Hidupgaya.co – Ingin mengetahui aktivitas otak anak dan bagaimana memantik rasa penasaran si Kecil untuk bereksplorasi, silakan sambangi S-26 Exceptional Journey: Journey Inside The Brain, sebuah pengalaman edukatif imersif yang berlangsung di Senayan City, Jakarta pada 24–26 Juli 2026.
Acara ini menghadirkan S-26 Exceptional Brain Visualizer, sebagai daya tarik utama teknologi EEG (electroencephalogram) yang dikembangkan bersama MyndPlay UK.
Ashton Alexander Fung (10) dengan IQ 145, telah mencoba teknologi ini sekaligus diukur bagaimana otaknya bekerja saat ia ditantang memecahkan masalah.
Peraih sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya Global Rank No.3 di South East Asia Math Olympiad (SEAMO) X Bali 2026, World Math International Thailand 2025 – Top Scorer (Diamond Medal), Gold Medal di SEA Math Olympiad (SEAMO) X Final Singapore 2024 (Global Rank No.3), Penghargaan SEAMO Legend Award atas pencapaian 3 Gold Medal, ternyata diasuh oleh orang tua yang mendukung minat eksplorasinya sejak dini.

Orang tua Ashton, Budi Fung dan Marlene menekankan selalu mendukung Ashton untuk dapat mengeksplorasi berbagai minatnya, mulai dari caranya dalam berpikir secara kritis, tangguh dan tidak mudah menyerah, serta peduli dengan sesama.
Ashton juga gemar mencoba hal-hal baru, seperti golf, berkuda, dan piano yang menjadikannya lebih disiplin. Hobi yang ditekuni itu bisa menjadi pelepasan saat ia merasa bosan.
Tak kalah penting, sejak kecil Ashton dibiasakan tidur teratur. “Tidur tak boleh telat. Jam 9 malam sudah tidur. Sejak kecil Ashton juga tak dibiasakan main gadget tapi lebih banyak baca buku,” tutur Marlene.
Saat ini, Ashton tengah mengembangkan agen edukasi kecerdasan buatan (AI). Kecerdasan luar biasa yang dimiliki Ashton merupakan hasil dari akumulasi eksplorasi berkesinambungan yang didukung penuh oleh keluarga, bukan sesuatu yang terjadi dalam semalam.
Category Marketing Manager Wyeth Nutrition S-26, Vera Niki Gozali menyampaikan setiap anak dituntut untuk memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi agar tidak tertinggal oleh laju perkembangan zaman. “Untuk membekali agar dia bisa future ready atau siap di masa depan, kita harus membekali mereka dengan eksplorasi berbagai minat, eksplorasi belajar berbagai hal,” ujarnya.
Anak-anak butuh metode pengasuhan eksplorasi tanpa batasan atau multi-learning guna mengasah nalar kritis mereka. Di tengah persaingan yang kian ketat, metode belajar linier dirasa tidak lagi cukup untuk membekali buah hati.
Multi-learning fokus pada pengenalan ragam wawasan yang seolah tidak saling terkait secara langsung. Tujuannya adalah merangsang nalar anak agar mampu menarik benang merah dari seluruh keilmuan yang dipelajarinya kelak.
Dengan pendekatan itu, anak tidak sekadar dijejali oleh banyaknya ilmu, tetapi diajarkan cara menemukan korelasi antarbidang.
Membangun koneksi saraf lewat ragam aktivitas menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan, menurut dr. Yoga Andika, Sp.A, yang mengatakan kemampuan mencerna informasi ini tidak lepas dari periode pembentukan fondasi saraf di awal kehidupan anak. “Otak anak itu fase emasnya itu nol sampai lima tahun. Nah di fase emas itu, otak tumbuh dan berkembang dengan baik,” ujarnya.
Data menyebut, dalam lima tahun pertama kehidupan, jumlah koneksi di setiap sel saraf otak melonjak dari sekitar 2.500 menjadi 15.000, sebuah perkembangan luar biasa yang tidak akan terulang pada tahap kehidupan berikutnya.

“Salah satu proses penting yang mendukung terbentuknya koneksi tersebut adalah mielinisasi, yaitu pembentukan lapisan mielin yang membantu penghantaran informasi antarsel saraf berlangsung lebih cepat dan efisien,” ujar dr. Yoga.
Proses mielinisasi dapat didukung melalui kombinasi gizi yang tepat sebagai bagian dari pola makan seimbang, serta stimulasi yang konsisten. Sejalan dengan itu, riset klinis terbaru menunjukkan bahwa kombinasi gizi tertentu dapat mendukung proses mielinisasi secara terukur.
Dokter spesialis anak itu menambahkan, sesuai tahapan usia, pengenalan hal baru melalui proses belajar dari pengalaman atau experience-based learning sangat memengaruhi laju pertumbuhan saraf pusat pada periode emas tersebut. Saat anak belajar hal baru, itu akan membentuk konektivitas (otak) sehingga cara berpikirnya menjadi lebih cepat dan lebih baik.
Proses ini perlu didukung melalui kombinasi gizi yang tepat, seperti Sphingomyelin, Fosfolipid, Alfa-laktalbumin, AA, DHA, kolin, dan zat besi sebagai bagian dari pola makan seimbang, yang diimbangi dengan stimulasi yang tepat, pengalaman belajar yang beragam atau multi-learning, serta lingkungan yang positif.
“Kombinasi tersebut membantu mendukung dan mengoptimalkan perkembangan otak anak,” tandas dr. Yoga. (HG)