Hidupgaya.co – Kontroversi keluarga aktor Korea Ahn Ha Young memicu minat besar media dan warganet Jepang, sebagian besar membela figur yang tengah naik daun berkat drama seri ‘Our Sticky Love’ yang tayang di Netflix.
Ha Young, yang menghadapi kritik publik akibat tanggapan awalnya terhadap terungkapnya aktivitas pro-Jepang yang dilakukan oleh kakek buyutnya, Ahn Sang-ho (1872-1927).
Sebagian besar reaksi dari Jepang menunjukkan simpati terhadap Ha; beberapa pihak menyebut reaksi keras publik tersebut sebagai bentuk ‘kesalahan karena asosiasi’ di era modern dan mengkritik respons yang muncul di Korea.
Reaksi ini menyoroti perbedaan perspektif yang tajam antara Jepang—mantan kekuatan kolonial—dan Korea, yang berada di bawah kekuasaan kolonial Jepang dari tahun 1910 hingga 1945.
Sebuah kolom yang diterbitkan oleh media konservatif Jepang, JBpress, menjadi salah satu contohnya. Judul artikel tersebut ‘Mengapa Korea tidak memaafkan keturunan kolaborator pro-Jepang? ‘Kesalahan karena asosiasi’ di era modern yang memojokkan selebritas dan politisasi sejarah’—memperlihatkan pandangan kritis mereka terhadap respons publik Korea.

Media tersebut awalnya memaparkan fakta-fakta yang diketahui, yakni mengidentifikasi kakek buyut Ha sebagai Ahn Sang-ho, yang pernah menjabat sebagai anggota dewan Asosiasi Persahabatan Bisnis Taisho, sebuah organisasi yang dibentuk pada masa penjajahan.
Mereka menggambarkan kelompok tersebut sebagai organisasi kalangan atas Korea yang mempromosikan ‘harmoni antara Jepang dan Korea.’
Namun, JBpress menyatakan bahwa tindakan Ahn tidak seharusnya disamakan dengan tindakan Ha. “Ha Young tidak pernah mengalami masa penjajahan Jepang, namun tindakan masa lalu kakek buyut yang bahkan tidak pernah ia temui kini dipermasalahkan,” tulis media tersebut.
“Hal ini terasa sangat tidak masuk akal, namun entah bagaimana ia dicap sebagai ‘keturunan kolaborator pro-Jepang’.”
Media itu juga mengkritik budaya mengulik riwayat keluarga selebritas, dengan menyatakan bahwa ketika seseorang menjadi terkenal di Korea, tidak hanya masa lalu orang tersebut yang disorot, tetapi juga riwayat orang tua, saudara kandung, bahkan leluhur mereka bisa ikut diperiksa.
Sebuah kolom dari Fuji News Network (FNN) menyampaikan penilaian serupa. “Situasi di mana program dan iklan yang melibatkan Ha ditarik atau disembunyikan dari publik akibat tuduhan terkait kakek buyutnya dapat digambarkan sebagai bentuk ‘kesalahan karena asosiasi’ di era modern,” demikian bunyi kolom tersebut.
“Perlu dibedakan antara tindakan yang terbukti dan tuduhan tak berdasar, antara leluhur dan keturunan, serta antara tanggung jawab sejarah dan serangan politik masa kini,” demikian pernyataannya. “Jika tidak, cakupan istilah ‘pro-Jepang’ bisa meluas tanpa batas, hingga kita kehilangan pandangan mengenai apa yang sebenarnya patut dikritik dan diingat.”
Argumennya adalah bahwa situasi tersebut harus dinilai secara lebih objektif karena Ha sendiri tidak terlibat dalam aktivitas pro-Jepang.
Reaksi serupa muncul di kalangan pengguna internet Jepang. Seorang pengguna asal Jepang menulis bahwa orang Korea “cenderung menciptakan sosok ‘pendosa’ baru berdasarkan perspektif yang sepotong-sepotong, mungkin karena iri dengan kesuksesan orang lain,” seraya menambahkan bahwa banyak leluhur yang dicap ‘pro-Jepang’ sebenarnya hanyalah ‘orang biasa yang sekadar mengikuti arus keadaan pada masa itu.’
Komentar-komentar semacam itu pada dasarnya membela orang-orang yang dituduh melakukan kolaborasi dengan penjajah beserta tindakan mereka.
Beberapa tanggapan bahkan melangkah lebih jauh dengan menampilkan pandangan yang tidak akurat secara historis atau terdistorsi, termasuk klaim bahwa Jepang juga memiliki ’25 juta korban’ dan bahwa peristiwa 80 tahun lalu seharusnya tidak lagi diungkit, serta klaim bahwa Yi Wan-yong—tokoh kolaborator pro-Jepang terkemuka—sebenarnya ‘berada di pihak yang sama dengan gerakan kemerdekaan karena ia meminta bantuan Jepang.’
Kontroversi ini bermula setelah Ha tampil dalam acara varietas KBS 2TV berjudul ‘Problem Child in House’ pada 7 Agustus dan mengatakan bahwa ia berasal dari keluarga yang telah melahirkan dokter selama empat generasi.
Belakangan terungkap bahwa kakek buyutnya adalah Ahn Sang-ho, seorang dokter pada masa penjajahan Jepang, dan rincian mengenai aktivitas pro-Jepangnya pun mencuat ke publik.
Pihak Ha awalnya menyatakan bahwa tuduhan tersebut ‘tidak berdasar’ yang memicu kritik tajam.
Ia akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui media sosial, dengan mengatakan, “Aku mohon maaf karena telah menimbulkan kekecewaan dan luka mendalam terkait masalah yang menyangkut kakek buyutku.” (BS)