Hidupgaya.co – Seiring meningkatnya kebutuhan pangan global, persoalan limbah, kehilangan pascapanen, hingga dampak penggunaan plastik konvensional turut menjadi tantangan yang membutuhkan solusi berbasis sains dan inovasi.

Inovasi pangan seharusnya tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk pangan yang lebih baik, tetapi juga membangun sistem pangan yang aman, berkelanjutan, dan dapat diakses masyarakat.

Hal itu disampaikan Prof. Anastasia Wheni Indrianingsih, Ph.D, ilmuwan dan peneliti di bidang Kimia dan Teknologi Pangan di bawah naungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam presentasi bertajuk ‘Women’s Leadership in Science-based Food Innovation: Advancing Sustainable and Biodegradable Packaging’ di acara diskusi panel Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia 2026 yang dhelat di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Kamis (17/9).

“Sistem pangan saat ini menghadapi sejumlah tantangan besar, di antaranya pertumbuhan kebutuhan pangan global, limbah makanan, kehilangan hasil pascapanen, serta beban lingkungan akibat penggunaan kemasan plastik konvensional,” ujarnya.

Kesempatan itu Prof. Wheni menyoroti kepemimpinan perempuan dalam inovasi pangan berbasis sains, khususnya pengembangan kemasan berkelanjutan dan bisa terurai secara alami (biodegradable).

Menurutnya, inovasi pangan bukan sekadar tentang menghasilkan pangan yang lebih baik, melainkan juga menciptakan sistem pangan yang lebih aman, lebih berkelanjutan, dan mudah diakses.

Kemasan pangan menjadi salah satu bagian penting dalam transformasi sistem pangan. Selama ini, material berbasis plastik yang berasal dari minyak bumi masih banyak digunakan karena memiliki karakteristik yang sesuai untuk berbagai kebutuhan pengemasan.

Prof. Anastasia Wheni Indrianingsih, Ph.D (paling kiri) di panel diskusi Women’s Leadership in Science-based Food Innovation: Advancing Sustainable and Biodegradable Packaging’ di Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia 2026 yang dhelat di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Kamis (17/9)

Sayangnya, material tersebut memiliki persoalan lingkungan karena sulit terurai secara alami dan dapat terus bertahan serta terakumulasi di lingkungan.

Karena alasan itulah, menurut Prof. Wheni kebutuhan terhadap material kemasan yang berasal dari sumber terbarukan dan memiliki kemampuan terurai semakin penting. “Tantangannya bukan sekadar mencari material yang dapat terurai, tetapi juga memastikan kemasan tersebut tetap memiliki fungsi yang dibutuhkan untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan,” cetusnya.

Dia menekankan ada peningkatan permintaan yang sangat besar akan material terbarukan dan dapat terurai secara hayati. “Kita membutuhkan kemasan yang mampu memenuhi aspek fungsionalitas sekaligus keberlanjutan,” tandas peneliti BRIN.

Lebih lanjut Prof. Wheni mengungkap pemanfaatan bacterial cellulose (BC) sebagai platform untuk menghasilkan material berkelanjutan. Bacterial cellulose diperoleh melalui proses fermentasi bakteri, material ini punya sejumlah karakteristik yang menarik, seperti tingkat kemurnian dan kristalinitas yang tinggi serta kemampuan menyerap air.

Namun demikian dia mengingatkan bahwa bacterial cellulose tidak serta-merta dapat digunakan secara ideal sebagai material kemasan pangan. Agar dapat berfungsi, material tersebut perlu dikombinasikan atau diimpregnasi dengan material lain, termasuk nanomaterial maupun ekstrak tanaman yang mengandung senyawa bioaktif.

“Dari pengembangan tersebut, tim peneliti menghasilkan sejumlah material komposit yang berpotensi digunakan untuk kebutuhan kemasan pangan,” bebernya.

Peran perempuan dalam inovasi berbasis sains

Tak kalah menarik, Prof. Wheni menyoroti peran perempuan dalam inovasi berbasis sains. Menurutnya, pembahasan mengenai perempuan dalam dunia sains tidak cukup hanya melihat jumlah perempuan yang bekerja di laboratorium maupun institusi akademik.

“Kepemimpinan perempuan dalam sains juga berkaitan dengan kesempatan untuk mengambil peran yang lebih luas, mulai dari peneliti, inovator, mentor hingga pengambil keputusan,” urainya.

Karena itu, perempuan perlu mendapatkan kesempatan untuk membangun tim kolaborasi dan menerjemahkan pengetahuan ilmiah menjadi solusi yang dapat digunakan masyarakat.

Kepemimpinan perempuan dapat menjadi jembatan antara pengetahuan ilmiah dan kebutuhan masyarakat. “Dengan demikian, hasil penelitian tidak berhenti pada laboratorium, tetapi dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata,” tuturnya.

Ada berbagai peran yang dapat dimainkan perempuan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi. Sebagai inovator misalnya, perempuan dapat mengubah pengetahuan menjadi solusi. Sebagai pemimpin, perempuan dapat membangun tim dan kolaborasi. “Sebagai peneliti, perempuan berperan menghasilkan pengetahuan baru,” tegas Prof. Wheni.

Perempuan juga dapat berperan sebagai agen perubahan, dalam hal ini menghubungkan sains dengan kebutuhan masyarakat. “Sebagai mentor, perempuan dapat membantu membentuk dan mengembangkan generasi ilmuwan berikutnya,” ujarnya seraya menambahkan bahwa kepemimpinan dalam sains tidak harus ditunjukkan dengan menjadi sosok yang paling banyak berbicara.

Menurutnya, pemimpin dalam bidang sains justru perlu mampu mempertemukan berbagai disiplin ilmu, mengajukan pertanyaan yang tepat, menentukan arah penelitian, sekaligus membantu orang lain berkembang.

Dia menilai inovasi ilmiah dan kepemimpinan yang inklusif dapat berjalan beriringan untuk menghasilkan dampak lingkungan dan sosial yang lebih luas. “Ketika perempuan memimpin sains, inovasi menjadi jalan menuju perubahan berkelanjutan,” tandasnya. (HG)