Hidupgaya.co – Saul Studio mempresentasikan koleksi bertajuk ‘She’ di ajang Jakarta Fashion Week 2027. Tampil di hari pertama, koleksi yang dibesut Debora Mettu itu terinspirasi oleh perjalanan hidup wanita yang penuh dengan berbagai peran: sebagai ibu, istri, pekerja, dan sebagainya.

“Koleksi ini bertema ‘She’ (perempuan). Perempuan tuh banyak banget perannya, dari istri, ibu, segala rupa. Jadi, aku tuh pengin rangkum ini dari semua perjalanan seorang wanita yang memang nggak mudah. Terinspirasi dari ide itu, jadi aku bikin koleksi namanya ‘She’, merepresentasikan semua perjalanan kita sebagai perempuan,” ujar Debora yang ditemui Hidupgaya di area JFW 2027 PIM 3 Jakarta Selatan, Senin (26/10).

Koleksi ‘She’ kental dengan potongan asimetris dan arsitektural, dipengaruhi latar belakang Debora yang juga seorang arsitek. Untuk koleksi ini didominasi warna ivory (gading), alih-alih putih murni, menggambarkan ketidaksempurnaan wanita yang selalu berusaha belajar dan beradaptasi (fit in).

“Putih untuk koleksi kali ini menurut aku terlalu perfect. Sedangkan sebagai perempuan kita tuh nggak ada yang perfect, kita cuma mencoba untuk belajar menjadi fit in,” urai Debora.

Warna berikutnya adalah abu-abu, melambangkan ketidakpastian dan perjuangan hidup sehari-hari. Adapun hadirnya aksen oranye merefleksikan kebahagiaan yang dimiliki setiap wanita.

Koleksi ‘She’ Saul Studio di ajang Jakarta Fashion Week 2027 (dok. Instagram)

“Abu-abu itu lambang bahwa setiap langkah perempuan nggak ada yang pasti. Kita cuma ngikutin alur aja, kita berusaha setiap hari untuk fit in, untuk memenuhi kita harus menjadi apa. Kita setiap hari struggle kan. Perempuan itu selalu dituntut lebih,” ujarnya.

Dalam mewujudkan koleksi terbaru ini, Debora mengaku terinspirasi dari perempuan hebat di sekelilingnya. “Aku tuh terinspirasi dari sekeliling aku, cewek-cewek hebat yang memang nggak cuma berprestasi, nggak cuma jadi ibu, tapi juga pencari nafkah utama,” tuturnya.

Di panggung runway, koleksi diawali dengan gaun panjang putih (simbol fase awal/pernikahan) dan diakhiri dengan gaun panjang hitam (simbol perjalanan hingga akhir hayat).

“Jadi 13 look ini sebenarnya presentasi dari semua kita wanita. Dari setiap garis-garis asimetris dari Saul, merepresentasikan semua perjalanan hidup yang kadang nggak sesuai dengan yang kita mau. Cuma kita berusaha untuk fit in aja untuk mengisi posisi itu. Kita memang lagi berjuang bersama-sama,” cetusnya.

4 muses melenggang di runway, peduli keberlanjutan

Ada empat muses yang melenggang di runway membawakan koleksi ‘Sh’e, yakni Lia Lukman, dengan karakter yang manis dan imut, merepresentasikan seorang ibu dan sosialita yang cantik.

Debora Mettu, sosok kreatif Saul Studio (dok. Hidupgaya)

Selanjutnya Valen Amijo, pemengaruh dari Surabaya, Jawa Timur. Selain cantik, dia juga seorang chef, punya restoran dan memiliki perjuangan sendiri dalam kehidupan yang penuh cerita.

Berikutnya adalah Melaney Richardo, seorang ibu juga dengan anak yang beranjak dewasa, punya banyak jabatan dalam hidupnya.

Terakhir adalah Indy Barends dengan karakter ceria apa adanya. “Itu semua aku rangkum personalitasnya menjadi satu yang merepresentasikan semua koleksi Saul kali ini,” urai Debora.

Peduli dengan isu keberlanjutan, Debora menyertakan kain dari daur ulang serat daun nanas. “Pohon nanas kan daunnya banyak dibuang, nah itu kita daur ulang dibikin jadi benang dan kemudian jadi kain. Tapi tidak 100% tentunya, karena semua desain tidak bisa diimplementasikan dengan kain tersebut, cuma beberapa bagian,” ujarnya.

Koleksi ‘She’ Saul Studio di ajang Jakarta Fashion Week 2027 (dok. Instagram)

Penggunaan serat nanas berawal dari percobaan menggunakan serat rotan yang dinilai terlalu kaku dan sulit dicuci. Serat nanas dipilih karena merupakan bahan yang washable (dapat dicuci) dan dapat dikerjakan bersama perajin lokal untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

“Serat nanas itu punya karakteristik sangat kaku (lebih kaku dari linen), sulit disetrika, sehingga membutuhkan pewarnaan ulang kombinasi dan perlakuan pencucian khusus agar tidak mudah susut atau ciut,” ujar Debora.

Dia mengaku proses pengembangan koleksi serat nanas memakan waktu sekitar satu tahun karena melewati tahap pengembangan yang matang sebelum akhirnya diluncurkan.

Selain mengaplikasikan serat nanas, koleksi ‘She’ dibuat dari bahan semi-wool dan katun dengan alasan kenyamanan, khususnya saat cuaca panas.

Sejak dibesut 13 tahun lalu, Saul berkomitmen menyajikan busana yang berdaya pakai tinggi, mudah mix and match, sehingga dapat dipakai untuk berbagai situasi, mulai santai, kerja hingga acara formal.

Koleksi ‘She’ Saul Studio di ajang Jakarta Fashion Week 2027 (dok. Instagram)

Konsumen menyukai jenis outer dengan desain edgy dan unik pada rentang harga terjangkau Rp500.000 – Rp1.000.000. “Koleksi Saul menonjolkan keunikan dengan desain edgy. Konsisten menjaga kualitas produk dan loyalitas konsumen dengan melakukan seluruh proses produksi secara mandiri (in-house) serta kontrol kualitas jahitan yang ketat. Desainnya lumayan rumit dan aku cerewet sama jahitan, aku maunya rapi,” tandas Debora.

Satu hal yang dipegang Debora sebagai sosok kreatif Saul, merek ini tidak pernah menerima kerja sama white-label (melepas merek dagang atau unbrand) demi menjaga etika bisnis dan keaslian produk. “Sejak awal memang nggak mau white label, semua harus pakai merek Saul,” ujarnya.

Jenama lokal itu sudah merambah mancanegara dengan sistem beli putus. “Penjualan ke luar negeri menggunakan sistem wholesale (beli putus) secara langsung dengan pengecekan identitas pembeli untuk memastikan keaslian produk,” ujar Debora.

Meskipun di dunia mode terjadi pergeseran tren menuju fast fashion, namun Debora optimistis target pasarnya adalah orang-orang yang menghargai desain, kualitas, dan hasil karya secara lebih mendalam. “Konsumen Saul itu loyal. Mereka yang pernah membeli akan kembali lagi,” pungkasnya. (HG)