India Belum Keluar dari Krisis, Puncak Covid-19 Diprediksi Pertengahan Mei

Hidupgaya – Wabah COVID-19 di India terus meluas, memecahkan rekor jumlah kasus harian, oksigen untuk ventilator semakin langka, dan tingkat penularan yang menunjukkan keadaan  di negara dengan populasi padat itu semakin buruk.

India melaporkan hari keenam berturut-turut lebih dari 300.000 kasus COVID-19 baru pada 27 April. Selain itu, jumlah kematian resmi  yang dilaporkan di angka 200.000 kemungkinan jauh lebih sedikit daripada yang sebenarnya, mengingat 20% dari semua tes virus corona di sana kembali positif.

Krisis Kemanusiaan Nyata

Laporan kasus baru yang keluar dari India kemungkinan besar merupakan perkiraan yang terlalu rendah, demikian menurut Ashish Jha, dekan dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas Brown di Providence, dalam temu media, 27 April silam. “Jumlah total kematian 200.000 juga jelas merupakan perkiraan yang terlalu rendah,” kata Jha. “Perkiraan terbaik adalah 10 kali lipatnya.”

“Virus itu menelan penduduk kota kami seperti monster,” kata pejabat kota Bhopal Mamtesh Sharma kepada The Associated Press. “Tidak ada keraguan bahwa keadaan darurat kemanusiaan sedang berlangsung di India saat ini,” kata Michael Head, PhD, peneliti senior kesehatan global di Universitas Southampton di Inggris.

“Ada banyak cerita tentang runtuhnya sistem kesehatan, dengan laporan tentang kekurangan oksigen untuk pasien yang dirawat di rumah sakit dan mayat terbakar (dikremasi) di tumpukan kayu di jalanan,” ujar Head.

Angka kematian di India tidak sebanding dengan peningkatan tajam dalam kasus-kasus baru. Tingkat kematian sering kali tertinggal dari infeksi selama beberapa minggu, sehingga situasinya bisa berubah.

Amerika Serikat awalnya berjanji untuk mengirim bahan mentah untuk vaksin ke India, dan kemudian akan mengirimkan 60 juta dosis vaksin AstraZeneca ke luar negeri untuk membantu bencana yang sedang berlangsung di India dan negara lain. India melaporkan 14 juta kasus kumulatif, di posisi kedua setelah 32 juta yang dilaporkan sejauh ini di Amerika Serikat.

“Gelombang COVID-19 kedua di India, yang dimulai pada 11 Februari 2021, menghadirkan situasi yang suram karena jumlah kasus melebihi 0,2 juta per hari pada 14 April 2021,” tulis Rajesh Ranjan, dan rekannya di sebuah studi pracetak diterbitkan secara online 21 April di MedRxiv.

Tingkat 200.000 kasus baru setiap hari lebih dari dua kali lipat yang dialami negara selama puncak pertama. “Data menunjukkan bahwa saat ini virus jauh lebih menular daripada gelombang pertama, tetapi jumlah kematian harian per infeksi lebih rendah,” tulis mereka.

Mewaspadai Varian Virus

Ranjan dan rekannya mengatakan gelombang terbaru di India mungkin disebabkan oleh varian B.1.617 dari virus corona, yaitu jenis variasi mutan ganda yang sangat menular, perilaku lalai dari populasi, dan pelonggaran intervensi. Mereka mencatat bahwa lebih banyak penelitian diperlukan untuk menentukan apakah infeksi yang terkait dengan B.1.617 lebih atau kurang parah daripada virus tipe liar.

Ashish Jha mengatakan 4 hingga 6 minggu ke depan akan sangat sulit bagi India, seraya menambahkan varian B.1.1.7, yang pertama kali diidentifikasi di Inggris, memainkan peran yang lebih besar di India saat ini daripada varian lain yang menjadi perhatian.

“Situasi di India menunjukkan kebutuhan untuk menjaga dari tertular varian ini dengan memakai masker, menjaga jarak, dan karantina, serta tentu saja meningkatkan produksi vaksin secara global,” kata Frieden.

India dinilai memiliki kapasitas yang sangat besar dalam pembuatan vaksin dan dapat menjadi penyedia vaksin di Asia Selatan dengan menciptakan pusat pembuatan vaksin mRNA. “Menciptakan pusat regional pembuatan vaksin akan memakan waktu lebih lama dari yang kita inginkan, itulah mengapa kita harus mulai sekarang,” ujar Tom Frieden, mantan direktur CDC Amerika.

Masa Depan Suram

“Gelombang kedua di India terlihat jauh lebih genting daripada gelombang pertama dan situasinya bisa dengan cepat lepas kendali kecuali jika tindakan tegas diambil,” tulis Ranjan dan rekannya. “Vaksinasi menjadi sangat penting, tetapi mengingat populasi yang besar di India dan penyebaran virus mutan saat ini ke lokasi terpencil,  strategi ini mungkin tidak cukup untuk membendung penyebaran virus.”

Frieden mengatakan virus tidak lagi memandang batas negara sehingga komunitas global harus bekerja sama. “Merupakan kepentingan individu dan kolektif kita untuk meningkatkan vaksinasi di seluruh dunia secepat mungkin, dengan menjangkau komunitas yang ragu-ragu dan berisiko, dan untuk menekan penyebaran seefektif mungkin dengan pemakaian masker dan menjaga jarak, terutama di dalam ruangan,” bebernya.

“Kita tidak bisa dibutakan oleh cahaya di ujung terowongan di Amerika Serikat,” imbas Frieden. “Lonjakan India adalah pengingat bahwa virus sedang mempelajari kita dan beradaptasi lebih cepat daripada yang kita pelajari dan adaptasi terhadapnya, dan bahwa COVID-19 adalah risiko yang terus berlanjut dan meningkat.”

Menariknya, meskipun India adalah produsen vaksin terbesar di dunia, namun negara itu belum melakukan vaksinasi besar-besaran –  yang berarti bahwa sejauh ini hanya 9% orang yang dilindungi secara relatif,, kritik Martin Hibberd, profesor dari Emerging Infectious Disease di London School of Hygiene & Tropical Medicine, kepada Science Media Center.

Dalam studi mereka, Ranjan dan rekan menghitung seberapa besar kemungkinan setiap orang yang terinfeksi menularkan virus ke orang lain, yang dikenal sebagai nomor reproduksi (Rt). Ketika Rt lebih besar dari 1, setiap orang kemungkinan besar akan menyebarkan virus ke lebih dari satu individu lainnya. Rt saat ini di India sekitar 1,37, naik dari 1,09 pada September 2020.

Ukuran lain, case fatality rate (CFR), cenderung turun dari 3,5% selama puncak pertama di India pada April 2020 menjadi 1,2%  satu tahun kemudian. “Penurunan kurva CFR menunjukkan lapisan perak dari mutan yang relatif kurang fatal,” tulis Ranjan dan rekannya. “Namun, mengingat peningkatan kasus secara eksponensial pada tingkat yang sangat tinggi, diharapkan fasilitas perawatan kesehatan akan segera sepenuhnya dibatasi sehingga mengakibatkan tidak tersedianya tempat tidur rumah sakit dan ventilator bagi mereka yang membutuhkan. Hal ini dapat mengakibatkan peningkatan CFR. ”

India  Belum Akan Keluar dari Masalah

Berdasarkan model ini, peneliti memperkirakan puncak gelombang kedua saat ini akan terjadi pada pertengahan Mei, saat diperkirakan kasus baru mencapai 360.000 per hari. “Sementara banyak kasus fokus ke kota-kota besar, kita harus segera bertindak untuk mencegah percepatan penyebaran ke kota-kota kecil dan desa tempat mayoritas penduduk tinggal,” kata Cherabuddi, yang juga berafiliasi dengan COVID SOS India, sekelompok sukarelawan ilmuwan, dokter, insinyur, pembuat kebijakan, dan ahli epidemiologi di seluruh dunia mendukung perang melawan COVID-19 di India.

“Empat hingga 6 minggu ke depan akan sangat sulit bagi India,” kata Jha. “India sama sekali masih belum keluar dari masalah. Sangat penting bagi kita untuk mengingat ini adalah pandemi global,” tambahnya. “Sementara virus menyebar secara liar di mana saja, kita semua berisiko.” (HG)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s