Hidupgaya.co – Saul Studio, jenama fashion yang dibesut oleh Debora Mettu, jebolan arsitek yang juga menyukai garis rancang pakaian, menampilkan karya bertajuk The Next Chapter di ajang pekan mode tahunan JF3 Fashion Festival 2026 yang berlangsung di Fashion Tent Summarecon Mall Kelapa Gading.
Lini busana ready to wear yang didirikan Debora hanya dari dua mesin jahit di awal memulai bisnis, ikut ‘memanaskan’ panggung JF3 setelah mengikuti PINTU Incubator, sebuah mentoring bisnis industri fashion kolaborasi Indonesia dan Prancis, selama empat bulan.
Koleksi The Next Chapter berawal dari ketertarikan Debora pada struktur bangunan tradisional Toraja, sebelum ia menemukan makna filosofis di baliknya.

Koleksi yang dipresentasikan di JF3 Fashion Festival 2026 mengangkat filosofi hidup masyarakat Toraja. “Bukan motif atau kain tradisionalnya ya,” ujarnya di sela acara temu media peserta PINTU Incubator di Gafoy Summarecon Mall Kelapa Gading, baru-baru ini.
Debora menuturkan, melalui The Next Chapter, Saul merayakan perempuan yang terus bertumbuh.
“Setiap fase kehidupan membentuk dirinya menjadi lebih kuat, tanpa melupakan perjalanan yang telah dilalui. Ini adalah tentang keberanian melangkah menuju mimpi yang lebih besar, dan percaya bahwa setiap akhir selalu membawa awal yang baru. Karena setiap perempuan, seperti setiap brand, selalu memiliki bab berikutnya untuk ditulis,” urainya.

Dia menambahkan, The Next Chapter merayakan perjalanan 13 tahun membangun label. “Itu tentang perjalanan setelah melewati banyak fase. Ini sesuatu yang ingin aku rayakan setelah 13 tahun membangun brand ini, karena semuanya tumbuh secara organik,” terangnya
Koleksi yang ditampilkan di panggung JF3 kental siluet terstruktur dan simbol ayam dari ornamen arsitektur Toraja sebagai lambang keberanian (courage). “Ayam itu artinya courage. Keberanian untuk terus berkembang dan terus belajar sebagai perempuan,” terang Debora yang membesut Saul Studio pada 2013.
Mengambil inspirasi budaya Indonesia, desainer yang pernah mengenyam pendidikan sekolah mode ESMOD Jakarta mengambil filosofinya tanpa kehilangan DNA merek yang sudah dibangun. “Indonesia memang identik dengan wastra. Tapi Indonesia bukan cuma punya wastra. Aku ingin membawa filosofinya tanpa kehilangan DNA yang sudah kami bangun,” cetusnya.

Pakaian bertahan lama, tetap relevan dikenakan
Bicara soal sustainable fashion yang banyak disorot dalam beberapa tahun terakhir, Debora memilih pendekatan yang agak berbeda. “Pendekatannya lebih kepada berapa lama pakaian tetap relevan dipakai. Sustainability kami bukan dari bahan, tapi bagaimana satu baju bisa dipakai di banyak fase kehidupan,” ujarnya.
“Dipakai sekarang, beberapa tahun lagi masih relevan.”
Pemilihan bahan dilakukan dengan cermat, terutama yang terasa nyaman dikenakan di iklim tropis, misalnya bahan katun dan inen serta sedikit sentuhan semi wool agar siluet asimetris yang menjadi ciri khas Saul Studio tetap terjaga.
Bergabung dalam PINTU banyak membantunya dalam meluaskan cara pandang, tak lagi sekadar memikirkan desain dan produksi, ia juga melihat label fashion sebagai bisnis yang butuh strategi jangka panjang dan identitas konsisten.

Misalnya, selama pelatihan di PINTU Incubator, Debora belajar mengenai karakteristik pasar internasional. “Pasar Eropa beda dengan Jepang. Setiap negara berbeda-beda. Tapi syukurnya kami bisa mengakomodasi kebutuhan buyer karena semua produksi dilakukan secara in-house,” imbuhnya.
Soal pasar internasional, Saul Studio sudah mendapatkan buyer loyal dari Los Angeles, Dubai hingga Kuwait pada 2018. “Mereka (buyer) melihat koleksi Saul di sebuah peragaan busana, tanpa pernah melalui trade show. Buyer justru datang setelah nonton show, lalu menghubungi dan minta bertemu,” lanjut Debora.
Keputusannya untuk membangun merek sendiri terdorong oleh keresahan soal harga pakaian berkualitas yang mahal, padahal perajin lokal mampu menghasilkan produk sekelas merek luar negeri. “Kenapa baju harus mahal kalau bagus? Padahal menurut aku pekerja kita sebenarnya capable. Kita bisa kok bikin baju yang rapi dan bagus,” tutur nya.
Debora menambahkan, ketertarikannya pada bisnis fashion tak lepas dari pengalaman pribadi. Setelah menjadi ibu, saat tubuhnya berubah, ia kesulitan menemukan pakaian yang cocok. “Badan berubah, umur bertambah. Kok rasanya nggak cocok pakai baju tertentu, sementara beli baru mahal. Dari situ aku mulai belajar desain,” bebernya.

Dari situ, ia ingin menciptakan pakaian berkualitas dengan harga di antara segmen high-end dan ready-to-wear, mirip pendekatan pasar Seoul.
Koleksi yang bercerita
Bicara tentang program PINTU, Debora mengaku terkesan dengan materi storytelling, bagaimana sebuah koleksi bisa ‘berbicara’ tanpa kehadiran desainernya. “Aku belajar bagaimana baju itu tetap bisa menjual dirinya sendiri di toko, tanpa kehadiran desainer. Ini bagian sulit,” ujarnya.
Debora mengakui proses inkubasi di PINTU menjadi bekal berharga untuk membangun fondasi agar label yang telah dirintisnya lebih dari satu dekade bisa terus bersaing di pasar yang lebih luas.
Dia berharap dalam lima tahun ke depan konsumen akan membeli koleksi Saul bukan karena produknya, tapi karena percaya dengan brand. “Mudah-mudahan dengan ikut PINTU Incubator hal itu bisa terwujud. Konsumen beli koleksi Saul bukan karena produk, tapi karena percaya brand ini bagus,” tandasnya. (HG)