Hidupgaya.co – Tidak semua orang memiliki waktu atau akses yang mudah untuk rutin mengunjungi dokter gigi dengan berbagai alasan, mulai dari jarak jauh, biaya, atau alasan lain. Padahal, idealnya, kunjungan ke dokter gigi dilakukan setiap 6 bulan sekali untuk pemeriksaan (check-up), bukan hanya saat gigi bermasalah atau sakit.

“Konsultasi rutin membantu memastikan apakah rutinitas harian, cara menyikat gigi, dan produk yang digunakan sudah tepat dan sesuai dengan kondisi mulut,” tutur drg. Zahrah Almira Cita Utami (drg. Rara) dalam temu media yang dihelat USmile di Jakarta, baru-baru.

Dokter yang punya julukan ‘Malaikat Pencabut Gigi’ di media sosial ini menekankan filosofi lebih baik mencegah daripada mengobati. Hal yang sama berlaku untuk kesehatan gigi. “Rutinitas pencegahan paling utama adalah menyikat gigi secara teratur. Cukup investasikan waktu minimal 4 menit dalam sehari untuk menyikat gigi agar masalah seperti gigi berlubang atau gusi bermasalah dapat ditekan,” ujarnya.

“Jadi ke dokter gigi ini sebenarnya kita nggak harus langsung perawatan. Kita say hello aja sama dokternya. Dok, coba dong lihat apakah rutinitas aku sehari-hari sudah bagus nih, sudah oke nih? Apakah cara sikat gigi aku sudah benar? Apakah produk yang aku gunakan sudah cocok dengan masalah atau kondisi mulut aku? Seperti itu,” imbuh drg. Rara.

Dalam pemilihan pasta gigi, menurut drg. Rara, tidak boleh sembarangan. Penting untuk memahami kebutuhan gigi, dan hal ini bisa berbeda setiap individu. “Soal pemilihan pasta gigi, pastikan kita tahu kebutuhan kita apa. Contoh, untuk gigi rapuh kita pilih produk yang memang ada fluoride-nya, ada mineral yang untuk bantu remineralisasi gigi,” ujarnya.

drg. Zahrah Almira Cita Utami (drg. Rara) – dok. Hidupgaya

Kemudian, untuk gigi sensitif, pilih pasta gigi yang mengakomodasi kebutuhan ini. “Makanya ke dokter gigi sebenarnya penting buat juga buat evaluasi, sudah tepat belum produk yang kita pakai, sudah benar belum cara pakainya, seperti itu,” ungkap drg. Rara.

Untuk membantu menguatkan gigi, selain memilih pasta gigi mengandung fluoride, pastikan juga mengonsumsi makanan sumber bahan itu, misalnya sayuran dan seafood.

Dia menambahkan, untuk penggunaan pasta gigi ber-fluoride, cukup gunakan sebesar ukuran biji kacang dan pastikan busanya dibuang setelah selesai menyikat gigi. “Gunakan pasta gigi sebesar biji kacang. Nggak perlu banyak-banyak, dan fluoride-nya juga nggak akan tertelan, karena setelah jadi busa, busanya kita buang, fluoride-nya meresep ke gigi,” bebernya.

drg. Zahrah Almira Cita Utami (drg. Rara) dan Raditya Dika, Duta USmile (dok. Hidupgaya)

Banyak orang mendambakan gigi putih, namun harus berhati-hati dalam memilih karena beberapa pasta gigi pemutih bersifat abrasif, alias berpotensi mengikis permukaan gigi. “Pasta gigi yang terlalu abrasif dapat mengikis lapisan email, membuat gigi menjadi tipis dan sensitif,” terangnya.

Tak dimungkiri, pasta gigi pemutih ini paling digandrungi sama semua orang karena pemahaman bahwa gigi putih sudah pasti sehat. Benarkah demikian?

“Ya, sebenarnya nggak salah. Tapi karena kebelet pengin putih, bisa salah pilih pasta gigi. Jadi malah pilih pasta gigi yang memang benar-benar abrasif. Abrasif itu apa? Bisa mengikis permukaan gigi. Banyak pasta gigi yang memang klaimnya memutihkan gigi secara instan, putih langsung, karena lapisan giginya langsung dikikis, menyebabkan gigi menjadi tipis dan sensitif.” drg. Rara mengingatkan.

Untuk itu, konsumen diminta berhati-hati dalam memilih pasta gigi. “Pastikan kandungan di dalam pasta gigi pemutih itu aman. Saat ini sudah ada inovasi bahan pemutih yang lebih aman tanpa harus menggunakan bahan yang terlalu abrasif, salah satunya adalah kandungan HAP (Hydroxyapatite) yang dapat mencerahkan sekaligus mengangkat noda tanpa merusak permukaan gigi,” ujarnya.

Menurut drg. rara, salah satu contoh pasta gigi yang merusak permukaan gigi itu lama-lama kilau giginya menghilang. “Ketika kita sikat gigi memang jadi putih sih, tapi kok giginya jadi nggak berkilau. Itu artinya lapisan permukaan giginya hilang,” cetusnya.

Terkait pemakaian sikat gigi, baik manual atau elektrik, drg. Rara mengingatkan agar dilakukan dengan benar.

“Untuk menyikat gigi, mau pakai sikat gigi apapun, manual atau elektrik, harus selalu mulai dengan sudut 45 derajat menghadap gusi. Maksudnya atas sama bawah nggak digabung, karena menyikat gigi bagian atas dan menyikat gigi bagian bawah itu arahnya berbeda. Kalau yang atas, kita ke bawah. Kalau yang bawah, kita ke atas. Tidak dibolak-balik karena hal tersebut akan menyebabkan gusi kita menjadi rusak, gigi juga bisa jadi terkikis,” urainya.

Usai menyikat gigi, akhiri dengan menyikat lidah, bila dilakukan secara rutin sangat bermanfaat untuk menjaga kebersihan rongga mulut, mencegah masalah kesehatan gigi serta gusi.

Menyikat lidah membantu mengangkat tumpukan kuman, jamur, dan sel kulit mati yang bersembunyi di celah-celah papila lidah. Selain itu, juga encegah dan mengatasi bau mulut dengan cara menghilangkan komponen sulfur yang diproduksi oleh bakteri, sehingga membuat napas terasa lebih segar. (HG)