Hidupgaya.co – Memasuki Breast Cancer Awareness Month, Lovepink kembali hadirkan Indonesia Goes Pink 2026, gerakan tahunan untuk meningkatkan kesadaran mengenai kanker payudara, mendorong deteksi dini, sekaligus membangun dukungan bagi pejuang dan penyintas kanker payudara.

Mengusung semangat ‘Celebrate Strength, Embrace Gratitude’ pembuka rangkaian Indonesia Goes Pink 2026 berlangsung di Plaza Indonesia Jakarta, Minggu (4/10). Ribuan orang, termasuk anak-anak muda, berpakaian merah muda turut serta dalam acara ini berkonvoi menyuarakan kepedulian tentang kanker payudara.

“Melalui Indonesia Goes Pink 2026, Lovepink mengajak masyarakat menjadikan Breast Cancer Awareness Month bukan sekadar momentum tahunan,” kata Dede Gracia, Ketua Indonesia Goes Pink 2026 dan Ketua Yayasan Daya Dara Indonesia (Lovepink).

Dia menyampaikan, tujuan utama Indonesia Goes Pink adalah kampanye tentang pentingnya deteksi dini kanker payudara. “Ini adalah salah satu event terbesarnya Lovepink, menandai Bulan Kanker Payudara Sedunia yang diperingati setiap Oktober,” imbuhnya

Acara ini membawa misi edukasi agar perempuan di Indonesia mulai mau melakukan SADARI (periksa payudara sendiri). “SADARI sangat mudah dilakukan di rumah. Dilakukannya kapan? Itu hari ke-7 sampai ke-10 setelah menstruasi hari pertama. Untuk yang sudah menopause itu biasanya dilakukan di tanggal-tanggal khusus,” ujar Dede.

Dia mengingatkan pria juga perku melakukan SADARI. “Pria penting lakukan SADARI karena 1 banding 100 pria berisiko terkena kanker payudara,” ujarnya.

Apabila ditemukan keanehan, misalnya benjolan, pada payudara saat SADARI, Dede mendorong agar mengunjungi dokter untuk dilakukan USG. “Kalau usia masih di bawah 40 cukup USG. Tapi kalau sudah di atas itu biasanya akan disambung lagi dengan namanya mamografi. USD itu masih skrining awal,” beber Dede.

Dede Gracia, Ketua Lovepink di depan mobil USG di sela acara Indonesia Goes Pink 2026 di Plaza Indonesia, Minggu (4/10) – dok. Hidupgaya

Dari hasil USG akan terlihat apakah benjolan itu kista biasa, tumor, atau ada kecenderungan menjadi ganas. “Nah dari USG biasanya langkah berikutnya diminta untuk biopsi, untuk menentukan apakah itu ganas atau tidak. Tapi bisa juga langsung melakukan mamografi, karena akan lebih jelas lagi,” terang Dede.

Lantas, pada usia berapa sebaiknya perempuan mulai melakukan SADARI? “Sebenarnya begitu menstruasi, itu sudah mulai melakukan SADARI. Karena hormon berarti sudah mulai bekerja, jadi di usia itu perlu melakukan SADARI. Lovepink juga mengedukasi siswa SMA untuk melakukan SADARI,” cetusnya.

Dede menyampaikan, berbagai kasus kanker payudara di Tanah Air, misalnya yang datang ke RS Kanker Dharmais, sudah berada di stadium lanjut. “Jadi sudah stadium tiga ke atas. Nah sementara yang kita lakukan adalah lockdown dengan menyuarakan pentingnya deteksi dini,” tandasnya.

“Lovepink mengomunikasikan deteksi dari masih muda atau dari tidak ada apa-apa, untuk selalu sadar. Sehingga begitu tahu ada apa-apa kayak tadi, tahu-tahu ada benjolan, itu sadarnya lebih dini.”

Dia menekankan, apabila kanker terdeteksi lebih dini, biaya yang dikeluarkan juga lebih sedikit dan untuk sembuhnya pun lebih besar. 

Sejak 2015 hingga kini, Lovepink berhasil menggelar USG payudara gratis dan menjangkau 18 ribu orang. Sayangnya, dari situ belum diketahui berapa orang yang dinyatakan positif kanker. “Datanya belum ada, kita memang belum melakukan pendataan seperti itu,” ujarnya.

Dede berharap, dengan kegiatan Indonesia Goes Pink makin banyak masyarakat peduli dengan kanker payudara dan mau melakukan deteksi dini mandiri dengan SADARI. (HG)