Hidupgaya.co – Aktris peraih Oscar, Susan Sarandon, mengaku masih kehilangan pekerjaan akibat dukungannya yang vokal terhadap rakyat Palestina, meskipun menurutnya telah terjadi pergeseran opini publik yang lebih luas yang menentang dukungan AS terhadap Israel.
Saat berbicara di Festival Film Venesia, tempat ia mempromosikan film terbarunya, The Echo Chamber, Sarandon mengatakan bahwa sejumlah pihak di industri film terus menjauhinya karena aktivitasnya tersebut.
“Menurut saya, narasi telah berubah total terkait relevansi sejarah Palestina serta hubungan antara Zionis dengan Amerika dan politik kita,” ujarnya dikutip Reuters.
“Hal itu menjadi sebuah penemuan besar bagi masyarakat, betapa besarnya dana yang diberikan Amerika Serikat kepada Israel; sebelumnya tidak banyak orang yang benar-benar memahaminya.”
Jajak pendapat terbaru di AS menunjukkan bahwa dukungan terhadap Israel mulai melunak dan simpati terhadap rakyat Palestina meningkat sejak dimulainya perang Gaza pada 2023.
Namun, aktris Amerika berusia 79 tahun itu mengatakan bahwa dukungannya terhadap perjuangan Palestina masih membawa konsekuensi profesional.
“Belakangan ini saya masih kehilangan kesempatan bermain film karena ada agensi-agensi yang terus meminta orang-orang untuk tidak mempekerjakan saya,” ungkapnya kepada para wartawan.
“Namun, begitulah struktur kekuasaannya. Saya rasa di kalangan masyarakat umum—terutama di tingkat internasional, saya merasa diterima,” imbuhnya.
Polemik pengibaran bendera di Venesia
Sebagai pemenang Academy Award untuk Aktris Terbaik lewat film Dead Man Walking (1995), nama Sarandon mulai dikenal luas melalui film-film seperti The Rocky Horror Picture Show (1975), Bull Durham (1988), dan Thelma & Louise (1991).
Ia sempat diputus kontraknya oleh agensi bakat lamanya, UTA, pada tahun 2023 menyusul pernyataan yang ia sampaikan saat menghadiri unjuk rasa pro-Palestina, tak lama setelah serangan Hamas terhadap Israel yang memicu perang di Gaza.
Dampak konflik ini juga merambah ke Festival Film Venesia; para aktivis mendesak penyelenggara untuk mengibarkan bendera Palestina sebagai bentuk pengakuan terhadap para sutradara Palestina yang karya-karyanya ditayangkan dalam acara tersebut.
Direktur artistik festival, Alberto Barbera, menyatakan bahwa hal itu tidak dapat dilakukan karena Italia tidak mengakui negara Palestina secara resmi. Namun, ia menyoroti sejumlah film yang ditayangkan di Lido yang menampilkan perjuangan rakyat Palestina biasa.
Sarandon mengatakan bahwa penolakan untuk mempekerjakan sosok yang vokal mengkritik Israel masih sangat kuat, terutama di kalangan studio-studio film besar. “Jika itu studio besar, menurut saya bukan hanya saya yang pernah diberi tahu bahwa hal itu mustahil,” ujarnya seraya berterima kasih kepada Andrea Pallaoro, sutradara asal Italia penggarap The Echo Chamber, yang telah memilihnya untuk peran tersebut.
“Saya menemukan keluarga. Saya menemukan orang-orang yang sejalan, dan saya baik-baik saja,” tambahnya, yang disambut dengan tepuk tangan meriah dan berkepanjangan dalam konferensi pers tersebut.
Dalam film terbarunya, yang diadaptasi dari naskah terakhir mendiang sineas Italia, Bernardo Bertolucci, Sarandon berperan sebagai seorang penyanyi senior yang mempekerjakan seorang produser musik yang sedang dalam masa pemulihan dari kecanduan narkoba untuk menggarap album comeback.
The Echo Chamber merupakan salah satu dari 21 film yang bersaing memperebutkan penghargaan Golden Lion di Festival Film Venesia, 12 September. (HG)