Lanjut ke konten

Behind The Seams, Apresiasi Kiprah Kaum Difabel di Batik Kultur

01/04/2019

Hidupgaya – Batik Kultur by Dea Valencia kiprahnya sudah bergaung dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu faktor yang membuat karya desainer yang setia menggunakan batik tulis juga lawasan dalam karyanya ini disukai dan diapresiasi konsumen adalah, ia konsisten melibatkan kaum difabel.

Bertajuk ‘Behind The Seams’ Karya Batik Kultur dipamerkan dalam pembukaan gerai kedua di Jakarta, beberapa waktu lalu. Sebanyak 30 koleksi busana siap pakai itu terdiri dari baju-baju berpotongan modern dengan siluet sederhana dan elegan untuk perempuan dan laki-laki, seperti kemeja, gaun midi, blazer hingga long coat.

Pilihan warnanya bervariasi dari warna-warna pastel, kecokelatan, biru tua hingga warna-warna terang mencolok. Yang unik, Batik Kultur membuat baju segala ukuran, mulai ukuran S hingga XXL.

Selama delapan tahun berkiprah di dunia batik, Dea tertarik bekerja sama dengan para difabel sejak 2013. “Saya tertarik merekrut setelah melihat kinerja yang tak berbeda dengan orang-orang dengan panca indera lengkap. Hasilnya bagus,” kata Dea. “Sekarang saya punya 120 karyawan yang basis produksinya di Semarang, 50 persennya adalah difabel. Pekerjaannya bermacam-macam, dari penjahit, petugas administrasi sampai fotografer.”

Dea yang memulai perjalanan bisnis dengan berjualan batik lawasan yakin semua orang berhak diberi kesempatan untuk berkarya, alasan yang membuatnya berkarya bersama para difabel. Tema ‘Behind The Seams’ dipilih Dea untuk mengapresiasi orang-orang di balik Batik Kultur. “Ini seperti jahitan, tidak terlihat tapi sangat penting,” bebernya. “Mereka mungkin difabel, tapi bukan berarti tidak mampu.”

Dea mempersiapkan karya ‘Behind The Seams’ sejak November 2018. Perempuan muda dengan talenta besar ini merancang sendiri motif-motif batik, memadukan pakem dengan sentuhan modern, dari kain putih hingga menjadi kain batik tulis.

Material yang dipilih terdiri dari katun, bordir, lurik sampai brokat yang tetap nyaman dikenakan seharian. Proses pengerjaan batiknya berlangsung di beberapa daerah, tergantung dari teknik spesialisasinya. Warna sogan dibuat di Solo, warna cerah Pekalongan dan motif tenun dibuat di Jepara. Jika busana batik ini terlihat pas tentu tak mengherankan karena menurut Dea motifnya sejak awal dibuat sesuai dengan siluet busana.

Mengapa batik tulis? “Sejak awal saya memang komit menggunakan batik tulis demi memberdayakan para perajin. Tujuannya agar poros perekonomiannya bergerak,” ujar perempuan yang tertarik pada batik sejak usia belia. Maklum neneknya merupakan kolektor batik tulis.

Batik Kultur sendiri sejatinya sudah dikenal di sejumlah negara, misalnya Australia, Singapura, bahkan Kanada. Namun saat ini Dea masih fokus pada pasar dalam negeri sebelum mengembangkan sayap ke banyak negara. Dia ingin memastikan produk-produknya berkualitas, tidak sekadar menjunjung kuantitas. “Mungkin nanti. Sekarang saja masih kewalahan menerima permintaan pasar dalam negeri,” pungkasnya. (HG)

Iklan

From → Fashion Spread

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: