Hidupgaya.co – Membangun kebiasaan untuk mengenali perubahan pada tubuh dapat dimulai sejak muda melalui langkah sederhana, SADARI (Periksa Payudara Sendiri), yang selalu direkomendasikan untuk lebih waspada terhadap kemungkinan kanker payudara.

Lebih dari sekadar pemeriksaan, SADARI merupakan kebiasaan untuk membangun body awareness untuk mengenali kondisi payudara sendiri sehingga perempuan dapat lebih peka apabila terdapat perubahan yang tidak biasa.

“Kami ingin perempuan tidak lagi merasa bahwa kesehatan payudara adalah sesuatu yang baru perlu dipikirkan ketika sudah dewasa atau ketika muncul keluhan,” ujar Dede Gracia, Ketua Indonesia Goes Pink 2026 dan Ketua Yayasan Daya Dara Indonesia (Lovepink).

“Justru sejak muda, kita bisa mulai dengan mengenal tubuh sendiri. SADARI adalah langkah yang sangat sederhana, tetapi dari kebiasaan sederhana ini kita belajar untuk lebih peka terhadap perubahan dan tidak mengabaikannya.”

Bagi perempuan yang masih menstruasi, SADARI dilakukan setiap bulan antara hari ke-7 sampai ke-10 dihitung dari hari pertama menstruasi.

Adapun perempuan yang sudah memasuki masa menopause dan laki-laki, SADARI bisa dilakukan setiap bulan dengan menentukan tanggal tertentu.

Menurutnya, mengimplementasikan SADARI bukan untuk hidup dalam ketakutan terhadap kanker, melainkan untuk membangun kesadaran bahwa setiap perempuan perlu mengenal apa yang normal bagi tubuhnya sendiri dan tidak mengabaikan ketika menemukan sesuatu yang berbeda.

Urgensi untuk membangun kebiasaan deteksi dini ini semakin nyata mengingat kanker payudara merupakan kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan di Indonesia.

Bagi perempuan muda, kebiasaan ini penting karena mengenal tubuh sendiri tidak perlu menunggu sampai merasa sakit atau memasuki usia tertentu.

“SADARI dapat menjadi bagian dari rutinitas bulanan yang sederhana. Dengan mengenali kondisi payudara secara rutin, perempuan dapat lebih memahami apa yang normal bagi dirinya dan lebih cepat menyadari apabila terdapat perubahan yang tidak biasa,” terang Dede.

Apabil saat SADARI ditemukan adanya keabnormalan, bukan berarti pasti kanker, namun perubahan yang tidak biasa tidak sebaiknya diabaikan. “Segera konfirmasikan hal tersebut ke dokter atau tenaga medis untuk dilakukan pemeriksaan klinis,” tandasnya.

Mayoritas kanker payudara ditemukan di stadium lanjut

Data GLOBOCAN 2022 mengungkap ada 66.271 kasus baru kanker payudara dan 22.598 kematian di Indonesia.

Kementerian Kesehatan RI juga menyebut sekitar 70% kasus kanker payudara ditemukan ketika sudah berada pada stadium lanjut, sementara cakupan deteksi dini masih menjadi tantangan.

Tantangan tersebut tidak hanya berbicara mengenai jumlah kasus, tetapi juga mengenai seberapa banyak perempuan yang secara aktif mengenali dan memeriksakan kondisi payudaranya.

Dede Gracia mengungkap sekitar 90% perempuan Indonesia belum melakukan SADARI atau deteksi dini secara rutin, menunjukkan masih besarnya ruang untuk membangun kebiasaan deteksi dini di masyarakat.

Data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 juga memberikan gambaran bahwa isu kesehatan payudara relevan bagi kelompok usia yang lebih muda.

Dari jutaan peserta yang menjalani skrining, 20.542 peserta ditemukan memiliki kelainan pada payudara dengan proporsi terbesar (33,7%) ada pada kelompok usia 30–39 tahun. Dari keseluruhan temuan abnormal tersebut, 1.472 peserta atau 7,2% kemudian terdiagnosis kanker payudara.

Temuan ini memperkuat pesan bahwa kepedulian terhadap kesehatan payudara tidak perlu menunggu usia tertentu atau munculnya keluhan.

“Mengenali tubuh sendiri dan memahami perubahan yang terjadi merupakan langkah awal yang dapat dilakukan sejak muda,” tandas Dede.

Indonesia Goes Pink 2026

Pesan inilah yang ingin dibawa Lovepink melalui Indonesia Goes Pink (IGP) 2026: bahwa kepedulian terhadap kesehatan payudara bukan sesuatu yang bisa ditunda sampai usia tertentu.

Memasuki Breast Cancer Awareness Month, Lovepink kembali hadirkan Indonesia Goes Pink 2026, gerakan tahunan untuk meningkatkan kesadaran mengenai kanker payudara, mendorong deteksi dini, sekaligus membangun dukungan bagi Warriors (pejuang) dan Survivors (penyintas).

Tahun ini, semangat Indonesia Goes Pink hadir di lima kota, yaitu Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Jember, dan Pekanbaru, dengan dukungan komunitas Lovepink di masing-masing daerah.

Mengusung semangat ‘Celebrate Strength, Embrace Gratitude’ pembuka rangkaian Indonesia Goes Pink 2026 akan digelar pada 4 Oktober 2026 di Plaza Indonesia, Jakarta.

Melalui Indonesia Goes Pink 2026, Lovepink mengajak masyarakat menjadikan Breast Cancer Awareness Month bukan sekadar momentum tahunan.

“Justru kesadaran dapat dimulai dari hal yang paling dekat: mengenali tubuh sendiri, membangun kebiasaan SADARI, tidak mengabaikan perubahan yang ditemukan, dan berani mencari bantuan ketika diperlukan,” pungkas Dede Gracia. (HG)