Hidupgaya.co – Pelancong Indonesia kini menginginkan pengalaman menginap yang autentik, berkesan, dan terikat dengan budaya serta lingkungan lokal, tidak sekadar tempat bermalam. IHG Hotels & Resorts (IHG) merespons tren ini dengan menghadirkan berbagai lini merek, mencakup luxury, premium, dan mainstream.
Menurut Vivek Bhalla, Managing Director, Southeast Asia & Korea IHG, Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menghadirkan pengalaman berkesan bagi pelancong dalam dan luar negeri. “Wisatawan kini menginginkan lebih dari sekadar tempat untuk menginap. Mereka mencari pengalaman yang memiliki keterkaitan nyata dengan destinasi, baik melalui budaya, kuliner, alam, maupun wellness,” ujarnya di acara ‘Media Gathering: Supporting Indonesia’s Next Chapter of Tourism Growth’ di Jakarta, Rabu (4/11).
Vivek menyampaikan Indonesia memiliki potensi untuk membangun ekosistem pariwisata yang tidak hanya mengandalkan satu destinasi unggulan.
Harus diakui, Bali masih menjadi tulang punggung utama tujuan pariwisata Indonesia. Sekitar 40-50 persen perjalanan wisatawan internasional menuju Indonesia terkonsentrasi di Pulau Dewata, sementara lebih dari 50 persen penerimaan sektor pariwisata nasional berasal dari wilayah tersebut.
Karena itu, perlu pengembangan tujuan wisata alternatif agar pertumbuhan industri pariwisata dapat dirasakan lebih luas oleh berbagai daerah. Pengembangan pariwisata daerah juga berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat dan pelestarian warisan budaya. “Hal ini juga memberikan kesempatan untuk merayakan kekayaan budaya dan warisan Indonesia, sekaligus menawarkan pengalaman lokal yang autentik kepada para tamu,” ujar Vivek.
Menurutnya, pengalaman tersebut juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat setempat, mendukung pelestarian budaya, dan menciptakan peluang bagi pelaku usaha lokal.
Dalam upaya menangkap peluang pertumbuhan pariwisata di Tanah Air, IHG punya komitmen melakukan ekspansi jaringan perhotelan.

Strategi pengembangan IHG menggunakan pendekatan berbasis kelompok destinasi (cluster destination-led approach). Melalui metode ini, sebut Vivek, perusahaan berupaya membangun skala bisnis sekaligus memperluas jangkauan operasional di berbagai kawasan Indonesia.
Lebih lanjut VIvek menambahkan, komitmen IHG di Indonesia tidak sebatas pada pengalaman tamu, melainkan diwujudkan melalui pemberdayaan masyarakat lokal dan prinsip keberlanjutan. Hingga saat ini, IHG telah mempekerjakan hampir 3.700 orang di Indonesia dengan lebih dari 95 persennya merupakan tenaga kerja lokal.
Hotel-hotel IHG di Indonesia juga telah bekerja sama dengan berbagai pelaku usaha lokal seperti petani, nelayan, dan perajin. Kemitraan ini mendukung mata pencaharian masyarakat, meningkatkan apresiasi terhadap produk lokal, serta membantu menggerakkan perekonomian setempat.
IHG juga bekerja sama dengan universitas dan lembaga pendidikan di Jakarta, Bali, dan Bandung untuk mengembangkan generasi berikutnya dari tenaga profesional di industri perhotelan.
IHG saat ini mengoperasikan 35 hotel di 11 destinasi dan menyiapkan 13 hotel baru dalam proyek pengembangan (pipeline), seperti ekspansi Hotel Indigo dan pembukaan Kimpton Suntaya Bali Ubud pada akhir 2026.
Vivek mengungkap, keberagaman hotel dari kelas luxury, premium, dan mainstream membuka ruang bagi IHG untuk berkembang di berbagai segmen, hadirkan pengalaman menginap yang khas dan berkesan bagi setiap pelancong. (HG)