Hidupgaya.co – Ada hal menarik mengemuka di acara diskusi Ideatalks ‘The Future is Undeniably Human’ yang berlangsung di IdeaFest 2026 di JICC, baru-baru ini. Acara diskusi yang menampilkan jurnalis senior Najwa Shihab, CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha dipandu CEO of Comika Pandji Pragiwaksono memantik sejumlah topik menarik terkait posisi manusia di tengah laju teknologi kecerdasan buatan (AI).
Vikram menyampaikan pandangan bahwa AI pada dasarnya tetap merupakan alat, kemampuannya dapat membantu manusia melakukan lebih banyak hal dan memaksimalkan potensi yang dimiliki. Namun demikian, manusia tetap harus menjadi pihak yang menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan.
“AI hanyalah sebuah alat yang dapat membantu setiap manusia mengembangkan potensi penuhnya. Manusia harus selalu berada di atas. Jadi, kita tidak harus takut dengannya,” terang Vikram.
Dia menyoroti poin bahwa menempatkan manusia sebagai pihak yang tetap memegang kendali bukan berarti menjaga jarak dari AI. Alih-alih begitu, justru ketika teknologi semakin menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari, manusia perlu memahami cara memanfaatkannya agar kemampuan yang dimiliki ikut berkembang.
Menurutnya, situasi yang perlu diantisipasi bukan semata ketika AI mampu melakukan lebih banyak hal, melainkan ketika seseorang harus berhadapan dengan orang lain yang sudah lebih dulu memanfaatkan teknologi tersebut.
Vikram menilai penggunaan AI yang berkembang saat ini masih banyak berkutat pada kebutuhan praktis maupun hiburan. “Itu bukan sesuatu yang keliru. Namun semestinya pemanfaatan AI dapat dibawa lebih jauh agar teknologi tidak hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga menghasilkan dampak yang lebih nyata,” bebernya.

Dia menekankan seharusnya AI dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah, bukan hanya melakukan hal hal lebih cepat dan lebih mudah. “Saya pikir kita memiliki kesempatan untuk menciptakan dampak (dengan AI) dalam skala besar,” cetusnya
Dalam diskusi yang berlangsung cair itu Najwa menyoroti secara hati-hati mengenai kemampuan dasar manusia yang perlahan dapat tergerus oleh teknologi AI. “Salah satunya adalah perhatian. Ketika algoritma semakin menentukan apa yang dilihat, sementara notifikasi dan informasi terus datang tanpa dicari, manusia bisa terbiasa memberi perhatian pada sesuatu yang paling ramai, kontroversial, atau sensasional,” bebernya.
Pendiri platform media digital Narasi itu menyampaikan bahwa apa yang kita lihat menentukan apa yang kita anggap penting. Selanjutnya, apa yang kita anggap penting menentukan pilihan-pilihan kita.
Persoalan perhatian itu pada akhirnya terkait dengan kendali manusia atas pikirannya sendiri. Menurutnya, ketika algoritma semakin banyak menentukan apa yang dilihat, manusia perlu tetap memiliki ruang untuk memilih informasi mana yang layak diperhatikan dan bagaimana informasi itu akan memengaruhi keputusan yang dibuat.
Tak dimungkiri, teknologi AI membuat jawaban semakin mudah diperoleh. Diakui Najwa, kemudahan itu dapat membantu, tetapi juga bisa membuat manusia terbiasa menerima jawaban tanpa merasa perlu menggali lebih jauh.
Menurutnya, ketika jawaban sekarang menjadi komoditi yang sangat murah, mau nanya apa lima detik bisa dijawab. “Berarti yang harus jadi semakin berharga adalah kemampuan manusia untuk bertanya,” cetusnya.
Rasa ingin tahu dan kemampuan bertanya menjadi penting agar manusia tidak sekadar menjadi penerima jawaban dari teknologi. Ia menyoroti potensi AI bukan hanya untuk mencari kesimpulan, tetapi juga untuk menguji pemikiran, menemukan sudut pandang lain, atau mempertanyakan asumsi yang mungkin luput.
“Dengan cara itu, teknologi tidak menggantikan proses berpikir, tetapi membantu manusia memperdalamnya,” tegas Najwa.
Dia menakankan pentingnya untuk terus mempertanyakan sesuatu. Hal ini punya arti yang lebih luas dari sekadar keterampilan intelektual. Sikap itu juga dibutuhkan ketika masyarakat berhadapan dengan informasi dan pihak yang memiliki pengaruh terhadap kehidupan publik.
“Meskipun teknologi dan AI semakin canggih, arah dan makna dari sebuah karya tetap ditentukan oleh hati nurani serta peran manusia,” tandasnya.
Butuh waktu jadi manusia, kerentanan jadi kekuatan
Di pengujung diskusi, Najwa mengingatkan di era AI, manusia kerap hanya dilihat dari segi produktivitasnya. “Di era AI, manusia hanya dilihat seberapa produktif, seberapa kreatif, seberapa cerdas, seolah-olah manusia itu thinking machine yang kebetulan punya emosi. Padahal ada begitu banyak dari yang menjadikan kita manusia itu datang dari kerentanan dan keterbatasan kita,” ulasnya.
“Kita punya tubuh, kita lelah, kita bisa salah, kita punya ketakutan, kita membutuhkan orang lain, kita kehilangan orang yang kita cintai, kita butuh waktu,” imbuhnya.
Najwa menekankan butuh waktu menjadi manusia. “Belajar butuh waktu, memahami orang butuh waktu, mengubah pikiran butuh waktu, menjadi manusia butuh waktu, teman-teman. Dan tidak semua yang lambat itu jelek. Saya merasa terkadang kita sekarang punya obsesi untuk menjadi super,” bebernya lagi.
Dia mengkritisi di era AI, banyak orang menggunakan ukuran mesin untuk menilai. “Standarnya jadi sama, seolah-olah manusia sama dengan mesin. Padahal hal-hal yang membuat kita manusia, kerentanan dan keterbatasan kita di era teknologi sekarang, itu yang harus dijaga, itu yang harus kita preserve,” ujarnya.
Najwa lantas mencontohkan kemampuan manusia untuk lupa. “Untuk teknologi, storage semakin besar, semakin powerful semakin bagus. Can you imagine kalau manusia gak bisa lupa kita mengingat dengan presisi secara sempurna setiap kesalahan, setiap kegagalan setiap rasa kehilangan, kebayang gak sih kalau kita gak bisa lupa seperti mesin, seperti teknologi? Kita jadi gak bisa berubah, kita gak bisa memaafkan, kita gak bisa melanjutkan hidup,” urainya.

“Jadi sekali lagi, hal-hal yang begitu sempurna dilakukan teknologi, mungkin saja kebalikannya untuk kita. Kerentanan kita itu adalah kekuatan kita. Karena teknologi akan jadi semakin canggih. Tugas kita sekarang menjaga kemampuan kita sambil sekaligus memastikan kita tidak kurang jadi manusia,” pungkasnya.
Pandji sepakat. “Jadi pada akhirnya, teknologi yang kita miliki itu sebenarnya semuanya ujung-ujungnya adalah tergantung siapa yang memanfaatkan. Nah kita bisa belajar dengan sangat cepat. untuk menggunakan teknologi. Tapi butuh waktu untuk bisa menjadi manusia yang menggunakan teknologi itu dengan tepat dan dengan bijak,” tuturnya.
Untuk itu, ada proses yang harus diambil. “Di era semuanya bisa sampai cepat, termasuk jawaban, ada sesuatu yang kita tidak boleh langkahi, yaitu proses menjadi manusia yang tepat,” beber Pandji.
Ada pesan dari almarhum ayah yang selalu diingat Pandji hingga kini. “Saya adalah orang yang sering sekali melakukan sesuatu dengan sangat cepat. Saya belajar dengan cepat, saya beradaptasi dengan cepat, apapun saya bisa lakukan dengan cepat. Ada satu pernyataan almarhum ayah yang saya pegang sampai sekarang dan mungkin bisa jadi pegangan kita dengan semua teknologi yang ada di tangan kita: Cepat boleh, buru-buru jangan. Bedanya cepat dan buru-buru adalah kehati-hatian dan kebijaksanaan yang ada di antaranya,” pungkas Pandji menutup perbincangan. (HG)