Hidupgaya.co – Delapan belas siswa Program Diploma III Seni Rupa & Desain (Fashion Design), Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif (FHIK), Universitas Kristen Maranatha, menampilkan koleksi tugas akhir di ajang Fashion Tendance Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jawa Barat.

Berlangsung di Imah Seniman Bandung, Jawa Barat, pergelaran busana bertajuk Evolusia 2026 mengusung tema ‘OMNIA: Many Worlds. One Human Experience.’

“Acara Evolusia 2026 memamerkan 54 rancangan runway dan 18 looks pameran dari 18 desainer muda siswa Fashion Design Universitas Kristen Maranatha,” tutur Grace Sahertian, Ketua Program Diploma III Seni Rupa dan Desain Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif Universitas Kristen Maranatha dalam temu media di Bandung, Kamis (5/11).

Melalui pameran ini, pengunjung dapat mengamati lebih dekat detail rancangan, eksplorasi material, dan proses kreatif di balik setiap koleksi.

Grace mengungkap, ‘OMNIA: Many Worlds. One Human Experience’  merefleksikan mode sebagai titik temu keberagaman gagasan, mencakup budaya lokal, isu sosial, keberlanjutan, hingga teknologi dalam satu pengalaman manusia melalui konsep cahaya dan bayangan.

“Mengambil kata ‘OMNIA’ yang berarti ‘segalanya’ tema ini memandang mode sebagai titik temu berbagai perspektif dan pengalaman manusia,” ujar Grace.

Evolusia 2026 menampilkan koleksi tugas akhir desainer muda Program Diploma III Seni Rupa & Desain (Fashion Design), Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif (FHIK), Universitas Kristen Maranatha (dok. Hidupgaya)

“Konsep tersebut diterjemahkan melalui karakter cahaya dan bayangan. Layaknya cahaya putih yang terurai menjadi beragam spektrum warna sekaligus membentuk bayangan, karya para desainer muda merepresentasikan keberagaman gagasan yang berpadu dalam satu pengalaman bersama.”

Singkat kata, tema ‘OMNIA’  menjadi ruang bagi para desainer muda untuk menerjemahkan beragam perspektif dan fenomena kehidupan ke dalam karya mode.

Eksplorasi tersebut mencakup pengangkatan kekayaan budaya lokal, isu sosial, prinsip keberlanjutan, hingga respons terhadap perkembangan teknologi masa depan.

“Keberagaman gagasan ini menunjukkan bahwa mode tidak hanya menjadi ekspresi estetika, tetapi juga medium untuk menyampaikan cerita, identitas, dan pesan yang relevan dengan kehidupan masa kini,” Grace menambahkan.

Salah satu siswa mengeksplorasi Rumah Bolon, rumah adat tradisional dari suku Batak di Sumatera Utara yang menjadi simbol identitas dan kebanggaan budaya masyarakat setempat.

Evolusia 2026 menampilkan koleksi tugas akhir desainer muda Program Diploma III Seni Rupa & Desain (Fashion Design), Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif (FHIK), Universitas Kristen Maranatha (dok. Hidupgaya)

Sebagai bentuk apresiasi terhadap pencapaian dan kontribusi mahasiswa selama proses pendidikan, Evolusia 2026 memberikan tiga penghargaan khusus, yaitu Best Final Project kepada Cindy William Liem, Best All Around Performance kepada Vinca Natamaria Kosasih, dan Best Presentation & Portfolio kepada Qory Adzania Destianty.

Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk pengakuan atas kualitas karya, performa akademik dan kreatif, serta pencapaian portofolio mahasiswa selama menempuh pendidikan di Program Diploma III Seni Rupa & Desain.

Peran AI dalam mendukung proses kreatif

Tak dimungkiri, kehadiran teknologi AI (kecerdasan buatan) cenderung menyeragamkan referensi visual dan tren, termasuk gaya fashion designer, sehingga tantangan utamanya adalah memunculkan karakteristik individu dari setiap mahasiswa.

“Perkembangan teknologi, kita nggak bisa tutup mata, justru kita harus berdampingan dengan teknologi yang seperti itu,” cetus Grace.

Generasi Z sudah sangat akrab dengan teknologi, sehingga dosen berperan untuk membimbing dan mengarahkan mereka tanpa memaksakan cara pandang generasi yang lebih tua.

Evolusia 2026 menampilkan koleksi tugas akhir desainer muda Program Diploma III Seni Rupa & Desain (Fashion Design), Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif (FHIK), Universitas Kristen Maranatha (dok. Hidupgaya)

Selain, penting bagi mahasiswa untuk melakukan riset akademis dan menyebutkan sumber data. Riset berasal dari jurnal, buku, bukan dari Pinterest atau Instagram. Hal itu menjadi kunci utama untuk mempertanggungjawabkan karya secara akademis. “Jadi, sumber data itu salah satu kuncian kita,” ujarnya.

Grace menegaskan, setiap penggunaan gambar atau konsep harus dilampirkan sumbernya dengan jelas untuk menghindari masalah hak cipta.

Meskipun konsep karya dari mahasiswa bisa berulang dari tahun ke tahun, dosen pembimbing membantu mengolah gagasan tersebut agar tetap relevan dengan kebutuhan tren pasar saat ini.

“Sumber inspirasi bisa sama, tapi bagaimana kemampuan kita dalam mengolahnya. Lalu ada trend market yang bergerak. Jadi kita arahkan dengan kebutuhan saat ini agar tetap relevan dengan tren pasar,” pungkasnya. (HG)