Hidupgaya.co – Jajaran desainer Prancis, termasuk kolaborator dari Indonesia, unjuk karya di ajang pekan mode tahunan JF3 Fashion Festival 2026, di antaranya Louise Marcaud, Rohan Mirza, Fengyuan DAI, dan TAREET X DENIMITUP.
Ini kali kedua Louise Marcaud berpartipasi, setelah debutnya di panggung runway JF3 tahun lalu. Desainer asal Prancis itu menampilkan Louiseguard, koleksi Spring/Summer 2027 yang lahir dari berbagai kenangan dan pengalaman yang ia kumpulkan selama kunjungan sebelumnya ke Indonesia.
Diundang JF3 pada tahun lalu, Louise menghabiskan beberapa hari menjelajahi pasar tekstil di Jakarta, mengumpulkan kain lurik tenun, batik, serta berbagai benda keseharian yang kemudian menjadi titik awal lahirnya koleksi ini.
Kantong teh, kartu pos vintage, suvenir hotel, hingga bahasa visual pada kemasan-kemasan produk Indonesia tak lepas dari perhatiannya, menginspirasi palet warna dan detail grafis yang hadir dalam setiap rancangan.

Dia mengaku, sumber inspirasi penting lainnya datang dari pengalamannya menyaksikan pertunjukan Sendratari Ramayana. Kekayaan kostum, motif-motif dekoratif, serta atmosfer teatrikal dari pertunjukan tersebut memengaruhi siluet dan elemen ornamen yang terlihat di sepanjang koleksi.
Berbagai referensi khas Indonesia tersebut kemudian dipadukan dengan dunia yang tak terduga, yaitu kolam renang umum dan sosok penjaga pantai.
Bukan sekadar kartu pos nostalgia tentang musim panas, Louiseguard merupakan catatan perjalanan pribadi yang diterjemahkan ke dalam busana, di mana kenangan tentang Indonesia, potongan-potongan kehidupan sehari-hari, dan berbagai pertemuan yang dibayangkan menjelma menjadi sebuah koleksi.
Koleksi ini membayangkan sebuah kisah musim panas fiktif antara seorang wisatawan yang memperpanjang liburannya di Jakarta dan seorang penjaga kolam muda yang ditemuinya di tepi kolam. Dari narasi tersebut lahirlah sebuah koleksi yang bergerak di antara kenangan liburan dan estetika seragam.
Tailoring bergaris mengingatkan pada kursi santai dan payung di tepi kolam, rajutan berpotongan pas merefleksikan pakaian renang bergaya vintage, sementara bikini, celana bermuda, celana capri, dan gaun ringan melengkapi kisah romansa imajiner tersebut.

Beberapa tampilan dalam koleksi ini menggunakan kain yang diperoleh Louise selama kunjungannya ke Indonesia tahun lalu, menciptakan dialog antara teknik tailoring khas Prancis dengan keterampilan Indonesia.
Dirancang di Paris dan diproduksi dalam jumlah terbatas, koleksi ini juga mencerminkan komitmen Louise Marcaud terhadap penggunaan material yang telah ada serta proses produksi berskala kecil yang lebih bertanggung jawab.
Fengyuan DAI: 30%70
Desainer Prancis-Tiongkok Fengyuan DAI merilis koleksi 30%70 di ajang JF3 Fashion Festival 2026, sebuah visi mode di mana keseimbangan menjadi bahasa kreativitas.
Setiap koleksi 30%70 menampilkan pendekatan yang sensitif terhadap busana. Siluet tak lekang waktu dipadukan dengan penggunaan material alami, tekstil daur ulang, eksplorasi teknik artisan, serta detail yang dikerjakan dengan penuh ketelitian.

Palet warna yang lembut, tekstur yang khas, dan volume busana yang nyaman menciptakan dunia yang terasa sekaligus kontemporer dan puitis.
Mendirikan merek di Paris, Fengyuan mengantongi pengalaman lebih dari satu dekade bekerja di berbagai rumah mode ternama.
Sebelum mendirikan labelnya sendiri, Fengyuan DAI mengembangkan keahliannya bersama sejumlah desainer ternama seperti Jean Paul Gaultier, Sandrine Philippe, dan Stéphane Ashpool, serta berkarya di Le 19M.
Perjalanannya di industri mode semakin diakui ketika ia terpilih sebagai salah satu dari sepuluh finalis Hyères International Festival of Fashion, Photography and Accessories.
Pada tahun 2024, ia meluncurkan 30%70 sebagai label independen yang terbuka bagi dunia. “Koleksi 30%70 menawarkan busana genderless yang dirancang untuk melampaui batas budaya, musim, dan generasi,” ujarnya.

Koleksi itu menyampaikan gagasan bahwa keseimbangan tidak selalu harus simetris. Justru dalam ketegangan yang halus antara berbagai hal yang berlawanan itulah harmoni tercipta, antara Timur dan Barat, warisan budaya dan modernitas, elegansi dan kenyamanan, serta craftsmanship dan inovasi.
Lebih dari sekadar sebuah label fashion, 30%70 memiliki visi untuk secara bertahap membangun sebuah semesta gaya hidup yang utuh, di mana mode, craftsmanship, objek, dan budaya saling berdialog melalui pencarian bersama akan keseimbangan, makna, dan nilai yang berkelanjutan.
Rohan Mirza: Stonehaven
Di panggung JF3 Fashion Festival, studio mode Rohan Mirza menampilkan koleksi Spring Summer 2026 bertajuk Stonehaven, melanjutkan penjelajahannya ke wilayah-wilayah imajiner.
Koleksi baru ini mengeksplorasi peran emosi di era pesona digital, di antara mitos-mitos populer di internet dan warisan antargenerasi.
Rohan Mirza, didirikan di Paris pada 2021, mengeksplorasi titik temu antara budaya internet, narasi pribadi, keahlian teknis, dan pencetakan 3D. Setiap koleksinya berfungsi sebagai dunia paralel yang dapat diuraikan, dihuni, dan diadopsi.

Kali ini, reruntuhan kastil dari Call of Duty berfungsi sebagai latar belakang simbolis, yang diciptakan kembali dalam bentuk taman umum untuk sebuah upacara yang merayakan bukan sekadar ikatan biner, melainkan ikatan emosional, nyata maupun virtual, yang dibangun dan dipelihara oleh setiap individu dalam realitas digital.
Taman tersebut membangkitkan kenangan akan taman bermain masa kecil serta pertemuan tak terduga, di mana bangku taman menjadi sisa yang paling setia.
Penonton merupakan bagian tak terpisahkan dari upacara anachronistic ini, yang berada di antara teater sosial, peragaan busana, dan ritual.
Rohan hendak menceritakan sebuah estetika di antara hantu-hantu digital dan hyperrealism. Dalam semesta yang bernuansa vampir dan puitis ini, senjata tak lagi mematikan; senjata-senjata itu justru membela cinta, ikatan, dan kelembutan.
Stonehaven adalah tempat berlindung sekaligus nama keluarga yang melambangkan persatuan. Siluet-siluetnya menyerupai mainan, berayun antara kerapuhan dan perlindungan, kenangan dan hiperbola.

Koleksi ini berakar pada Paris yang memiliki dua wajah: satu yang menghisap mimpi sekaligus mewujudkannya. Siluet-siluetnya berkelana di dunia di mana para malaikat tidak jatuh, melainkan membusuk akibat keseriusan yang dipaksakan kepada mereka.
Sosok vampir, yang mendasari koleksi ini, menjadi metafora bagi hasrat mutlak akan kedekatan, berbagi sejarah, ingatan, dan budaya bersama. Darah tidak lagi melambangkan kematian yang mengerikan, melainkan, secara metaforis, cinta abadi, dengan segala kelembutan dan kecanggungan yang menyertainya.
Referensi-referensi terhadap budaya internet ini terjalin bersama-sama menjadi benang merah dari sebuah koleksi yang berupaya melibatkan penonton, mengajak mereka untuk menjadi bagian dari klan yang diwujudkan oleh setiap siluet dalam keunikannya masing-masing.
DENIMITUP x TAREET: Fas Delman
Jenama asal Indonesia, DENIMITUP mengembangkan kolaborasi dengan label Prancis TAREET, mempertemukan dua pendekatan kreatif dalam proses pengembangan koleksi bersama.

Merek fashion asli Indonesia itu fokus pada produk denim dan pakaian buatan tangan (artisanal). Dibesut oleh Vincent Michael Ham dan dikenal dengan ciri khas jahitan zigzag serta kualitas kain denim yang kuat tercatat sebagai peserta program PINTU Accelerator, kolaborasi mode Indonesia–Prancis yang diprakarsai JF3, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut français d’Indonésie (IFI).
Koleksi bertajuk Fas Delman menceritakan kisah pertemuan antara budaya Indonesia dan Senegal. Dari dua budaya, ternyata dapat ditemukan banyak kesamaan.
Menurut perwakilan TAREET, koleksi ini menjadi dialog budaya, bertindak sebagai jembatan kreatif yang mengeksplorasi identitas dan warisan budaya antara Indonesia dan Senegal. Memadukan pendekatan streetwear kontemporer yang menjadi ciri khas DENIMITUP dengan estetika desain Afro-Eropa yang unik dari TAREET.
Idenya bisa dibilang bersahaja, mengambil elemen dari lemari pakaian Indonesia dan Senegal, menyatukannya, dan menciptakan lemari pakaian hibrida.

Nama koleksi Fas Delman mencerminkan pertemuan budaya ini. Dalam bahasa Senegal/Wolof, kuda disebut Fas, sedangkan dalam bahasa Indonesia, delman merujuk pada kereta kuda tradisional.
Kuda dipilih menjadi tema utama karena memiliki simbol bersama, digunakan secara luas dan penting secara historis untuk pergerakan dan transportasi sehari-hari di kedua budaya.
Elemen kunci dari koleksi Fas Delman adalah sentuhan (the twist) pada pakaian. Sentuhan ini mencerminkan cara djellaba (pakaian wanita khas Senegal, mirip gamis) menciptakan volume saat tubuh bergerak, bertujuan menerjemahkan rasa volume yang mengalir ini ke dalam potongan streetwear yang lebih kontemporer. (HG)