Lanjut ke konten

Jais Darga Namaku: Kisah Perjalanan Seorang Art Dealer Menjalani Pahit Getir Kehidupan

19/04/2018

Hidupgaya – Perempuan keturunan menak (ningrat) Sunda, Jais Darga, lebih dari 30 tahun menaklukkan kubu-kubu seni di berbagai kota besar dunia dengan menjadi art dealer. Perempuan yang terlahir dari keluarga kaya ini membagikan kisahnya dalam sebuah buku otobiografi berjudul ‘Jais Darga Namaku’.

Buku setebal 525 halaman yang ditulis dalam bentuk prosa oleh penyair Ahda Imran ini mengisahkan seluruh perjalanan hidup seorang Jais Darga sejak lahir hingga akhirnya merasakan manisnya kesuksesan.

Jais Darga memulai perjalanan masa mudanya dengan berkelana di dalam dunia anak muda kota Bandung periode 1970an, hingga mengenal bisnis seni rupa di Paris, London, Amsterdam, New York, Singapura dan Hongkong. Buku ini mengisahkan perjalanan hidup seorang perempuan Indonesia dengan seluruh ambisinya.

Jais Darga Namaku disajikan dengan teknik prosa yang tak hanya terinspirasi kisah ‘manis’ Jais Darga saja, tetapi mengisahkan pergulatan hidup seorang wanita, seorang anak, seorang istri dan ibu.

Buku yang bisa membersitkan airmata saat saya membacanya menyimpan kisah sedih, kesakitan, penghianatan dan penghinaan. Kisah yang diangkat tidak sebatas dalam dunia bisnis belaka tetapi juga terhadap kuasa pria.

“Saya bahagia dan ada rasa lega setelah selesai menuangkan kisah ke dalam buku yang ditulis oleh seorang teman baik, Ahda Imran. Saya harap dapat menjadi inspirasi bagi para pembaca akan kehidupan saya sebagai art dealer,” ujar Jais dalam acara peluncuran buku otobiografinya di Jakarta, baru-baru ini.

Ahda Imran, sang penulis, mengaku awalnya hanya mengetahui Jais Darga itu art dealer internasional. “Akhirnya saya bertemu dan berkenalan dengan Jais Darga di tahun 2013. Sejak itu saya diajak masuk ke dalam dunianya, dunia seorang yang mempunyai ambisi keras hingga sukses dan menjadi tokoh inspiratif. Menariknya, Jais tak pernah memasuki wilayah kebebasan saya sebagai penulis,” ujar Ahda.

”Sepanjang 3 tahun saya menulis buku ini, dan terhitung lama karena banyak hal-hal teknis dan jarak tempat tinggal saya dan Jais Darga yang berjauhan,” ujar Ahda. Jais saat ini memiliki rumah dan tinggal di Bali.

Buku ini menarik dibaca sampai akhir, mengisahkan lika liku pahit getir perjalanan Madam Darga sebagai art dealer dengan jam terbang tinggi dan memiliki reputasi baik dalam mendatangkan karya-karya seni kelas dunia ke Tanah Air.

“Aku tidak merasa dilahirkan sebagai perempuan, tapi terpilih sebagai perempuan,” ujar Jais.

Buku ini menarik dibaca sampai akhir karena menyajikan beragam kejutan di tiap bagiannya. Ditulis dengan mengalir, seperti tidak sedang membaca otobiografi, namun kita diajak ‘napak tilas’ kisah perjalanan seorang Jais Darga.(HG)

Iklan

From → What's Happening

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: