Hidupgaya.co – Gangguan irama jantung/aritmia menjadi salah satu gangguan yang perlu dideteksi sejak awal karena dapat berkembang tanpa menunjukkan gejala klinis yang jelas. Kebanyakan orang tidak menyadari dirinya mengidap aritmia hingga muncul kondisi yang lebih parah seperti stroke atau gagal jantung, bahkan kejadian lebih fatal, yakni kematian jantung mendadak.

“Aritmia kerap tidak terdeteksi sejak dini, berpotensi meningkatkan risiko komplikasi seperti stroke, gagal jantung hingga kematian jantung mendadak,” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, dalam sambutan daring di sela acara ‘Deteksi Dini Aritmia dan Rekomendasi Prosedur untuk Tingkatkan Kualitas Hidup’ menandai Hari Jantung Sedunia yang dihelat Siloam Hospitals TB Simatupang di Jakarta, Selasa (29/9).

Untuk itu, masyarakat perlu mengenali sejumlah sinyal yang dapat mengindikasikan adanya gangguan irama jantung, seperti denyut jantung tidak teratur, jantung berdebar, pusing seperti hendak pingsan.

Nadia mengungkap, deteksi dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari memeriksa denyut nadi secara mandiri (meraba nadi sendiri) dan mengukur tekanan darah hingga melakukan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG).

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid (dok. Tangkapan layar)

Pemeriksaan EKG dapat menemukan adanya gambaran irama jantung yang tidak normal pada seseorang yang belum menunjukkan gejala klinis.

Deteksi dini gangguan jantung merupakan bagian dari upaya Kemenkes menekan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit tidak menular, khususnya kanker, jantung, stroke, dan penyakit ginjal. Untuk itu, masyarakat diharapkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan tanpa perlu menunggu munculnya keluhan atau penyakit.

1 dari 10 orang punya gangguan irama jantung

Kesempatan sama, Ketua Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) dr. Erika Maharani, Sp.JP(K) mengatakan satu dari 10 orang yang dilakukan skrining elektrokardiogram (EKG) mengalami gangguan irama jantung atau aritmia. Ironisnya, sebagian di antaranya tidak menyadari kondisi tersebut.

“Sebanyak 11 persen dari 1.412 peserta skrining elektrokardiogram (EKG) yang dilakukan Siloam Hospitals TB Simatupang berusia 15 hingga 64 tahun terdeteksi mengalami gangguan irama jantung atau aritmia. Temuan ini menunjukkan pentingnya deteksi dini gangguan irama jantung pada masyarakat,” tuturnya.

Yang meresahkan, kasus aritmia paling banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, yakni 25 hingga 44 tahun.

dr. Erika Maharani, Sp.JP(K) (dok. Tangkapan layar)

Erika juga menyoroti beban penyakit aritmia di Indonesia terus meningkat seiring pertambahan populasi dan bertambahnya penyakit jantung struktural, termasuk penyakit jantung koroner.

Jenis aritmia yang paling sering ditemukan adalah atrial fibrilasi (Afib) yang menjadi salah satu penyumbang kejadian stroke iskemik (stroke sumbatan). Data meyebut, pasien dengan stroke iskemik, 30 persen mengalami atrial fibrilasi. “Apabila kita lakukan deteksi dini, hal ini bisa dicegah,” terang Erika.

Deteksi dini dapat mengoptimalkan penanganan gangguan irama jantung sehingga risiko komplikasi seperti stroke dan henti jantung mendadak dapat diminimalkan.

Opportunistic screening dilakukan lebih dini

Terkait gangguan irama jantung, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Dasar Konsultan Aritmia dan Kardiologi Intervensi mengungkap bahwa di hampir seluruh anggota dari Asia Pacific Heart Rhythm Society, opportunistic screening direkomendasikan pada pasien-pasien atau manusia di atas umur 65 tahun.

“Tapi sebetulnya di kita (Indonesia) atrial fibrilasi itu terjadi lebih mudah puncaknya di usia 40 sampai 60 tahun. Jadi sebetulnya di kita opportunistic screening ini seyogianya dilakukan lebih dini,” ujarnya.

Opportunistic screening merupakan praktik pemeriksaan untuk mendeteksi kondisi kesehatan tersembunyi atau faktor risiko menggunakan tes medis maupun data yang awalnya dikumpulkan untuk tujuan yang sama sekali berbeda.

Atrial fibrilasi menjadi bagian kelompok penyakit tersering yang tidak dirasa oleh penderitanya tapi kemudian berakibat fatal. “Ini adalah satu kelainan irama di mana terjadi kekacauan irama jantung di serambi jantung . Itu akan berakibat iramanya menjadi irregular dan seringnya cepat,” terang Prof. Yoga.

Karena denyutnya cepat dan tidak beraturan, hal itu akan memberikan kemudahan terjadinya gumpalan darah di dalam jantung, yang kemudian lepas dan ‘nyangkut’ umumnya di otak menyebabkan stroke.

Kejadian gangguan irama jantung dan cepat yang kerap terjadi juga memicu kelemahan pompa jantung, sehingga menjadi gagal jantung.

Prof. Yoga menyampaikan, menurut studi yang dipublikasikan tahun 2024 terungkap prevalensi atrial fibrilasi dari 25 center di seluruh Indonesia, mulai dari Medan sampai ke Manado dengan lebih dari 10 ribu data, ternyata 3,2 persen. Artinya di tahun itu ada sekira 5 hingga 7 juta orang Indonesia yang mengalami atrial fibrilasi.

Lebih lanjut dikatakan, orang dengan atrial fibriasi punya peluang lima kali lipat mengalami stroke dibandingkan orang tanpa kondisi tersebut. Selain itu, lebih banyak yang meninggal dalam 30 hari maupun 1 tahun akibat atrial fibrilasi dibandingkan stroke bukan karena Afib.

“Kalau kita lihat bahwa kejadian stroke major bleeding dan kematian juga terbanyak konsisten pada kelompok yang banyak menderita Afib, jadi itu sesuatu  yang saling berkaitan,” beber Prof. Yoga.

Dengan perhitungan 5 sampai 7 juta pengidap atrial fibrilasi di Indonesia, maka setiap tahun insiden stroke mencapai 500 ribuan.

Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA (dok. Hidupgaya)

“Kalau kita lakukan skrining dan berhasil mendiagnosis Afib yang tidak  terasa, kemudian kita berikan obat pengencer darah tertentu sehingga stroke tidak terjadi, banyak sekali yang diselamatkan,” tuturnya.

“Itu bukan cuma menyelamatkan pasien, karena di kelompok itu banyak orang yang sangat berperan di komunitasnya, orang-orang yang memegang kendali, bertanggung jawab terhadap orang banyak yang lainnya, sehingga yang diselamatkan efek sosialnya akan semakin besar.”

Sosialisasi skrining untuk mendeteksi atrial fibrilasi perlu ditingkatkan. Selain itu, salah satu manajemen Afib melalui salah satu pilarnya adalah menemukan komorbid. “Temukan faktor risikonya dan atasi kejadiannya,” ujar Prof. Yoga.

Data di Indonesia menunjukkan bahwa salah satu faktor risiko yang paling penting dari atrial fibrilasi adalah hipertensi. “Sekitar 50% pasien atrial fibrilasi kita menderita hipertensi,” imbuhnya.

Untuk itu, pengendalian tekanan darah mengurangi risiko atrial fibrilasi, termasuk serangan jantung, dan stroke. Studi menunjukkan, penurunan tekanan darah sistolik 10 mmHg disebut dapat memberikan manfaat terhadap risiko tersebut. “Mempertahankan tekanan darah tetap terkontrol menjadi bagian penting dari penanganan hipertensi,” sebut Prof. Yoga.

Dia mendorong pasien hipertensi tidak menghentikan obat ketika tekanan darah sudah ‘normal’. Pasalnya, tekanan darah dapat kembali meningkat tanpa disadari karena pasien tidak selalu mengalami gejala. Karenanya, kontrol tekanan darah secara berkala menjadi penting, dengan melakukan pengukuran mandiri. (HG)