Hidupgaya.co – Bagi Vielga Wennida, desainer sekaligus pendiri Roemah Kebaya Vielga, bordir manual bukan sekadar ornamen untuk mempercantik busana, melainkan bagian dari tradisi yang harus terus hidup di tengah perkembangan teknologi industri fesyen dewasa ini.

Ada tangan-tangan terampil dan tekun yang mencurahan waktu dan tenaga dalam bordir indah di atas sehelai kebaya cantik yang membalut tubuh perempuan dengan anggun.

Selama 16 tahun berkarya, ia konsisten mengangkat keindahan bordir manual melalui desain kebaya yang elegan.

Dibesut sejak Juni 2010, koleksi kebaya bordir manual menjadi ciri khas melekat Roemah Kebaya Vielga. Setiap kebaya merupakan hasil ketekunan tangan para perajin, memadukan keahlian tradisional dengan desain yang relevan bagi perempuan masa kini.

“Kami mengembangkan usaha yang berawal dari bisnis bordir dan kebaya milik ibu saya dan menghadirkan sentuhan baru melalui permainan warna, motif, dan standar kualitas yang lebih modern,” ujar Vielga saat berbincang di stan Roemah Kebaya Vielga di Dewi’s Luxe Market dalam rangkaian Jakarta Fashion Week 2027 di PIM 3 Jakarta Selatan, Senin (26/10).

Salah satu ciri khas karya Vielga adalah teknik kerancang, teknik bordir manual yang menghasilkan lubang-lubang dekoratif pada kain.

Bordir kerancang, atau disebut juga atau teknik terawang, merupakan teknik membordir dengan cara melubangi bagian kain tertentu, kemudian lubang tersebut dijahit dan diikat menggunakan jalinan benang yang rapat.

Teknik ini menciptakan motif tembus pandang (terawang) atau berongga yang rapi dan artistik. Prosesnya membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan khusus agar setiap detail terlihat rapi.

Vielga bersama salah satu perajin bordir manual (dok. Ist)

Sejak awal membesarkan merek Roemah Kebaya Vielga, mantan akuntan ini bertekad konsisten menggunakan bordir manual, alih-alih bordir mesin yang bisa diproduksi massal dan cepat. Alasannya? “Bordir tangan memiliki karakter yang tidak dapat sepenuhnya digantikan mesin. Setiap karya menyimpan sentuhan manusia, seperti lukisan yang dibuat langsung dengan tangan,” bebernya.

Atas alasan itulah, Vielga bersama tim termasuk 200 perajin bordir manual yang telah mendukungnya selama ini bertekad mempertahankan penggunaan bordir manual dalam koleksi kebayanya.

Sebagian besar perajin itu berdomisili di Payakumbuh, Sumatra Barat. Banyak di antaranya merupakan perempuan yang mengerjakan bordir dari rumah sambil menjalankan tanggung jawab keluarga

Dalam mendesain motif bordir di kebaya, Vielga menyematkan motif bunga seperti melati, mawar, dahlia, alamanda, krisan, peony, hingga wisteria.

Kegemarannya melukis dan menggambar yang telah ia tekuni sejak lama, khususnya dengan tema motif bunga dan botani yang penuh warna, turut mendorongnya terjun ke dunia desain.

Untuk desain kebaya, Vielga terinspirasi dari alam, kekayaan motif tradisional Indonesia, hingga pengalaman perjalanan ke mancanegara.

Vielga bersama koleksi Roemah Kebaya Vielga di Dewi’s Luxe Market sebagai rangkaian JFW 2027 di PIM 3 Jakarta Selatan (dok. Hidupgaya)

Koleksi Roemah Kebaya Vielga juga penuh warna. “Dalam satu kebaya, kami bisa menggunakan sekitar 10 hingga 12 warna benang untuk menciptakan komposisi yang hidup dan berkarakter,” urainya.

Mendorong kemandirian ekonomi perajin bordir

Komitmen menggunakan bordir manual juga sebagai bentuk tanggung jawab memberikan ruang bagi perajin untuk berkembang sekaligus menjadikan keterampilan itu sebagai sumber penghasilan.

Vielga menekankan niatnya mendorong para perajin agar pekerjaan membordir tidak sekadar menjadi kegiatan sampingan, tetapi juga dapat memberikan nilai ekonomi yang layak bagi pelaku usaha.

Adapun proses pengerjaan dilakukan secara bertahap. “Desain dikembangkan di Jakarta, kemudian pola dan detailnya dikomunikasikan kepada perajin di Payakumbuh,” urai Vielga.

Satu kebaya dapat dikerjakan oleh dua hingga tiga orang, bergantung pada tingkat kerumitan. Untuk bordir sederhana, pengerjaan bisa memerlukan sekitar tiga hari.

Adapun esain yang lebih rumit dapat memakan waktu berminggu-minggu, bahkan hingga satu atau dua bulan.

Ketelitian menjadi sangat penting, terutama ketika bordir diaplikasikan pada kain tipis seperti organza. Kesalahan kecil dapat memengaruhi bentuk kain dan keseluruhan tampilan busana. “Kalau hasilnya jelek harus diulang. Konsekuensinya butuh proses lebih lama. Tapi itu bagian dari risiko bordir manual,” cetusnya.

Peran AI dalam desain

Tak dimungkiri, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) teramat pesat dan menyentuh segala lini, termasuk dari sisi desain. Terkait perkembangan ini, Vielga melihat AI dari sisi positif, yakni membantu menerjemahkan ide menjadi visual desain.

Namun, teknologi tetap butuh campur tangan manusia dalam menghasilkan produk akhir yang sesuai dengan harapan. “Prompt-nya harus benar dan detail. Bahkan dengan bantuan AI, kalau prompt-nya tidak jelas, hasilnya juga tidak sesuai harapan,” urainya.

Koleksi Roemah Kebaya Vielga dengan teknik bordir manual (dok. Hidupgaya)

Selain disukai konsumen dalam negeri, koleksi Roemah Kebaya Vielga juga merambah mancanegara, terutama negara serumpun seperti Malaysia dan Singapura.

Bagi Vielga, desain kebaya bisa luwes menyesuaikan karakter pasar tanpa meninggalkan identitas tradisionalnya.

“Di Singapura, konsumen menyukai kebaya bergaya peranakan dengan teknik kerancang dan warna pastel seperti hijau muda, biru turquoise, serta merah muda,” ujarnya seraya menambahkan konsumen Malaysia cenderung menyukai siluet kebaya yang lebih panjang dan lurus.

Perbedaan selera tersebut menjadi ruang bagi Vielga untuk mengeksplorasi desain sekaligus memperkenalkan keindahan bordir Indonesia kepada konsumen yang lebih luas.

Dalam proses kreatifnya, setiap koleksi dikembangkan melalui konsep dan inspirasi yang berbeda.

Vielga menyadari bahwa konsumen busana premium makin selektif, mempertimbangkan kualitas serta nilai di balik sebuah produk. “Karena itu, saya memilih mempertahankan proses pengerjaan manual sebagai keunggulan Roemah Kebaya Vielga. Banyak konsumen loyal yang menghargai karya ini sejak awal hingga kini, bahkan mewariskan ke anak-anaknya,” ujarnya.

Menjaga bordir tangan relevan dengan kalangan muda

Dia bertekad menjaga bordir manual agar tetap relevan bagi generasi muda. “Anak saya yang berusia 15 tahun sudah saya kenalkan bordir manual sejak dini, mengenalkan filosofinya dan mendorong dia mencoba. Kalau hasilnya belum bagus, tidak apa-apa. Itu akan berproses,” tuturnya.

Vielga Wennida, pendiri Roemah Kebaya Vielga (dok. ist)

Untuk memperkenalkan bordir manual ke kalangan lebih luas, Vielga teratur mengikuti peragaan busana, kolaborasi kreatif dengan berbagai pihak hingga terlibat dalam kegiatan bersama mahasiswa.

“Generasi muda perlu mengenal proses di balik sebuah busana, termasuk perbedaan antara kerajinan manual dan produksi mesin. Mereka perlu diberikan pemahaman tentang nilai karya buatan tangan,” tandasnya.

Harga kebaya Roemah Kebaya Vielga berkisar antara Rp2,25 juta hingga Rp17 juta, bergantung pada bahan, kerumitan motif, dan banyaknya detail bordir.

Baginya, nilai sebuah karya tidak hanya terletak pada tampilannya, tetapi juga pada waktu, keterampilan, dan ketelitian yang menyertainya.

Melalui Roemah Kebaya Vielga, ia berharap bordir manual Nusantara tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus tumbuh menjadi karya yang dihargai dan tetap relevan di tengah perkembangan mode masa kini. (HG)