Hidupgaya.co – Wakil Menteri Kesehatan Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono mengungkap kebutuhan terhadap layanan fertilitas di Indonesia masih cukup besar. Data menunjukkan sekira 4 hingga 6 juta pasangan di Indonesia menghadapi persoalan infertilitas (gangguan kesuburan).
“Masalah infertilitas di Indonesia masih tinggi. Kira-kira 4 sampai 6 juta pasangan di Indonesia mengalami masalah infertilitas. Dan fasilitas yang kita punya di Indonesia, kalau dihitung dari Sabang sampai Merauke, kurang lebih hanya 66 klinik fertilitas,” ujar Wamen Dante di sela peresmian Morula International Fertility Clinic (Morula IFC) di Biomedical Campus, BSD City, Jumat (18/9).
Dante menyebut siklus IFV di Tanah Air (reproduksi terbantu atau kerap disebut bayi tabung) hanya 15.000 setahun, atau bisa dibilang rendah dibandingkan negara tetangga di kawasan.
Siklus IVF merupakan rangkaian prosedur medis yang dilakukan untuk membantu proses kehamilan dengan mempertemukan sel telur dan sperma di luar tubuh, yaitu di laboratorium. Satu rangkaian lengkap siklus IVF biasanya memakan waktu sekitar 2 hingga 6 minggu.
Ketersediaan klinik fertilitas yang masih terbatas membuat sebagian masyarakat Indonesia memilih menjalani perawatan fertilitas di luar negeri, seperti ke Singapura, Malaysia dan Thailand.
Dante menekankan, pengembangan layanan fertilitas di dalam negeri dapat membantu memperkecil kesenjangan akses sekaligus mengurangi kebutuhan masyarakat untuk mencari layanan serupa ke luar negeri.
Kehadiran Morula IFC di BSD menjadi bagian dari pengembangan jaringan layanan fertilitas Morula sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan reproduksi berbantu.

Selain itu, Morula Indonesia menjalin kemitraan dengan Education Program in Reproduction and Development (EPRD) dari Monash University untuk membangun registri longitudinal hasil IVF dengan menggunakan data dari jaringan klinik fertilitas Morula di seluruh Indonesia.
EPRD merupakan salah satu program pelatihan terbesar di dunia bagi embriologis dan ilmuwan reproduksi, dengan lebih dari 500 alumni yang bekerja di berbagai negara dalam bidang embriologi klinis, ilmu reproduksi, kesehatan reproduksi manusia, reproduksi hewan, dan konservasi.
CEO PT Morula Indonesia, dr. Ivan Rizal Sini menyampaikan Registri longitudinal hasil IVF bersama Monash University dan pembukaan Morula International Fertility Clinic menandai satu arah strategis bagi Morula Indonesia.
“Kerja sama ini mengukur hasil secara lebih komprehensif sekaligus menghadirkan layanan dengan standar yang menjadi tolok ukur internasional,” ujarnya.
Ivan menyebut, Indonesia memiliki dokter, ilmuwan, serta pengalaman puluhan tahun yang kuat dalam pelayanan fertilitas.
“Langkah berikutnya adalah membangun fondasi tersebut melalui data yang lebih kuat, hasil yang transparan, serta kolaborasi internasional yang lebih mendalam. Dengan demikian, kita dapat memperkuat kepercayaan terhadap layanan fertilitas di Indonesia,” terangnya.
Dia menambahkan, Morula bersama Monash University menyiapkan basis data yang akan mencatat perjalanan pasien IVF secara lebih menyeluruh.
“Selama ini, keberhasilan program IVF kerap dilihat dari hasil kehamilan setelah satu kali transfer embrio. Melalui registri longitudinal tersebut, Morula dan Monash ingin melihat perjalanan sejak pengambilan sel telur hingga kemungkinan mencapai kelahiran hidup dari seluruh embrio yang dihasilkan dalam satu siklus IVF lengkap,” urai Ivan.

Data yang dikembangkan secara bertahap itu akan mencakup angka kelahiran hidup kumulatif, hasil transfer embrio segar dan transfer embrio beku berikutnya, hasil pada berbagai kelompok pasien, hingga waktu dan jumlah tahapan perawatan yang dibutuhkan untuk mencapai kelahiran hidup.
Ivan lebih lanjut menyampaikan, kolaborasi dengan Monash University juga diharapkan mendorong transparansi hasil sekaligus membantu pengembangan layanan fertilitas berdasarkan informasi dan data yang lebih kuat.
Bukan sebatas hasil positif transfer embrio
Dosen pada Education Program in Reproduction and Development (EPRD), Department of Obstetrics and Gynaecology, School of Clinical Sciences, Monash Health, yang merupakan bagian dari Faculty of Medicine, Nursing and Health Sciences, Monash University, Dr. Mulyoto Pangestu, menilai pengukuran keberhasilan tersebut penting karena tujuan akhir pasien bukan sekadar memperoleh hasil positif pada satu kali transfer embrio.
“Bagi pasien, pertanyaan yang penting bukan hanya apakah suatu transfer embrio menghasilkan kehamilan, tetapi juga seberapa besar kemungkinan pada akhirnya mencapai kelahiran hidup setelah menjalani keseluruhan rangkaian perawatan,” tandasnya.
Sistem pelaporan fertilitas di Amerika Serikat, Inggris, dan Australia telah menggunakan kelahiran hidup sebagai salah satu hasil utama, meskipun metode perhitungannya berbeda-beda.
Morula dan Monash bermaksud agar basis data hasil IVF ini dapat berkontribusi pada diskusi yang lebih luas mengenai bagaimana hasil IVF sebaiknya diukur dan dilaporkan secara nasional.
Hingga kini, jaringan Morula telah berkembang di sejumlah wilayah Indonesia. Morula tercatat memiliki 11 klinik fertilitas yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari Sumatera, Jakarta, Surabaya, Bali hingga Makassar.
Menariknya, pasien dari luar negeri (dari Belanda, Prancis, Timor Leste dan Australia) berminat untuk menjalani proses bayi tabung di Morula IVF, karena tingkat keberhasilan terbilang tinggi.
Klinik fertilitas internasional, gabungkan pengalaman global dan kearifan lokal
Dibangun berdasarkan pengalaman 28 tahun dalam pelayanan fertilitas di Indonesia, Morula IFC merupakan pusat layanan seluas 1.200 meter persegi yang dirancang khusus dan berlokasi di dalam Banten International Education, Technology and Health Special Economic Zone di BSD City.

Klinik ini memperluas akses terhadap layanan fertilitas tingkat lanjut bagi keluarga di wilayah Tangerang Raya, Banten, dan Jabodetabek bagian barat.
“Menjadi internasional bukan hanya tentang dari mana keahlian kami berasal, Hal ini berarti menggabungkan pengalaman global dan standar operasional yang kuat dengan pemahaman yang mendalam mengenai keluarga Indonesia, serta memberikan kualitas tersebut secara konsisten di setiap tahapan perjalanan fertilitas,” tutur Naveen K. Mantha, Deputy CEO Morula Indonesia.
Laboratorium klinik dipimpin oleh Audrey Wei, Scientific Director sekaligus klinis embriologis asal Australia dengan pengalaman internasional lebih dari 20 tahun, bersama Prof. Arief Boediono, Group Scientific Director Morula Indonesia.
Kolaborator klinis mencakup Dr. Lihong Geng, Chief Medical Quality Control Officer dari Jinxin Fertility Group yang terdaftar di bursa Hong Kong, sebagai bagian dari jaringan internasional Morula yang lebih luas.
Tim manajemen klinik memiliki pengalaman di bidang layanan kesehatan dari Australia, Tiongkok, India, Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat. Morula IFC juga didukung oleh tim layanan multibahasa yang melayani pasien dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, Jepang, dan Vietnam.
Layanan di Morula IFC mengikuti Morula 360° Fertility Care, yaitu model layanan yang terkoordinasi dan berpusat pada manusia, yang mencakup tim medis, keperawatan, embriologi, farmasi, dan dukungan pasien sejak konsultasi pertama hingga proses perawatan.
Model ini didukung oleh laboratorium IVF canggih di lokasi, fasilitas penyimpanan kriopreservasi yang dipantau selama 24 jam setiap hari, serta ruang konsultasi, konseling, dan ruang tunggu yang dirancang khusus untuk memberikan privasi, kenyamanan, dan kesinambungan selama perjalanan fertilitas pasien. (HG)