Hidupgaya.co – Panggung runway JF3 Fashion Festival sekali lagi menjadi platform penting bagi pelaku mode di kawasan ASEAN. Tiga wakil ASEAN Fashion Designers Showcase (AFDS) menampilkan koleksi istimewa di ajang pekan mode tahunan yang dihelat di Fashion Tent La Piazza Summarecon Mall Kelapa Gading, Sabtu (25/7) malam.

Dalam pergelaran bertajuk Elysian Currents: A Southeast Asian Fantasy in Couture, tiga desainer yang tergabung dalam AFDS, Thoulany Chanthalangsy dari Laos, Indra Murak dari Singapura dan Erjohn Dela Serna dari Filipina menyajikan narasi couture yang memukau.

Ketiganya berusaha mengelaborasi fantasi Asia Tenggara dalam gaya couture, sebuah pertunjukan imersif di mana warisan budaya, fantasi, dan keanggunan futuristis berpadu serasi di atas catwalk.

Koleksi Thoulany Chanthalangsy mengusung keindahan budaya Laos di ajang JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Ketiga perancang busana visioner beda negara itu memperkenalkan dunia kreatif yang unik, terjalin menjadi satu perjalanan mode sinematik yang memanjakan mata.

Thoulany Chanthalangsy tampil sebagai pembuka, mengusung tema besar Elevating Lao Identity on to the International Stage, karyanya menafsirkan ulang motif tradisional Laos melalui sudut pandang kontemporer yang halus.

Di tangannya, koleksi wastra Laos tampil modern, menampilkan garis rancang halus, berkelas, dan relevan secara global.

Desainer visioner di balik Kinnaly Design merilis koleksi yang mengeksplorasi keindahan kain tradisional Laos. Ia memulai perjalanan menciptakan merek mode Kinnaly, yang diambil dari nama anak perempuannya, pada 2013.

Pria yang besar di Pakse, wilayah kota yang memikat di Provinsi Champasack, Laos bagian selatan mengambil inspirasi dari warisan lokal yang lekat dengan kekayaan budaya seperti situs Warisan Dunia UNESCO Wat Phou dan air terjun Kone Pra Peng.

Thoulany Chanthalangsy menjadi perancang busana utama di bawah naungan merek Kinnaly, bekerja sama dengan tim yang berdedikasi untuk mewujudkan visi kreatifnya.

Merek ini dikenal karena komitmennya dalam menghasilkan produk busana berkualitas tinggi dan inovatif, yang memadukan keahlian kerajinan tradisional Laos dengan desain kontemporer secara harmonis.

Membidik selera pasar lokal kelas atas yang memiliki standar tinggi, Kinnaly Design telah menjadi pemain terkemuka dalam dunia mode Laos.

Koleksi Thoulany Chanthalangsy mengusung keindahan budaya Laos di ajang JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Produk utama Kinnaly mencakup berbagai busana tenun tangan yang dibuat menggunakan alat tenun tradisional dan bahan berkualitas terbaik. Produk-produk yang dirancang dengan cermat ini dibuat dengan standar tinggi, khusus untuk memenuhi selera dan preferensi kalangan elit di Laos.

Di bawah arahan Thoulany, Kinnaly Design menjadi bukti nyata perpaduan harmonis antara tradisi lokal dan keanggunan modern, menciptakan identitas unik dalam dunia mode Laos.

Kain tradisional Laos terlihat memikat dalam tampilan modern membalut tubuh model yang berjalan anggun di panggung JF3 Fashion Festival 2026.

Hutan ajaib Indra Murak

Suasana panggung berganti saat Indra Murak, insan kreatif asal Singapura yang menguasai berbagai aspek desain, menyajikan koleksi bertema Dreamlike Fantasy Garden.

Koleksi pemilik gelar BA (Hons) di bidang Desain Mode dari University of East London mengambil inspirasi dari hutan ajaib, buku cerita yang penuh imajinasi, dan seni fantasi.

Koleksi Dreamlike Fantasy Garden Indra Murak di JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Karya Indra menyajikan siluet halus, tekstur seperti mimpi, dan detail puitis menciptakan alam semesta couture yang ajaib di mana imajinasi menjadi hidup. Kualitas karyanya menggunakan teknik dan material yang tidak konvensional.

Di koleksi ini Indra banyak menggunakan nuansa hijau segar mirip hutan fantasi, dengan cerdas menciptakan padu padan tak biasa dengan hasil tampilan akhir mewah.

Koleksi Dreamlike Fantasy Garden Indra Murak di JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Eksplorasi futuristis Erjohn Dela Serna

Perancang busana Erjohn Dela Serna dengan koleksi Liquid Reverie menjadi penutup pergelaran. Mengangkat tema besar tentang air, desainer Filipina itu melakukan eksplorasi futuristis tentang air, pantulan, dan gerakan yang mengalir.

Gaun-gaun yang mirip patung dalam warna biru tengah malam, perak, lavender, hijau zaitun, dan merah muda pucat berkilauan dengan keanggunan seperti cairan, mewujudkan kekuatan dan kepercayaan diri wanita modern.

Perancang  busana ini mulai dikenal luas berkat semangat dan upayanya yang kreatif dalam memadukan estetika khasnya, menonjolkan tekstur serta desain modern, edgy, dan asimetris, setia menggunakan kain tenun tradisional dari Cordillera, wilayah pegunungan di utara Filipina).

Langkah berani Erjohn untuk memperkenalkan produk warisan budaya, hasil karya komunitas penenun lokal, kepada masyarakat modern ini menarik perhatian media.

Koleksi Liquid Reverie Erjohn Dela Serna di JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Hal tersebut membuka jalan baginya menuju kancah desain mode yang lebih luas di Filipina dan akhirnya mengantarkannya menjadi anggota salah satu organisasi desain mode bergengsi di negara itu: Designers Circle Philippines.

Saat ini, selain menggunakan kain tenun khas Igorot dan Cordillera, cakupan desainnya telah meluas dengan memanfaatkan berbagai kain tenun tradisional Filipina lainnya, seperti T’nalak dari South Cotabato, Inab’l dari Ilocos, dan Hablon dari Iloilo.

Berbekal semangat dan ketelitian tinggi, setiap rancangan dan busananya dikaji serta dibuat secara cermat demi memenuhi selera pelanggan. Tidak ada dua karya yang persis sama, namun identitasnya sebagai seorang kreator tetap tercermin kuat dalam setiap karyanya.

Koleksi Liquid Reverie Erjohn Dela Serna di JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Di balik berbagai pencapaian tersebut, Erjohn tetap setia pada visinya untuk menciptakan desain yang senantiasa relevan dan bergaya, bahkan setelah lima atau sepuluh tahun berlalu.

Desainer busana kebanggaan Filipina itu dipuji berkat kepekaannya terhadap motif yang memungkinkannya untuk mendekonstruksi sekaligus mengubah sebuah karya yang melampaui batasan waktu dan tempat.

Ketiga koleksi tersebut bersama-sama membentuk sebuah permadani visual yang memukau, merayakan kreativitas Asia Tenggara melalui inovasi, keahlian artistik, dan narasi dalam dunia haute couture.

Elysian Currents menempatkan AFDS di garis depan lanskap mode kawasan ini yang terus berkembang, di mana tradisi mengalir dengan mulus menuju masa depan. Bukan sekadar perayaan imajinasi, tapi juga penghormatan terhadap warisan budaya: sebuah visi haute couture Asia Tenggara modern. (HG)