Lanjut ke konten

Menjalani Hubungan Tidak Umum, Maju Terus atau Sudahi Saja?

08/03/2020

Hidupgaya – Indonesia adalah bangsa yang kolektif, salah satu buktinya adalah tingginya jumlah pernikahan endogami (pernikahan antara suku atau kekerabatan yang sama). Data Badan Pusat Statistik 2010 menunjukkan 89,3% pasangan di Indonesia menikah secara endogami.

Di balik fakta tersebut, banyak dari pasangan ini mengalami masalah yang disebabkan oleh alasan fundamental seperti pandangan hidup yang tidak sejalan atau argumen yang berkelanjutan. Artinya, persamaan latar belakang tidak menjamin persamaan pandangan hidup.

Menanggapi fakta ini, Fiona Anjani Foebe selaku Head of Marketing Oral Care PT Unilever Indonesia, Tbk mengatakan Closeup – merek pasta gigi dari Pepsodent – percaya bahwa kebebasan untuk memilih pasangan yang sejalan dengan pandangan hidup tanpa terbelenggu pada batas-batas konvensional seperti persamaan suku, latar belakang sosial, atau selisih usia yang dipandang ‘ideal’ adalah hak setiap manusia, sehingga mereka dapat mengungkapkan cinta dengan percaya diri, serta bebas dari keraguan akan penilaian dari orang lain.

“Closeup berkomitmen untuk menghilangkan stereotype dari makna kedekatan, dan secara nyata mendukung anak muda dalam merealisasikan kedekatan dengan orang yang sejalan dengan pandangan hidupnya,” ujar Fiona.

Untuk menggali lebih jauh mengenai kebebasan untuk mencintai, survei dari tim global CloseUp yang melibatkan 514 anak muda di Indonesia memperlihatkan bahwa hanya 1 dari 2 anak muda yang percaya bahwa mereka bebas menentukan pilihan untuk bersama dengan orang yang mereka cintai, tanpa memandang latar belakangnya. Namun, 79% dari mereka mengaku telah mengikuti keinginan hati dan sedang atau pernah memilih untuk berada di hubungan yang ‘tidak konvensional’, seperti hubungan berbeda suku dan kelas sosial, atau usia yang terpaut jauh.

“Survei ini juga menunjukkan bahwa pasangan-pasangan yang menjalani hubungan ‘tidak konvensional’ ini menghadapi tekanan yang sangat kuat sehingga akhirnya kehilangan suara mereka: 43% dari mereka akan merahasiakan hubungan mereka karena tidak direstui orangtua, 31% merasa bersalah terhadap keluarga mereka, 58% merasa didiskriminasi, dihakimi atau dipermalukan, dan 44% bahkan terpaksa mengakhiri hubungan karena tidak direstui orangtua maupun masyarakat,” ungkap Fiona.

Pingkan Rumondor, psikolog klinis dan penelitirelasi interpersonal saat ini mulai mengamati adanya perilaku ‘sliding’ daripada ‘deciding’ di antara pasangan-pasangan muda, dimana mereka cenderung patuh ke batas-batas cinta konvensional yang ditentukan oleh masyarakat, tanpa aktif mengeksplorasi dan secara sadar memutuskan pilihannya sendiri. Tanpa keberanian untuk menyuarakan keinginan, kebahagiaan mereka pun akhirnya menjadi terbatas.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pria dan wanita akan lebih mampu merasakan hubungan yang rewarding saat mereka berani memutuskan dan mengungkapkan hal-hal yang dianggap penting dalam hubungan, dibandingkan hanya mengikuti arus. “Salah satu tahapan yang paling penting adalah memahami apa yang ingin kita rasakan dan dapatkan dari sebuah hubungan sehingga kita dapat lebih percaya diri menyuarakan isi hati kepada pasangan, dan akhirnya mencintai orang yang sesuai dengan nilai-nilai kita,” beber Pingkan.

Rasa percaya diri ini juga akan membantu mereka menemukan keberanian untuk meyakinkan semua orang, baik itu orangtua atau masyarakat bahwa hubungan mereka pantas diperjuangkan. Prinsip ini ternyata menjadi dasar kekuatan cinta pasangan selebritas Natasha Rizky dan Desta Mahendra.

Natasha bercerita, di masa pacaran dia dan Desta banyak menerima tentangan dari keluarga dan orang-orang sekitar – terutama karena perbedaan usia yang terpaut jauh, yaitu 16 tahun. “Aku percaya bahwa cinta memang harus diperjuangkan. Karena aku dan Desta sangat yakin bahwa kami memiliki visi dan prinsip hidup yang sejalan, perlahan-lahan kami juga mampu meyakinkan orang-orang bahwa persepsi mereka tentang hubungan beda usia tidak selamanya benar,” ujar Natasha.

Survey Closeup memperlihatkan bahwa pasangan muda, khususnya mereka yang sedang menjalani hubungan “tidak konvensional” membutuhkan dukungan untuk membantu menghadapi gejolak emosional yang mereka hadapi. Sebagai salah satu wujud dari kampanye #SpeakUpForLove, Closeup melakukan rangkaian workshop yang bertujuan mendukung pasangan muda di Indonesia lebih percaya diri untuk menyuarakan isi hati mereka.

“Closeup berharap akan lebih banyak pasangan muda Indonesia yang berbahagia dalam hubungan yang sehat, dan meneruskan kebahagiaan ini kepada generasi masa depan. Nantikan keseruan berikutnya dari kampanye #SpeakUpForLove,” pungkas Fiona. (HG).

 

From → What's Happening

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: