Hidupgaya.co – Pertumbuhan industri estetika di Tanah Air terbilang masif, bak jamur di musim hujan. Selaras dengan hal positif itu kebutuhan terhadap tenaga profesional yang memiliki pengetahuan dan kompetensi yang memadai juga semakin penting.

Perlu diketahui, kemampuan dokter dalam praktik tidak cukup hanya dibangun melalui pemahaman teori. Artinya, dokter juga butuh keterampilan klinis yang dapat diterapkan dalam menghadapi kondisi nyata di lapangan.

Menjawab kebutuhan tersebut, Dermaesthetics Academy hadir untuk menjadi bagian dari perkembangan tersebut melalui program edukasi yang menghubungkan pemgetahuan, keahlian dan pengalaman secara langsung.

“Dunia estetika medis berkembang begitu cepat, teknologi kian manu, pilihan treatment semakin beragam, dan kebutuhan pasien semakin spesifik,” terang dr. Lilik Norawati, Sp.DVE, FINSDV, FAADV di sela peluncuran Dermaesthetics Academy di Kawasan Bekasi Central Business District (BCBD), Senin (21/9).

Karenanya dokter tidak hanya dituntut untuk mengikuti perkembangan, tetapi juga untuk memahami ilmu dan menguasai teknik di balik setiap tindakan. “Itulah yang menjadi dasar hadirnya Dermaesthetics Academy,” ujar dr. Lilik yang bertindak sebagai Kepala Program Studi Dermaesthetics Academy.

Dermaesthetic Academy merupakan awal dari perjalanan sekaligus komitmen bersama untuk mendorong kemajuan pendidikan estetika medis di Indonesia.

Akademi ini punya visi membangun pendidikan dermatologi estetik yang ilmiah, terstruktur, sekaligus aplikatif. Aspek praktik menjadi salah satu perhatian dalam sistem pendidikan yang akan dikembangkan oleh akademi tersebut.

“Yang kami akan ajarkan di sini adalah aplikatif, tidak hanya sekadar teori,” imbuhnya.

Dia menekankan, kombinasi antara teori dan praktik menjadi salah satu pendekatan yang dihadirkan Dermaesthetics Academy untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih
komprehensif dan aplikatif.

Kesempatan sama, Direktur Aesthetic Academy dr. Stiven Eli menyampaikan pendidikan dan pelatihan medis yang ada kebanyakan berorientasi pada produk.

Ketika sebuah produk diperkenalkan, materi pelatihan kemudian disusun berdasarkan cara penggunaan produk tersebut.

Training di Indonesia ini ada banyak dan gratis, lama-lama semua yang tersedia di luar ini mengikuti satu template,” tuturnya.

Direktur Dermaesthetics Academy dr. Stiven Eli di acara pembukaan peluncuran Dermaesthetics Academy di Kawasan Bekasi Central Business District (BCBD)

Diakui Stiven pendekatan tersebut sah-sah saja, karena dokter memang perlu memahami produk dan prosedur yang digunakan dalam praktik.

Namun, ada aspek mendasar yang tidak boleh ditinggalkan, yakni pemahaman mengenai bagaimana suatu produk bekerja ketika berinteraksi dengan struktur biologis manusia.

“Perkembangan layanan estetika medis di Indonesia sangat pesat. Itu perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas pemahaman dan kompetensi dokter sehingga tidak muncul istilah dokter tukang suntik,” ujar dr. Stiven merujuk pada istilah yang menggambarkan praktik yang terlalu mengandalkan hafalan prosedur.

Dia tak memungkti bahwa kemampuan menghafal titik penyuntikan dan mengikuti prosedur memang dapat menghasilkan tindakan yang baik dalam kondisi tertentu.

Akan tetapi hal itu punya keterbatasan, terutama ketika dokter berhadapan dengan variasi anatomi pasien atau komplikasi yang tidak sesuai dengan skenario yang pernah dipelajari.

Lebih lanjut dr. Stiven menegaskan dokter butuh lebih dati sekadar hafalan prosedur, melainkan harus diimbangi dengan pemahaman dasar.

Konsep pendidikan yang dibawa Dermaesthetic Academy menurut dr. Stiven justru diarahkan pada basic understanding alias pemahaman dasar. Dalam hal ini,
hafalan bukanlah sebagai fondasi utama dalam melakukan tindakan estetika.

Hal ini penting, sebab penanganan setiap pasien memiliki tantangan tersendiri, sehingga prosedur hafalan saja tidaklah cukup. “Dalam prosedur estetika harus disertai dengan pemahaman yang kuat mengenai anatomi manusia. Kemajuan teknologi harus berjalan bersama dengan pemahaman anatomi,” tandasnya.

Pentingnya dokter mendalami anatomi

Tak kalah menarik di sesi live demo, dr. Almond Wibowo, M. Biomed (AAM), yang sudah berpraktik belasan tahun di klinik kecantikan menangani ratusan pasien berbagi wawasan pentingnya menimbang faktor risiko saat melakukan tindakan medis.

“Kalau kita sebagai dokter mau melakukan tindakan medis dokter harus selalu confirm dengan faktor risikonya, itu worth it nggak untuk dikerjain. Cukup nggak jam terbangnya, cukup nggak pengalaman dokter untuk mengatasi risiko. Jadi bukan cuma keren-kerenan,” ujarnya.

Dia mencontohkan tindakan filler ke wajah yang kerap diterapkan kepada pasien. “Filler itu semuanya diinjeksikan ke muka. Nah, ada beberapa area yang paling sering bikin komplikasi,” bebernya.

Direktur Dermaesthetics Academy dr. Stiven Eli berbagi wawasan tentang tren industri estetika di Tanah Air

Lebih lanjut dr. Almond menyampaikan komplikasi yang muncul bukan sebatas lebam atau bengkak. “Yang saya maksud itu komplikasi  yang bikin dokter sakit kepala, kebanyakan urusannya vaskular alias pembuluh darah,” bebernya.

Dokter salah suntik di area wajah dan kena pembuluh darah bisa memicu emboli yang berpotensi fatal, imbuhnya.

Area wajah yang cukup aman disuntik filler menurut dr. Almond dagu, bibir, dan pipi. Sedangkan yang berisiko karena banyak mengandung pmbuluh darah adalah garis senyum dan area mata.

Untuk meminimalkan risiko, dia mendorong dokter untuk paham area anatomi. “Jangan bilang pelajaran anatomi pas kuliah nggak ada korelasinya kalau praktik. Kalau dokter estetik itu akan kepakai lagi. Jadi tolong para dokter jangan lupa itu anatominya,” urai dr. Almond.

Karena alasan inilah, salah satu kurikulum paling kuat di Dermaesthetic Academy adalah anatomi.

Dokter yang tidak mengenal anatomi tubuh pasien berpotensi tinggi memicu komplikasi saat dan pasca tindakan. “Akibat anatominya dilupain bisa bikin tingkat komplikasi vaskular sampai sekarang masih tetap tinggi,” tandasnya. (HG)