Hidupgaya.co – Memasuki usia kepala 4, Dion Wiyoko kian peduli dengan gaya hidup sehat dan menginspirasi keluarga untuk ikut menjalani aktivitas fisik.
“Masuk usia 42 tahun makin peduli dengan gaya hidup sehat. Kalau dulu saat muda olahraga demi penampilan, saat sudah punya anak beda lagi. Menjalani gaya hidup sehat agar bisa tetap bugar di usia nanti, bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluarga,” ujar Dion di sela diskusi media “World Heart Day 2026: Keep On with Healthy Habits, Live On with Purpose” yang dihelat Omron Healthcare Indonesia di Jakarta, Jumat (11/9).
Dion rutin melakukan olahraga, mulai dari gym, tenis hingga olahraga menantang seperti Hyrox. Selain rutin melakukan aktivitas fisik, pemain film ini juga membiasakan tidur paling telat jam 10 malam sehingga bisa bangun pagi untuk olahraga sebelum aktivitas kerja. “Bangun bisa jam 5.30, lanjut olahraga seperti gym atau tenis, baru lanjut kerja,” ujarnya.
Dia mengaku kebiasaan olahraga yang dia bangun itu juga menular ke istrinya, dari yang dulu malas olahraga jadi ikut bergerak.

Hal lain yang rutin dia lakukan adalah melakukan cek tekanan darah dan Elektrokardiogram (EKG) untuk mengecek kesehatan jantungnya. Kebiasaan itu dilakukan Dion setelah dia mengetahui jantungnya ada sedikit kebocoran.
“Setelah Hyrox, ketahuan bahwa memang katup jantung aku ada bocor halus,” ujarnya.
“Kalau ditanyain seberapa rutin, bisa dibilang mungkin sebulan atau dua bulan sekali ngecek tekanan darah dan jantung,” tandasnya.
Mewaspadai hipertensi dan risikonya
Hipertensi kerap luput dari perhatian, karena kerap tidak menimbulkan gejala. Padahal tekanan darah tinggi tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi, termasuk penyakit jantung dan stroke.
Menurut dr. Decsa Medika Hertanto, Sp.PD-KGH, FINASIM, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi, hipertensi bukan hanya persoalan tekanan darah yang tinggi, tetapi juga merupakan salah satu faktor risiko penting dalam berbagai kondisi kardiovaskular, di antaranya atrial fibrillation (AFib), gangguan irama jantung.
“Hipertensi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memberikan beban pada jantung dan pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko terjadinya gangguan irama seperti AFib,” bebernya.
Detak jantung yang tidak teratur dapat menyebabkan aliran darah di dalam jantung tidak optimal dan meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah. Apabila bekuan tersebut terbawa ke otak, dapat terjadi stroke.
Hubungan antara hipertensi, AFib, dan risiko stroke juga terlihat dalam studi Framingham oleh Wolf et al. (1991). Studi terhadap 5.070 peserta menunjukkan bahwa hipertensi meningkatkan risiko stroke lebih dari tiga kali lipat, sementara AFib dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke hampir lima kali lipat.
Temuan ini menegaskan pentingnya mengenali dan memantau faktor risiko kardiovaskular. Pengendalian tekanan darah dan pemahaman terhadap kondisi irama jantung menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kardiovaskular dan mengurangi risiko komplikasi.
Lebih lanjut dr. Decsa menyampaikan, tekanan darah yang terlampau tinggi berdampak pada tiga organ vital yang menjadi target organ damage yaitu otak, jantung dan ginjal.
Pencegahan hipertensi dapat dilakukan dengan mengelola pola makan (hindari makanan asin dan manis), kelola stres, tidur cukup dan aktivitas fisik secara teratur.
Pantau irama jantung mandiri
Sebagai bagian dari kampanye ‘Keep On, Life On’ Omron merilis teknologi ECG (elektrokardiogram/EKG) yang dapat membantu masyarakat memantau irama jantung dan mengenali kemungkinan gangguan irama, termasuk AFib.
Berbeda dengan pemeriksaan irama jantung yang umumnya dilakukan di fasilitas kesehatan, solusi ECG portabel ini memungkinkan pemantauan ECG di rumah, sehingga masyarakat dapat merekam irama jantung saat gejala muncul.
“Hal ini dapat membantu dalam mengenali AFib paroksismal yang dapat muncul dan menghilang secara berkala, sehingga kesadaran dan pengelolaan risiko stroke dapat dilakukan lebih dini,” terang Fanny Himawan, Marketing Manager Omron Healthcare Indonesia.
Hasil rekaman ECG yang diperoleh melalui perangkat ECG portabel Omron juga dapat memberikan informasi yang berharga bagi tenaga kesehatan, sehingga dokter dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi jantung pasien di luar pemeriksaan yang dilakukan di fasilitas kesehatan.

Dua perangkat yang diperkenalkan adalah Omron Portable 1-Lead ECG Heart Rate Monitor HCG-8011B, yang menawarkan perekaman ECG Satu Lead secara cepat dan praktis, serta Omron Portable 6-Lead ECG Heart Rate Monitor HCG-8060T, EKG Enam Lead yang merekam sadapan untuk memberikan gambaran aktivitas listrik jantung yang lebih luas.
Keduanya dirancang untuk mendukung pemantauan jantung secara lebih praktis dalam keseharian.
Fanny menekankan, hasil ECG yang menunjukkan kemungkinan AFib bukan merupakan diagnosis dan tetap perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan.
“Pemantauan di rumah dapat menjadi informasi tambahan yang membantu seseorang memahami kondisi yang perlu diperhatikan dan menentukan kapan perlu berkonsultasi lebih lanjut,” tuturnya.
Untuk mendukung pemantauan tekanan darah di rumah, masyarakat juga disarankan menggunakan alat pengukur tekanan darah yang akurat dan telah tervalidasi secara klinis, serta melakukan pengukuran secara rutin sesuai petunjuk penggunaan.
Dengan membangun kebiasaan pemantauan, perubahan pada tekanan darah maupun irama jantung dapat lebih mudah diperhatikan dan dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan bila diperlukan. (HG)