Hidupgaya.co – Penuaan (aging) merupakan proses alami yang berjalan seiring dengan pertambahan usia. Karenanya, penuaan tak bisa dihentikan namun bisa diupayakan agar prosesnya berjalan lambat.

“Yang namanya aging itu nggak bisa dihentikan. Seseorang itu pasti akan menua. Usaha-usaha sebetulnya yang kita bilang sebagai anti-aging itu bagaimana kita memperlambat proses penuaan, yang tadinya berjalan terlalu cepat, bagaimana kita normalkan kembali,” ujar dr. Reeza Edward Yuwantana, Sp.DVE dalam diskusi media merayakan usia 19 tahun Evitderma Clinic Hang Lekir di Jakarta, Rabu (19/8).

“Jadi seperti meremajakan kulit kembali. Itu bukan membalikkan kulit dari yang sudah tua jadi muda kembali. Bukan seperti itu. Cuma kita memelihara agar tidak menua terlalu cepat atau istilahnya premature aging,” imbuh dr. Reeza.

Dia mengungkap, ada sejumlah faktor yang menyebabkan penuaan terlalu cepat, dan hal itu tidak sama pada setiap orang. “Tipikal penuaan kulit beda-beda. Ada yang kulitnya mulai mengendur, namun ada juga yang lebih terlihat keriput,” terang Dokter Spesialis Kulit yang berpraktik di Evitderma Clinic Jakarta.

dr. Reeza Edward Y, Sp.DVE menjelaskan tentang perawatan untuk memperlambat laju penuaan (dok. Hidupgaya)

Lebih lanjut dr. Reeza menyoroti, penyebab utama penuaan adalah paparan sinar UV. Tak dimungkiri, Indonesia berada di wilayah tropis yang curahan sinar matahari hampir sepanjang tahun. “Sekitar 70% faktor yang mempercepat penuaan itu dari radiasi sinar UV. Semua radiasi bisa merusak kulit, termasuk visible light. Untuk menangkalnya harus pakai sunscreen,” terangnya.

Faktor berikutnya yang berkontribusi mempercepat penuaan kulit adalah polusi. “Di Jakarta, tingkat polusi cukup tinggi. Ini juga berpengaruh pada proses penuaan yang dipercepat,” ulasnya.

Selain itu, kebiasaan harian, dari bangun sampai tidur. “Apa yang kita makan, nutrisi, itu akan berpengaruh ke hormon dan sel imun. Kalau sel imun terganggu, ini bisa membuat penuaan berjalan lebih cepat,” sebut dr. Reeza.

Pada kasus seperti itu, untuk ‘mengerem’ laju penuaan agar tak terlampau cepat, bisa dibantu dengan intervensi dari luar. “Bisa pakai laser, pakai krim, mau pakai skin booster, bisa dilakukan. Semua teknologi itu bersama-sama memperbaiki dari dalam, memperbaiki bagaimana sel itu meregenerasi, memulihkan dirinya sendiri agar proses penuaan yang terlalu cepat tadi bisa lebih lambat,” urainya.

Lebih lanjut dr. Reeza mengungkap, terkait terapi cellbooster untuk perawatan kecantikan, jenisnya macam-macam. Selama ini ia menggunakan Cellbooster dari Swiss, generasi terbaru skin booster dengan CHAC Technology, teknologi berpaten yang membantu menyeimbangkan bahan aktif sehingga dapat bertahan lebih lama di dalam kulit.

Setelah diinjeksi, bahan aktif dilepaskan secara perlahan dan bertahap, membantu proses regenerasi sel kulit dan memberikan efek yang lebih tahan lama. “Pasien menyukai terapi ini karena hasilnya cepat terlihat dan downtime minimal. Usai perawatan, pasien bisa kembali beraktivitas,” terang dr. Reeza.

Cellbooster punya tiga varian dengan fungsi yang berbeda. Shape membantu menangani penumpukan lemak, double chin, selulit, kulit kendur, dan kantung mata. Lift membantu melembabkan dan meningkatkan elastisitas kulit, serta menyamarkan kemerahan, bekas jerawat, stretch mark, garis halus, dan kerutan.

Adapun Glow membantu melembabkan kulit, menangani hiperpigmentasi, warna kulit tidak merata, kulit kusam, serta membantu mencegah penuaan dini. “Ketiga varian ini bisa menjawab masalah kulit yang berbeda yang dihadapi setiap pasien,” ulasnya.

Skin lifting tanpa bedah

Di sela diskusi media, dr. Reeza juga mengulas Oligio X, teknologi terkini untuk skin lifting dan mengencangkan kulit. Oligio X merupakan perangkat medis estetika generasi terbaru dari Korea Selatan yang menggunakan teknologi Monopolar Radio Frequency (RF) 6,78 MHz.

“Teknologi ini mengantarkan energi panas secara terkontrol ke jaringan kulit untuk membantu menstimulasi proses collagen remodeling dan neocollagenesis, yaitu pembentukan kolagen baru,” terangnya.

Sebagai pengembangan dari generasi sebelumnya, Oligio X hadir dengan sejumlah peningkatan teknologi, salah satunya G/X Dual Mode yang memungkinkan penggunaan mode energi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan terapi pasien.

Selain itu, Oligio X dilengkapi dengan 11-Point Cooling System serta peningkatan sistem contact gas cooling hingga 2,25 kali lebih kuat dibandingkan generasi sebelumnya.

“Sistem pendinginan ini dikembangkan untuk membantu menjaga kenyamanan kulit selama proses treatment. Jadi tidak ada lagi istilah beauty is pain. Cantik tidak lagi menyakitkan,” cetus dr. Reeza.

Selain membantu skin lifting & tightening, teknologi Oligio X dapat digunakan untuk membantu menangani berbagai masalah kulit, di antaranya membantu menyamarkan tampilan garis halus dan kerutan, mengurangi tampilan pori, serta membantu membuat kulit tampak lebih cerah dan segar.

Dia mengingatkan bahwa perawatan setelah tindakan di klinik juga turut menentukan keberhasilan terapi. “Aftercare itu sama pentingnya dengan tindakan. Habis treatment harus jaga kebersihan. Di Evitderma setelah tindakan, pasien diberikan arahan dan paham apa yang harus dilakukan, apa yang boleh dan tidak boleh. Misalnya, pasca tindakan jangan pakai makeup yang terlalu tebal. Maksudnya kenapa? Karena habis kena jarum, kulit harus pulih dulu setidaknya dalam dua hari ke depan,” tutur dr. Reeza.

Selain itu, pemakaian krim yang ada efek pengelupasan untuk sementara dihindari dulu. “Kalau ke luar rumah usahakan pakai masker, untuk menangkal polusi,” tandasnya.

Kesempatan sama, Miranda Suwanto telah menjadi pelanggan setia Evitderma Clinic, berbagi pengalaman menjalani perawatan kecantikan sat set di sela aktivitas padat. “Di Evitderma kita hanya disarankan treatment sesuai kebutuhan, dan teknologinya itu maju banget. Yang di luar negeri baru rilis, nggak lama di Evitderma sudah tersedia,” ujarnya.

Kiri ke kanan: dr. Reeza Edward Y, Sp.DVE, Miranda Suwanto, dr. Dwindi Saptania, M.Biomed (AAM)

Sebagai sosok perempuan sibuk dengan waktu terbatas, Miranda selalu mendiskusikan perawatan dengan ahlinya. “Kalau waktunya terbatas, saya akan cari perawatan yang memang cocok dengan yang saya butuhkan. Nggak butuh downtime, langsung bisa aktivitas atau jemput anak,” beber Miranda yang telah mencoba perawatan Oligio X dan puas dengan hasilnya.

Evitderma Clinic merupakan klinik estetika medis dan anti-aging tanpa bedah berstandar internasional. Beroperasi pada 2007, klinik yang berpusat di Jakarta didirikan oleh dokter spesialis dermatologi yang kemudian berkembang menjadi klinik pelayanan terapi laser, estetika dan antiaging.

Keunggulan Evitderma Clinic terletak pada penggunaan teknologi orisinal mutakhir seperti terapi laser dan pengencangan kulit, serta formulasi berbasis vitamin yang mencegah ketergantungan jangka panjang.

“Kehadiran Oligio X dan Cellbooster menjadi bagian dari komitmen Evitderma Clinic untuk menghadirkan teknologi estetika yang semakin advanced, sekaligus memberikan pengalaman perawatan yang lebih nyaman bagi pasien,” tandas dr. Dwindi Saptania, M.Biomed (AAM), Direktur Medis Evitderma Clinic. (HG)