Hidupgaya.co – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi penopang ekonomi Indonesia, berkontribusi nyata berupa penciptaan lapangan kerja, penopang Produk Domestik Bruto (PDB), dan pemerataan ekonomi lokal.

Sektor UMKM menyumbang sekitar 60,5 persen hingga 61 persen dari total PDB Indonesia, menyerap hingga 97 persen dari total tenaga kerja nasional.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebanyak 64,5 persen dari 65,5 juta UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan, dengan jumlah wirausaha wanita mencapai sekitar 37 juta orang. menjadi kekuatan baru ekonomi rakyat berbasis digital.

Namun, di balik peluang besar yang terbuka melalui dunia maya, para pelaku UMKM perempuan juga perlu mewaspadai ancaman yang mengintai di ruang digital, salah satunya adalah penipuan daring.

Tidak hanya rentan menjadi korban penipuan daring, perempuan juga berisiko terpapar konten-konten negatif dari internet, seperti pornografi dan judi online.

Oleh karena itu, literasi digital menjadi krusial agar perempuan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pelindung bagi keluarganya di ruang siber, serta tak menjadi korban kejahatan daring.

Menjawab tantangan ini, Program Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) Universitas Nasional (UNAS) bersam Tuturbangsa menggelar lokakarya di Bojongsari, Depok, Jawa Barat, bertajuk Dari Jari ke Hati: Literasi Digital dan Pencegahan Krisis Komunikasi bagi Pelaku UMKM di Era Media Sosial.

“Tak sekadar ruang belajar, agenda ini menjadi wujud nyata pengabdian masyarakat dari kolaborasi harmonis antara dunia akademisi, pemerintah lokal, serta para perempuan hebat di balik UMKM,” terang Ilona Vicenovie Oisina Situmeang selaku ketua panitia lokakarya yang berlangsung 1 Agustus silam di Bojongsari, Depok.

Menurutnya, langkah awal membangun kepercayaan pelanggan di era digital berakar dari pemanfaatan platform online yang cermat.

Ia mengamati bahwa para pengusaha perempuan saat ini umumnya sudah sangat akrab dengan ponsel pintar dan memiliki berbagai akun media sosial.

Namun, di balik kemudahan memperluas jangkauan pasar, Ilona mengingatkan ada tantangan keaslian konten yang perlu diwaspadai, terutama maraknya manipulasi berteknologi kecerdasan buatan (Aai).

Pelaku UMKM sebaiknya mampu membedakan yang mana yang asli, yang mana buatan AI, sehingga tidak merugikan bisnis karena dipakai oleh pihak tak bertanggung jawab.

Sinergi akademik ini juga terasa kental lewat keterlibatan mahasiswa pascasarjana yang terjun langsung mendampingi para pelaku usaha.

Terkait kegiatan ini, Sekretaris Program Studi Fikom UNAS, di Prakosa, menuturkan kegiatan ini lahir dari kewajiban akademik yang mencakup pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. “Melibatkan partisipasi aktif mahasiswa Program Magister Ilmu Komunikasi UNAS sebagai bagian dari proses pembelajaran lapangan yang aplikatif,” ujarnya.

Camat Bojongsari Suryana Yusuf mengakui pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas masyarakat, dan sektor usaha.

Menurutnya, untuk membantu UMKM melesat, dibutuhkan tiga pilar utama: pelatihan wawasan, kemudahan akses modal, serta pendampingan promosi.

“Pendidikan dan pelatihan bagi pelaku UMKM tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan memerlukan keterlibatan dunia usaha dan institusi pendidikan secara bersama-sama,” cetus Suryana.

Dia mengakui potensi bisnis lokal jika dipadukan dengan kemudahan transaksi elektronik modern.”UMKM merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia. Kekuatan UMKM mencerminkan kekuatan ekonomi bangsa,” bebernya.

Suryana menekankan, industri besar maupun menengah bisa mengalami pasang surut, tetapi apabila UMKM kuat, maka Produk Domestik Bruto Indonesia juga akan semakin kuat.

Peserta lokakarya literasi digital UMKM

Kesempatan sama, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Depok, Dina Rita mengingatkan bahwa keberhasilan pemasaran digital bukan hanya soal kepiawaian mengunggah foto produk di aplikasi pesan, melainkan kepekaan memahami etika bisnis dan tren digital yang cerdas agar bisnis bertahan jangka panjang.

Rita Ayuningtyas dari Tuturbangsa membagikan wawasan mengenai pentingnya etika berinternet. Ia mengajak peserta menerapkan prinsip THINK (True, Helpful, Inspiring, Necessary, Kind) sebelum mengunggah konten apa pun.

“Pesan utamanya jelas: pikirkan jejak digital, amankan data pribadi, serta selalu santun dalam berinteraksi,” tandasnya.

Lokakarya literasi digital untuk pelaku UMKM ini didukung sejumlah pihak, antara lain Indofood Sukses Makmur, Frisian Flag Indonesia dan LocknLock. (HG)