Lanjut ke konten

Inilah 4 Unsur Penting dalam Trend Forecasting 2019/2020 Industri Fashion

20/11/2018

Hidupgaya – Indonesia Fashion Chamber (IFC) Jakarta Chapter menyelenggarakan Jakarta Fashion Trend 2019. Acara tersebut mempresentasikan koleksi tren 2019 karya desainer anggota IFC mengacu pada Indonesia Trend Forecasting 2019/2020.

Ketua Indonesia Fashion Chamber Jakarta Chapter Hannie Hananto mengatakan Jakarta diharapkan menjadi pusat fashion di Indonesia. Dikatakan, Jakarta potensial menjadi menjadi acuan inspirasi dari tren mode di tingkat nasional, bahkan global.

Perhelatan yang berlangsung sehari di Gran Melia Hotel Jakarta, 8 November lalu menampilkan pergelaran busana yang diikuti lebih dari 21 desainer anggota IFC Jakarta Chapter seperti Lisa Fitria, 2Pose by Monika Jufry, Anmone by Hanie Hananto, Najua Yanti, Markamarie, Lia Mustafa, Fitri Aulia, Khanaan, Eugeneeffectes, Raegita Zoro, Priscilla, Novita Yunus, Kultura by Barlan & Gita, JSL LeViCo by Justina Josepha, Ichwan Thoha, dan Lenny Agustin. Acara ini juga menghadirkan desainer tamu Ali Charisma, yang tak lain ketua umum IFC, dan Itang Yunasz.

Hannie menambahkan, Jakarta Fashion Trend 2019 juga berkolaborasi dengan berbagai pihak antara lain Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kalimantan Barat yang menampilkan Chaera Lee dan Wignyo, Dekranasda Sulawesi Barat yang mempersembahkan karya Neera Alatas, Dekranasda Kutai Barat mempersembahkan Billy Tjong, kemudian Maluku Tenggara Barat, Galeri Batik Destiani.

Di kesempatan yang sama, Koordinator Tim Penyusun ITF Dina Midiani mengatakan Trend Forecast 2019/2020 kali ini bertajuk Singularity. Sama seperti tahun sebelumnya, Trend Forecasting 2019/2020 diharapkan bisa menjadi referensi tren dalam negeri, berisi panduan dan inspirasi bentuk, warna, sketsa, hingga selera pasar terkini.

Ada empat subtema yang diusung dalam Trend Forecast kali ini, yaitu:

1. Exuberant

Menonjolkan karakter kemanusiaan yang dinamis dan cerdas. Karakter dasar dari tema ini adalah santai, ramah, sedikit nerdy, namun tetap stylish, dan lucu.

2. Neo Medieval

Neo medieval adalah pola pikir yang menjadikan kemajuan teknologi sebagai sebuah paradoks. Globalisasi membuat sebuah tren yang menyerupai abad pertengahan.

“Tema-tema di abad pertengahan tetap mempesona dunia modern dan teknologi tinggi karena narasi romantis sejarah untuk menjelaskan pandangan yang membingungkan. Walau bernapas abad pertengahan, namun tema ini juga sangat futuristis,” ujar Dina.

3. Svarga

Tema tren ini mewakili poetnsi kemanusiaan yang inklusif dan berempati. Svarga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti surga, menggambarkan pendekatan antar manusia secara spiritual.

“Desain dari tema ini memperlihatkan berbagai produk berbasis kriya bernilai tinggi, menggarisbawahi warisan tradisi yang tak ternilai harganya dan kearifan lokal pelaku kriya tradisional,” jelas Dina.

4. Cortex

Tema ini mewakili sistem dasar yang mendistrupsi kehidupan dalam singularity. Dalam proses pengembangan desain, tema ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pembantu desainer, namun juga bisa menjadi desainer itu sendiri.

Dina mengungkapkan, hasil riset tersebut juga hadir dalam format konten Impulse sebagai tema besar, dan Decoding sebagai acuan penerapan. “Penting sekali menerapkan trend forecast yang dikawinkan dengan kekayaan unsur lokal yang dimiliki. Tidak menutup kemungkinan desainer menggabungkan tema tersebut dalam setiap koleksinya,” tandasnya. (HG)

 

Iklan

From → Fashion Spread

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: