang berlangsung di dalamnya, kita dapat melihat solusi yang paling sesuai, mulai dari memanfaatkan ruang vertikal, mengatur kembali letak, hingga memilih penyimpanan yang membantu barang lebih mudah dijangkau, digunakan, dan dikembalikan.
“Dengan begitu, ruang yang sebelumnya terasa penuh atau kurang terpakai dapat berfungsi secara maksimal dan mendukung aktivitas,” pungkasnya. (HG)