Hidupgaya.co – Aktor kawakan Korea, So Ji Sub, telah menghabiskan hampir tiga dekade berkarier di depan kamera, namun kesuksesan global yang luar biasa dari serial terbarunya, Agent Kim Reactivated, membuatnya merasa seolah-olah sedang berada di lokasi syuting acara kamera tersembunyi.
Drama aksi SBS yang ditayangkan secara global di Netflix ini mengisahkan seorang manajer akuntansi bank yang tampak kalem, yang terpaksa membongkar kembali masa lalunya yang berbahaya demi menyelamatkan putri remajanya yang diculik.
Baik kritikus maupun penonton menjuluki serial ini sebagai ‘John Wick versi Korea’ seraya memuji keseimbangan antara komedi yang tajam, drama emosional, dan aksi yang intens.
Respons yang muncul pun sangat cepat. Serial ini menembus angka rating penayangan televisi sebesar 20 persen di Korea hanya dalam empat episode, menjadikannya drama Jumat-Sabtu dengan rating tertinggi kedua dalam sejarah SBS, serta bertahan selama tiga minggu berturut-turut di posisi puncak daftar 10 besar global Netflix untuk kategori acara televisi bukan bahasa Inggris.
“Sejujurnya, mencapai rating 20 persen terasa tidak masuk akal bagiku,” ujarnya dalam wawancara dengan The Korea Times di sebuah kafe di Seoul.
“Para aktor lain dan sang sutradara terus bertanya satu sama lain, ‘Apakah ini nyata?'”
So, yang memulai debut aktingnya pada tahun 1997, bergabung dengan proyek ini setelah mencari peran yang sarat aksi usai membintangi serial tahun 2025, Mercy for None.

Namun, kedalaman emosional di balik unsur kekerasan itulah yang meyakinkannya untuk mengambil peran utama tersebut.
“Alih-alih sekadar aksi, aku rasa latar belakang kisah dan rasa duka yang dialami Kim jauh lebih memikat,” jelas So.
“Ini juga pertama kalinya aku berperan sebagai seorang ayah yang memiliki anak usia SMA. Rasanya asing, tetapi aku melihat peluang untuk menunjukkan sisi baru dari diriku.”
Meskipun penonton memuji serial ini karena alurnya yang cepat dan memberikan kepuasan emosional (katarsis), So meyakini bahwa daya tarik acara ini jauh lebih mendalam.
“Aku sempat bertanya-tanya apakah ‘cepat dan mendebarkan’ benar-benar satu-satunya daya tarik serial ini,” katanya.
“Menurutku, ada resonansi emosional mendasar yang berhasil menyentuh hati penonton. Aku menerima banyak pesan dari para ayah di kehidupan nyata yang mengungkapkan betapa mereka bisa berempati dengan karakter tersebut.”
Bobot naratif itu juga tercermin langsung dalam adegan-adegan aksi serial ini. Ia bekerja sama erat dengan pengarah laga untuk memastikan setiap adegan pertarungan terasa unik dan sarat muatan emosional.
“Kami sepakat untuk meminimalkan tindakan apa pun yang tidak memancarkan emosi,” ujarnya.
“Kim tidak berniat membunuh orang; tujuannya hanyalah menemukan putrinya. Jika diperhatikan dengan saksama, bahkan saat menembak, ia mengincar lengan atau kaki. Tujuannya bukanlah balas dendam ataupun pembantaian.”
Salah satu adegan laga yang paling menonjol dalam serial ini adalah pertarungan pisau di Episode 5 antara karakter yang diperankan So dan seorang agen rahasia Korea Utara (Kim Sung-kyu).
Difilmkan di gang sempit yang diapit kontainer pengiriman, adegan ini menggunakan lampu yang dipasang pada derek tinggi untuk memproyeksikan bayangan panjang ke tanah, yang seluruhnya direkam dari sudut pandang atas (bird’s-eye view).
So menyebut urutan adegan ini sebagai favorit pribadinya selama proses syuting.
“Aku menyukai energi fisik yang mentah dan nyata dalam pertarungan jarak dekat,” kata So. “Menurutku, drama dan film terbaik tidak memerlukan penjelasan berlebihan, tatapan mata dan gerakan fisik sudah mengungkapkan segalanya.”
Sebagai penggemar lama film-film klasik Jackie Chan dan serial thriller yang kelam serta intens seperti Peaky Blinders, ia mengungkap keinginannya untuk melihat lebih banyak proyek bergenre action-noir yang lebih canggih di industri hiburan Korea.
“Dalam genre noir Korea, kita sering melihat klise gangster yang umum. Aku ingin sekali terlibat dalam proyek yang menampilkan pria-pria berkarakter tajam dan memikat yang beradu fisik dengan gaya yang sangat keren,” ujar So.
Ia sangat antusias untuk mengambil lebih banyak peran laga selagi kondisi fisiknya masih memungkinkan, asalkan motivasi karakternya tetap berpijak pada realitas.
Saat menilik kembali perjalanan kariernya, ia menyadari adanya perubahan pola pikir seiring perannya yang kini menjadi salah satu sosok senior di lokasi syuting.
Hal yang paling melegakan baginya terkait kesuksesan serial ini adalah kenyataan bahwa kerja keras para pemain dan kru membuahkan hasil yang sepadan.
“Jika drama tahun 2004, I’m Sorry, I Love You, membuka babak pertama dalam perjalanan aktingku, maka menurutku, Agent Kim Reactivated menandai dimulainya babak kedua,” tandasnya. (HG)