Skip to content

60 Tahun Perjalanan Agnes Budhisurya Menyusuri Liku Kreativitas di Jagad Mode

19/04/2018

Hidupgaya – Desainer senior Agnes Budhisurya baru-baru ini merayakan ulang tahun ke 73. Genap 60 tahun perempuan kelahiran Jember ini menorehkan sejarah di jagad mode Tanah Air.

Sebagai bentuk retrospeksinya dalam berkarya, Agnes menggelar pergelaran busana di Galeri Mitra Hadiprana, Kemang, menampilkan  73 busana terbaik hasil rancangannya.

Selain pergelaran busana, di galeri yang sama Agnes juga  memamerkan sejumlah karya terbaiknya, yang akan berlangsung hingga  21 April 2018.

Desainer yang terlahir dari ibu yang juga senang menjahit ini mulai mengenal gunting dan pola di usia 13 tahun.  “Saya membuat gaun sendiri di bawah arahan ibu saya, ibu adalah seorang pembuat gaun pernikahan. Kalau mau baju baru, ya harus menjahit sendiri. Sejak itu, perjalanan saya dalam membuat karya dengan banyak bentuk terinspirasi dari pengalaman hidup,” ujar Agnes dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini.

Di awal berkarya, Agnes membuat baju dengan detail bordir yang apik. Dalam membordir dia melakukan sejumlah perombakan gaya yang menjadikan hasil bordirnya unik – renggang dan rapat. Namun teknik ini ternyata mudah ditiru orang dan dijual dengan harga lebih murah. Agar tampil beda, Agnes mulai memperkayadesainnya dengan sapuan kuas cat air melukis di lembaran kain yang halus hingga batik dan tenun.

“Saya selalu konsisten dengan karya saya dengan ciri khas sapuan kuas dari lembaran kain yang halus dan tetap mengedepankan kain tradisional berupa batik dan tenun. Kuncinya harus tetap unik,” ujar desainer yang memiliki ayah yang berprofesi sebagai florist andal. Sang ayah bekerja menciptakan rangkaian bunga yang cantik dan
kerajinan kertas dengan bentuk burung dan kupu-kupu yang lembut dengan detail yang mengagumkan.

Desainer busana asal Jember, Jawa Timur ini  dikenal luas dengan sentuhan bordirnya yang halus dan apik. Karyanya pun sudah terkenal sampai ke Tokyo, New York, Timur Tengah, dan Afrika Selatan.

Desain ditiru orang lain dan dipasarkan dengan harga murah tentu cukup menjengkelkan. “Tapi saya harus tetap mau dan terus berinovasi,” ujarnya. Hingga akhirnya dia menemukan sesuatu yang tidak mudah ditiru pada karya busananya, memadukan teknik bordir dan sapuan kuas cat lukis di atas kain dengan beragam motif.

“Selama ini saya lebih memilih bahan sutra karena mudah dilukis dan hasilnya bagus, tidak gampang mbleber. Jadi hasilnya tetap cantik,” imbuh Agnes yang masih terlihat bugar di usia kepala 7.

Sebagai perempuan, Agnes menyukai motif bebungaan pada karyanya. “Motif bunga menjadikan perempuan lebih cantik, feminin dan menarik,” imbuhnya.

Di awal merintis karier sebagai desainer busana, Agnes mendapatkan pesanan dari teman dan kerabat. “Saat memulai usaha, saya hanya bermodal kain dan gunting. Tidak punya pendidikan khusus, hanya berbekal keterampilan autodidak,” ujarnya.

Menapaki usia kepala 7, semangat Agnes dalam berkarya masih terus membara. “Saya akan terus berkarya, siap bersaing dengan yang muda-muda,” ujarnya menutup pembicaraan hangat di suatu sore sesaat sebelum ia menampilkan 73 set busana di hadapan sejumlah undangan yang dia undang untuk menghadiri retrospeksi karya dan perjalanan hidupnya. (HG)

 

Iklan

From → Fashion Spread

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: