Hidupgaya.co – Minat kalangan anak muda, khususnya Gen Z dan Milenial telah bergeser. Mereka tak lagi mengandalkan barang bermerek untuk tampil gaya, namun lebih fokus pada perawatan kesehatan dan kecantikan.

“Zaman sejarang, the real flex and the real luxury telah beralih ke badan dan kulit yang bagus, alih-alih menenteng tas premium dengan harga fantastis. Untuk bisa mencapai itu, tubuh dan wajah harus dirawat sejak dini,” ujar dr. Deasy Lius Sp.DVE dalam sesi diskusi ilmiah yang dihelat Nordberg Medical Indonesia di Jakarta, Sabtu (22/8).

Dia menyoroti bentuk wajah lancip seperti huruf V tidak lagi diminati anak muda. “Tren estetika telah berubah. Makin natural, makin kelihatan nggak diapa-apain, makin bagus,” imbuhnya.

Tren kecantikan estetik di Asia berkembang pesat, bahkan mengungguli Eropa. “Jadi untuk orang-orang Asia, estetik ini nih penting banget. Melihat predictive growth-nya itu bisa 40-45 persen,” lanjut dr. Deasy.

dr. Deasy Lius Sp.DVE dalam sesi diskusi ilmiah yang dihelat Nordberg Medical Indonesia di Jakarta (dok. Hidupgaya)

Bicara soal kecantikan kulit, tak bisa jauh-jauh dari kolagen. Faktanya, saat memasuki umur 25 kolagen mulai turun. “Ini beneran. Dari umur 25 itu kolagen turun 1 persen tiap tahun. Saat usia itu memang belum kelihatan, baru akan terlihat saat masuk usia 40-an, misalnya kulit mulai kendur, keriput muncul, dan sebagainya,” terangnya.

Kalau dianalogikan sebagai rumah, maka kolagen bertindak sebagai tiang. “Kalau di kulit, saat produksi kolagen baik maka tampilan kulit akan terlihat bagus, nggak banyak keriput. Kalau tiangnya jelek, kolagen turun, maka tampilan kulit akan kelihatan keriput, terlihat menua,” lanjut dr. Deasy.

Collagen stimulator, mendorong produksi kolagen alami

Salah satu tren kecantikan yang tengah digemari adalah collagen stimulator. “Gampangnya, saat kolagen mulai berkurang signifikan, perlu ditambahkan suatu zat yang akan merangsang produksi kolagen lebih banyak, sehingga kulit menjadi lebih kuat lagi,” bebernya.

Perawatan collagen stimulator bekerja secara bertahap untuk merangsang pertumbuhan kolagen. Ini berbeda dengan filler yang memberikan hasil pengisian (plumping) instan untuk penampilan yang segar dan awet muda.

Collagen stimulator dirancang untuk meremajakan kulit dengan mendorong tubuh memproduksi kolagen alami, bekerja secara bertahap untuk mengembalikan kekencangan dan elastisitas dari dalam, menciptakan hasil yang tahan lama dan tampak natural,” ujar dr. Lanny Juniarti, Dipl. AAAM, pendiri Miracle Aesthetic Clinic, kesempatan sama.

dr. Lanny Juniarti, Dipl. AAAM, pendiri Miracle Aesthetic Clinic (dok. Hidupgaya)

Hal senada disampaikan dr. Jeffri Setiawan, Dipl. AAAM, collagen stimulator dapat mendorong produksi kolagen secara alami tanpa meninggalkan volume yang berlebihan. “Bahan collagen simulator akan dimasukkan ke kulit melalui proses injeksi, yang akan menghasilkan kolagen alami menjadi sesuatu yang lebih natural, sehingga pasien menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri,” ujarnya.

Dia menyampaikan, kandidat yang cocok untuk collagen stimulator adalah kasus penuaan kulit yang ringan hinga sedang, ditandai dengan keluarnya smile line (garis senyum), dan volume kult belum terlalu loose.

“Kalau volumenya sudah hilang semua tentunya collagen stimulator bukan pilihan utama. Untuk kasus ini lebih cocok memakai filler untuk mengisi volume yang hilang itu,” jelasnya.

Dokter Jeffri mengatakan telah mencoba collagen stimulator Julaine untuk mengatasi keluhan skin aging pasien di kliniknya. Julaine merupakan perawatan suntik generasi baru berbahan dasar Poly-L-lactic Acid (PLLA) asal Swedia.

Teknologi mikrosfer halusnya merangsang sel kolagen dan elastin alami kulit secara bertahap, sehingga kulit terlihat lebih kencang, memperbaiki tekstur, dan menambah kekenyalan tanpa memicu radang berlebih atau efek bervolume kaku.

Collagen stimulator ini mengaktifkan sel fibroblas untuk memproduksi kolagen dari dalam, memperbaiki tekstur kulit yang kendur atau kasar. “Menggunakan teknologi LASYNPRO untuk hasil yang lebih alami. Reaksi radang pasca-suntik sangat minimal dibanding PLLA biasa,” ujar dr. Jeffri.

Hasil perawatan Julaine akan terlihat dalam 7 bulan setelah tindakan. “Julaine ini melengkapi praktik kami sehari-hari untuk menunjang hasil yang lebih natural bagi pasien,” imbuhnya.

“Apabila pasien sudah mendapatkan hasil yang baik, tugas kita sebagai praktisi tentunya adalah evaluasi. Kalau hasilnya sudah baik, tentunya kita berhenti di situ,” tutur dr. Jeffri.

“ebagai praktisi medis, dokter estetika, tentunya kita tahu kapan harus melanjutkan treatment, kapan kita berhenti dan mengatakan cukup kepada pasien sekalipun pasien menginginkan dan memiliki budget lebih untuk melanjutkan perawatan.”

dr. Jeffri Setiawan, Dipl. AAAM

Pilihan bertanggung jawab, bukan skadar ikut tren viral

Eka Meliasari Khu, Country Leader Nordberg Medical perwakilan Indonesia, menyoroti peran brand ambassador/spoke person dari berbagai produk perawatan estetika, hingga pemengaruh kecantikan dalam mempengaruhi persepsi pasien estetika dan mempengaruhi keputusannya dalam tindakan estetika medis.

“Perkembangan tersebut menimbulkan pergeseran pradigma estetika medis yang seharusnya perawatan dipimpin oleh dokter menjadi consumer driven model,” ujarnya.

Dari kacamata ekonomi tak dimungkiri perkembangan tersebut mengarah ke angka pertumbuhan finansial yang positif, namun dari sisi kacamata medis hal tersebut menimbulkan tantangan etis pada praktek estetika medis di klinik seperti estetika medis berubah menjadi komoditas, konflik kepentingan, layanan tidak berdasarkan evidence-based medicine, dan meningkatnya penyedia layanan estetika bukan dokter resmi.

“Pergeseran itu dapat menimbulkan kebingungan pasien dalam memilih siapa dan apa yang harus diikuti yang pada akhirnya risiko ada di tangan pasien,” imbuhnya.

Jajaran pembicara dan manajemen Nordberg Medical Indonesia dalam diskusi ilmiah terkait regenerative medicine di Jakarta (22/8)

Untuk itu, menandai kehadiran Nordberg Medical di Indonesia, perusahaan bioteknologi asal Swedia itu berkolaborasi dengan klinik estetika terkemuka menggelar edukasi media untuk mengenal lebih jauh mengenai evidence-based medicine di bidang estetika guna membantu pasien estetika untuk mendapatkan pelayanan estetika yang bertanggung jawab.

“Ajang ini menghadirkan serangkaian expert dari Indonesia untuk memberikan edukasi terkait dengan unique science di bidang regenerative medicine,” cetus Eka.

Resmi beroperasi di Indonesia, Nordberg Medical hendak membuat suatu ekosistem untuk regenerative medicine yang melibatkan kolaborasi perusahaan dengan healthcare professional. “Tidak melulu membahas produk, tapi kita ingin membantu supaya pasien lebih bijak dan juga lebih kritis. Tidak sekadar ikut tren viral yang belum tentu cocok,” tandasnya.

Aesthetic medicine is still medicine. Obat gitu kan, tetep aja obat. Jadi memang berdasarkan kebutuhan. Bukan berdasarkan yang lagi viral apa. Kita ingin mengajak konsumen melihat dari sisi kebutuhannya apa, bukan tergantung pada tren yang tiada habisnya,” pungkas Eka.(HG)