Hidupgaya.co – Rheumatoid Arthritis adalah penyakit autoimun kronis yang menyerang jaringan sendi. Penyakit yang kerap disebut rematik ini lebih rentan dialami oleh wanita usia produktif (30–50 tahun) dengan risiko 2-3 kali lebih tinggi daripada pria, diduga karena pengaruh fluktuasi hormon seperti estrogen.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr. Valerie Hirsy Putri Sp.PD menyampaikan penyandang penyakit RA bisa hidup hormal asalkan penyakitnya terkontrol. “Pendekatan utama untuk kendalikan RA adalah dengan minum obat imunosupresan untuk menekan imunitas,” terangnya di acara edukasi kesehatan ‘RA Bukan Akhir Aktivitas: Tetap Bergerak, Tetap Berkarya’ yang dihadiri penyintas dan pejuang RA di Jakarta, Sabtu, (20/6).

Pada RA, sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan sehat. Serangan ini terutama ditujukan pada sinovium yakni lapisan membran pelapis yang mengelilingi dan melumasi persendian.

Perusakan ini memicu peradangan kronis yang menyebabkan beberapa kondisi, antara lain kerusakan sendii, sinovium yang meradang menebal dan merusak tulang rawan serta tulang di dalam sendi.

Selain itu RA juga memicu jaringan penyokong sendi ikut meregang dan melemah, memicu perubahan bentuk sendi (deformitas).

Dalam kondisi lanjut atau tidak terkontrol, peradangan juga dapat berdampak pada sistem peredaran darah, paru-paru, jantung, dan mata.

Pace/mengkudu (dok. Hidupgaya.co)

Gejala RA berbeda dengan pirai/asan urat. Pasien penyandang RA umumnya merasakan kekakuan di pagi hari (morning stiffness), sendi terasa kaku dan sulit digerakkan selama lebih dari satu jam saat bangun tidur. “Sendi terasa hangat, bengkak, dan nyeri, namun membaik saat tubuh digerakkan,” ujar dr. Valerie.

Nyeri sendi membuat pasien RA sulit bergerak. Kondisi ini ibarat buah simalakama. “Pasien RA umumnya membatasi aktivitas karena rasa nyeri yang timbul, terutama saat flare. Padahal kalau kurang gerak, bisa makin parah,” ujarnya.

Nyeri yang berlangsung intens, bahkan pasien mengeluhkan sangat nyeri bahkan saat terkena udara dingin, bisa mengganggu kesehatan mental. “Pasien RA mudah stres, bahkan depresi akibat rasa nyeri intens saat penyakit kambuh,” terang dr. Valerie.

Nyeri kronis dan keterbatasan aktivitas sehari-hari sering kali menyebabkan gangguan tidur (insomnia) serta memicu kecemasan atau depresi pada pasien RA.

Untuk meminimalkan rasa nyeri, penyintas RA disarankan untuk melakukan aktivitas fisik ringan seperti jogging, jalan kaki treadmill, atau sepeda santai. “Bisa pakai sepeda statis yang bisa disetel kecepatannya,” saran dr. Valerie.

Dia juga menyarankan aktivitas peredangan untuk meminimalkan kekakuan sendi di pagi hari.

Untuk meminimalkan kekambuhan RA, pola makan perlu dijaga. “Penyintas RA perlu jaga pola makan, karena ada mekanisme gut brain axis, usus dan otak terhubung. Sebisa mungkin hindari makanan berminyak, tepung dan gula yang berpotensi meningkatkan peradangan tubuh. Lebih baik hindari makanan pemicu, termasuk junk food,” urainya.

Pasien dan penyintas RA juga didorong untuk mengelola stres. “Stres memicu produksi hormon kortisol yang meningkatkan potensi eradangan dalam tubuh yang bisa memicu flare,” tutur dr. Valerie.

Noni Noni Balsem (dok. Hidupgaya.co)

Guna menjaga kondisi autoimun terkontrol, dr. Valerie menyarankan agar pasien RA patuh minum obat. Pengobatan berfokus pada pencegahan kerusakan sendi dan mencapai remisi (bebas gejala) menggunakan obat khusus seperti DMARD (Disease-Modifying Antirheumatic Drugs).

Obat oles redakan nyeri sendi

Selain minum obat yang diresepkan dokter, pasien RA juga bisa menggunakan obat oles/topikal, atau kompres untuk meredakan nyeri sendi. “Kalau sendi memerah, meradang, sebaiknya kompres dingin dulu. Kalau bengkak mereda, gunakan kompres hangat untuk relaksasi,” saran dia.

Adapun obat topikal/oles, seperti balsem, bisa digunakan untuk meredakan nyeri lokal. “Tujuan pemakaian balsem oles untuk relaksasi samarkan rasa nyeri,” ujar dr. Valerie.

Saat pasien malas bergerak karena rasa nyeri, mengoleskan balsem bisa membantu redakam rasa sakit. “Ini membantu pasien bisa lebih bergerak. Suhu hangat dari balsem bisa lancarkan aliran darah. Obat oles umumnya bekerja lebih cepat, hanya bekerja lokal tidak seperti obat minum,” tuturnya.

Terkait produk oles yang terbuat dari mengkudu, dr. Valerie mengatakan pace/mengkudu perrnah diteliti punya zat aktif antiradang yang bekerja di enzim peradangan. “Sedikit mirip jalurnya dengan obat antinyeri,” bebernya.

Mengkudu juga mengandung antioksidan yang berfungsi menangkal radikal bebas dalam tubuh. “Kandungan skopoletin dan bahan aktif lain dalam mengkudu akan memblok reaksi peradangan sehingga mengurangi gejala peradangan salah satunya nyeri,” tandas dr. Valerie.

dr. Valerie Hirsy Putri Sp.PD dan Nugroho dari Noni Noni Balsem di acara diskusi penanganan nyeri sendi pasien dan penyintas RA (dok. Hidupgaya.co)

Kesempatan sama, Nugroho selaku Product and Development Noni Noni Balsem menyampaikan produk obat oles topikal berbahan dasar buah mengkudu alami kerap digunakan oleh wanita Indonesia untuk membantu redakan gejala nyeri sendi dan peradangan akibat RA.

“Efek hangatnya meningkatkan sirkulasi darah pada area sendi yang kaku. Kandungan ekstrak mengkudu memiliki zat aktif yang membantu mengurangi peradangan lokal. Formula alaminya dirancang agar aman dipakai sehari-hari,” ujarnya.

Yovita, penyintas RA, telah menggunakan Noni Noni Balsem selama kurun 7 tahun. “Sensasi hangatnya meresap sampai ke dalam membantu meredakan rasa nyeri. Itu membantu saya menjalani aktivitas,” ujarnya.

Selain menggunakan balsem, Yovita yang juga mengidap OA (osteoartritis), secara teratur menggunakan obat resep serta berupaya melakukan aktivitas fisik ringan untuk mengelola penyakitnya. (HG)