Lanjut ke konten

Belanja Grosir Online Kian Digemari Konsumen

06/09/2018

Hidupgaya – Transaksi online di Indonesia mengalami peningkatan yang menggembirakan. Data menunjukkan, pada 2015 Indonesia memiliki 18 juta konsumen yang berbelanja secara online dan diharapkan untuk terus tumbuh hingga 119 juta pada 2020.

Hal itu ditunjang oleh populasi anak muda yang besar, penetrasi perangkat perangkat mobile dengan harga yang terjangkau, investasi besar (termasuk kerja sama) dari para investor asing, evolusi infrastruktur pembayaran yang memungkinkan pelanggan untuk melakukan pembelanjaan secara online tanpa rekening bank serta pertumbuhan ekonomi yang semakin kuat.

Selain itu, konsumen di Indonesia semakin lebih akrab dengan dunia e-commerce, dilihat dari hasil pencarian kata kunci yang semakin spesifik.

Tidak dapat dimungkiri, teknologi telah menjadi bagian penting dalam aktivitas sehari-hari, termasuk mempengaruhi pengalaman berbelanja seseorang.

Konsumen kini kian beralih dari aktivitas belanja konvensional dengan cara mendatangi toko fisik di beragam lokasi (offline) ke belanja secara digital (online). Kini, konsumen dapat membeli apa pun, kapan pun, dan di mana pun langsung dari genggaman tangan mereka.

Berangkat dari pemahaman inilah, perusahaan pemrosesan dan pengemasan makanan serta minuman terdepan di dunia, Tetra Pak, merilis ‘Tetra Pak Index’, sebuah riset tahunan yang diadakan di beberapa negara termasuk Indonesia, guna mempelajari tren belanja pangan di era omnichannel serta bagaimana pengalaman tersebut dapat menghadirkan kesempatan unik bagi industri makanan dan minuman.

Riset yang memasuki tahun kesebelas ini juga menjelaskan pentingnya peranan kemasan produk dalam perjalanan belanja konsumen di era pemasaran berbasis omnichannel ini.

Dipaparkan Gabrielle Angriani, Communications Manager Tetra Pak Indonesia, untuk mampu bersaing di era omnichannel, para pengusaha harus berusaha untuk menawarkan pengalaman berbelanja secara online yang dipersonalisasi untuk para konsumennya.

“Salah satu aktivitas belanja online yaitu belanja makanan dan minuman secara online (e-grocery), kini dipandang sebagai katalis untuk transformasi e-commerce yang lebih luas. Cara belanja e-grocery pun kian digemari di seluruh dunia sesuai dengan hasil riset Tetra Pak Index 2018,” ujar Gabrielle.

E-grocery telah dipandang sebagai sebagai cara belanja baru yang menyegarkan bagi konsumen, terutama bagi mereka yang terbiasa dengan belanja pangan secara offline. Jenis produk tersedia dan dapat diakses secara online kurang lebih sama dengan yang ditawarkan di toko-toko, termasuk makanan dan minuman dalam  kemasan.

“Berdasarkan riset Tetra Pak Index di Indonesia, sebanyak 1,2% konsumen di Jakarta telah berbelanja pangan secara online pada tahun 2016 dan angka ini diharapkan untuk terus tumbuh hingga 5,4% pada tahun 2030,” imbuhnya.

Sementara itu kegiatan belanja di pasar tradisonal mungkin akan menurun pada tahun 2030 menjadi 46,6% dari sebelumnya di angka 56,3% pada 2016.

Tren belanja konsumen Indonesia yang perlahan beralih ke e-grocery disambut dengan sangat baik oleh para e-commerce, khususnya Bukalapak. Di Jakarta, e-grocery berkompetisi langsung dengan minimarket dan supermarket karena permintaan konsumen akan pengalaman belanja yang mudah dan cepat, serta akses internet yang membaik. “Di Bukalapak, untuk kategori RTD (ready to drink) saja kami mencatat puluhan juta minuman terjual di semester 1 2018 melalui marketplace dan melalui distribusi ke UKM Warung di seluruh Indonesia,” ujar Rahmat Danu Andika, Associate Vice President of O2O Business Bukalapak.

Selain membahas tentang tren e-grocery, hasil riset Tetra Pak Index juga memberikan wawasan tentang empat faktor utama yang mempengaruhi pasar e-grocery, yaitu:

1. Kemudahan, penentu utama dalam aktivitas belanja online akibat meningkatnya permintaan konsumen akan produk yang mudah dan nyaman di dapat  serta kemasan yang praktis.

2. Teknologi dan kinerja yang terus mengubah rantai pasokan (supply chain), terutama dalam hal kecepatan pengiriman barang yang diprediksikan dapat dikirimkan dalam waktu 10 menit pada tahun 2025 serta perilaku belanja konsumen secara menyeluruh. Contohnya pola belanja konsumen dengan jumlah sedikit namun dengan frekuensi yang lebih sering.

3. Keberlanjutan, dimana konsumen mulai peduli akan pentingnya menggunakan produk dari perusahaan yang peduli akan isu lingkungan hidup, termasuk isu penggunaan plastik, daur ulang serta ekonomi melingkar yang menjadi sorotan utama belakangan ini.

4. Personal dan unik, brand berupaya menghadirkan produk yang dapat dipersonalisasi bagi pembeli sebagai pembeda dari produk lainnya di pasaran, serta untuk meningkatkan loyalitas dan penjualan.

“Riset kami membuktikan bahwa daya tahan dan efisiensi kemasan menjadi persyaratan penting dalam kegiatan belanja online. Bahkan hasil riset pun menunjukkan bahwa kemasan yang efisien secara berat maupun ruang dapat memberikan pengurangan volume transportasi sebesar 30-50%,” tandas Gabrielle. (HG)

Iklan

From → Money Talk

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: