Lanjut ke konten

Kiat 5 Desainer Fesyen Adu Strategi Menangkan Pertempuran di Masa Pandemi Covid-19

25/06/2020

Hidupgaya – Di masa pandemi Covid-19 hampir semua sektor bisnis terimbas, termasuk di dalamnya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Dampak pandemi ini bisa dibilang dahsyat, karena tak sedikit bisnis yang berhenti berproduksi atau bahkan tutup karena ketiadaan pembeli dan berimbas pada perumahan tenaga kerja.

Dunia fesyen tak imun dari  dampak pandemi Covid-19. Sejumlah desainer Tanah Air berjuang untuk menjaga bisnis mereka tetap sustain di tengah kecemasan dan ketidakpastian, serta adanya pembatasan aktivitas yang berpengaruh pada produksi sekaligus penjualan.

Indonesian Fashion Chamber (IFC) yang mewadahi sejumlah desainer Tanah Air baru-baru ini menghelat webinar berisi sharing pengalaman 5 desainer yang mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19, bahkan memanfaatkan peluang dan terhindar dari merumahkan karyawan. Simak pengalaman dan jalan yang harus mereka tempuh untuk survive dalam menjalankan bisnis di masa pandemi:

Khairul Fajri Yahya 

Desainer asal Aceh ini dikenal sebagai desainer yang lekat dengan sarung, yang dia ciptakan menjadi celana sarung dengan target kaum milenial atau usia di atasnya namun berjiwa muda. Dia berkisah di masa pandemi Covid-19 mulai Maret awal, di Aceh diberlakukan jam malam sekaligus penjagaan portal oleh aparat untuk mencegah warga keluar masuk. “Pertengahan Maret terasa banget tidak bisa beraktivitas. Pekerja tidak bisa bekerja yang berdampak pada produksi. Selama ini saya mengandalkan tamu domestik yaitu turis untuk membeli sarung sebagai suvenir. Tempat wisata tutup, praktis tidak ada penjualan,” tutur Khairul yang membesut merek Ija Kroeng.

Minggu pertama kuncian nyaris tidak ada pendapatan, demikian juga dengan pekerja borongan tak mendapatkan penghasilan. “Saat itu terjadi kelangkaan masker dan harganya mahal. Jadi terpikir untuk bikin masker kain dengan custom dan produksi massal. Saya bikin masker kain dengan logo atau inisial. Ini produksi cepat, namun tetap harus fashionable bukan hanya mengedepankan fungsi. Promo melalui medsos, sambutannya bagus,” beber Khairul.

Dia membidik instansi yang potensial. “Saya bikin sampel dengan logo institusi, dan memanfaatkan relasi di Bank Indonesia, OJK(Otoritas Jasa Keuangan) dan sebagainya. Saya buatkan foto masker di manekin, Responsnya bagus. Orderan langsung masuk dalam jumlah banyak,” ujar Khairul. Berkahnya, merek utama Ija Kroeng juga ikut ‘terbawa’ karena banyak yang datang ke workshop untuk beli langsung. “Dari sini pembeli tahu, kami tak hanya bikin masker, tapi juga menjual sarung dan celana sarung,” imbuhnya.

Pulan puasa Ija Kroeng merilis koleksi baru dan promo di medsos bisa dibilang sukses. “Permintaan tinggi. Omzet tahun ini malah lebih bagus dari bulan puasa tahun lalu. Penambahan follower di medsos juga luar biasa,” ujar Khairul yang membuat masker untuk pengantin dengan inisial mereka untuk dibagikan sebagai suvenir ke undangan. “Peluangnya bagus.”

Meski demikian, Khairul menegaskan, masker bukanlah produk utama Ija Kroeng. “Selama peluang pasar ada akan produksi masker kain non-medis, namun ini bukan produk utama,” tandasnya.

Philips Iswandono

Desainer dari Yogyakarta yang fokus pada tenun dan lurik dari Klaten dan Yogya ini mengaku tak begitu merasakan dampak pandemi Covid-19. Dia tak merumahkan karyawan, dan malah merekrut tenaga tambahan. “Saya jalankan bisnis dengan PO (pre-order) untuk meminimalkan risiko,” kata pemilik merek Concept by Philips.

Basis pelanggan Philips 75% di Jakarta. “Minggu pertama dan kedua pandemi Covid-19 kami masih mengerjakan PO dari bulan sebelumnya. Begitu PO selesai, barulah putar otak. Saya mulai aktif hubungi database di Whatsapp hanya sekadar say hello tanpa menjual apapun. Saya kirimkan masker kain atau bandana dari sisa kain ke customer sebagai hadiah untuk menjaga hubungan positif,” ujar Philips. Berkahnya, dari hadiah kecil itu para klien merespons. “Mereka tanya apakah saya masih produksi. Saya bilang masih. Mulailah dari sini pesanan kembali mengalir,” ujarnya.

Philips mengaku masker kain bukanlah bisnis utama. “Harganya juga murah, hanya Rp3 ribu per buah karena dibuat dari kain perca. Namun saya juga buat masker premium dengan harga ratusan ribu hingga Rp1 juta per buah dengan memakai kain tenun langka. Responsnya bagus,” ujarnya.

Selama pandemi, Philips mengaku masih mengekspor produk Concept by Philips ke sejumlah negara, antara lain Singapura hingga Australia. “Selama pandemi, omzet saya naik 50% dibanding sebelum pandemi,” ujarnya yang menjual koleksi busana siap pakai mulai Rp550 ribu hingga Rp1 juta memakai materi tenun lurik.

Hannie Hananto

Desainer Hannie Hananto memiliki cara unik dalam menjaga bisnis selama pandemi Covid-19. “Saya manfaatkan TikTok untuk edit video juga promo produk Anemone yang memang membidik anak muda,” ujarnya. Desainer ini melakukan review produk di Insta Story IG. “Ternyata ada interaksi. Konsumen banyak yang bertanya dan ada pembelian. Padahal tujuan awalnya hanya ingin menjelaskan koleksi Anemone seperti apa.”

Di awal pandemi, Hannie mengaku malah memakai masker yang diberikan oleh Philips Iswandono. “Setelah itu baru kepikiran untuk bikin masker sendiri dengan gaya saya sendiri. Saya jual masker 3 lapis seharga Rp75 ribu. Saya bikin sampai 25 motif,” bebernya.

Strategi memanfaatkan medsos dan mengikuti tren kekinian target pasar banyak membantunya survive di tengah pandemi. “Sebagai desainer kita harus pintar mengikuti yang lagi hype. Untuk kasus saya, ikut TikTok bisa mengangkat penjualan. Ini marketing gaya baru yang harus diadaptasi,” beber Hannie.

Riri Rengganis

Deainer asal Bandung yang juga menjabat Executive Vice Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC) juga merasakan lesunya bisnis di masa pandemi Covid-19. Daya beli masyarakat menurun, terutama terkait pembelian produk premium dari batik tulis dan tenun. Pemilik brand Indische ini merasakan kelesuan bisnis sejak Januari dan Februari 2020. “Omzet penjualan produk saya di mall mulai turun karena konsumen menahan pembelian barang. Tren ini berlanjut hingga Maret,” ujar Riri. “April omzet saya turun hingga 80% hingga diputuskan hentikan produksi dan stop memasuk ke toko. Masalahnya barang di toko tidak bisa diambil kareda ada kebijakan lockdown, mall tutup.”

Riri mencoba cara lain, yaitu menggunakan database customer – ada sekira 500-   untuk memancing penjualan. “Hasilnya malah kami dicurhati balik oleh customer karena tidak ada uang untuk belanja,” Riri mengenang. Akhirnya diputuskan cari cara lain. “Diputuskan stop broadcasting WA, karena dengan harga baju Rp1 juta per buah sulit dijual dalam situasi pandemi. Saya lakukan evaluasi produk, mana yang relevan mana yang tidak. Dalam situasi pandemi, pemberian diskon tidak angkat penjualan.”

Riri dan tim memutuskan menjual kain-kain wasta karya perajin. “Saya foro bagus dikasih detail lalu ditampilkan online. Saya berikan servis jahit tanpa memotong kain, karena sayang kain batik tulis kalau dipotong. Ternyata responsnya baik. Mulai terjadi order,” ujar Riri.

Desainer yang pernah bermukim di Bali ini putar otak untuk menjalankan bisnis dan muncul ide membuat masker premium yang matching dengan busana yang dimiliki para pelanggan. Lagi-lagi strategi ini berhasil. “Banyak permintaan masker yang bisa dipadupadan dengan baju yang sudah dimiliki pelanggan,” ujar Riri yang menjawab semua permintaan pelanggan sendiri hingga dini hari. “Masker ini mahal jadi nggak bisa dijual dengan cara biasa. Saya ambil alih tugas admin. Ini memang produk sampingan tetapi saya perlakukan sama pentingnya dengan jual baju. Saya meladeni pesanan termauk pilihan kain.”

Masker premium yang diberi nama Rengganis ini ternyata viral karena pelanggan dengan sukarela memposting di medsos saat memakainya. “Mulai Mei orderan masuk banyak, sampai kini pesanan belum berhenti. Ini bikin masker pekerjaan sepele tapi efektif sebagai pancingan customer baru. Bisa ngasih pekerjaan ke tukang selama 3 minggu, lumayan banget mereka ada pemasukan,” beber Riri yang mematok harga masker premiumnya Rp75 ribu hingga Rp125 ribu dan sejauh ini sudah terjual lebih dari 2000 buah.

Masker ini tampil sebagai penyelamat. “Saya bisa bayar THR karyawan walaupun dengan cara cicil 2 kali, sebelum dan setelah Lebaran. Saya sengaja main di harga psikologis Rp75 ribu dengan pertimbangan konsumen tidak akan mikir dua kali membeli di harga itu,” Riri buka rahasia. Upaya ini berhasil karena satu customer bisa repeat order hingga 5 buah masker. “Ada order dari bank sebagai corporate gift.”

Medsos diakui Riri banyak membantu menopang bisnisnya selama pandemi. “Masker buatan saya itu nyaman dan tidak bikin sesak karena bentuknya seperti mangkuk juga 3 lapis. Pelanggan membeli masker ini karena ada pesan sosial sudah menolong UMKM,” kata Riri yang membuat masker dari bahan katun dilengkapi trikot untuk menjaga agar kain tidak mengkerut saat dicuci dan agar awet bordirannya. Riri juga menyematkan saringan non-woven, semacam tisu yang menempel di kain. “Saya lengkapi kantong lagi untuk menyelipkan tisu tambahan.”

Rosie Rahmadi

Creative Director Maison Gadiza Rosie Rahmadi berinisiatif untuk membuat sebuah produk yang bisa menggantikan APD sehingga bisa digunakan oleh masyarakat umum. “Kami menyebutnya Outer Pelindung Diri (OPD) yang bisa dipakai agar kita merasa lebih aman ketika harus keluar rumah,” ujar Rosie.

Sazia Outer, merupakan salah satu produk dari Maison Gadiza, brand yang diusung oleh desainer Rosie Rahmadi. Produk yang terbuat dari serat nilon dan polyester ini juga memiliki kemampuan water repellent, cepat kering, dan ringan. OPD dapat digunakan untuk berbagai kegiatan mulai dari beraktifitas santai di rumah, berjemur, bekerja di rumah, hingga berbelanja, bahkan berolahraga.

Menurut penasihat IFC dan juga desainer senior Taruna Kusmayadi, di masa pandemi Covid-19 desainer fesyen dituntut untuk fleksibel dalam memperhatankan bisnis. “Harus mau terus belajar, jangan merasa ilmunya cukup. Desainer harus fleksibel, salah satunya dengan produksi masker. Merek premium LV sama Fendi saja produksi masker, kenapa kita nggak,” ujar Nuna. Produksi masker ini bisa disesuaikan dengan versi masing-masing merek. “Kuncinya harus kreatif agar bisnis terus menjalan,” tandas Nuna. (HG)

 

From → Fashion Spread

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: