Hidupgaya.co – Seiring berkembangnya gaya hidup sehat, cara masyarakat memahami kesehatan kulit pun ikut berkembang. Jika sebelumnya perawatan kulit banyak berfokus pada mengatasi masalah yang sudah muncul, kini perhatian mulai bergeser pada bagaimana menjaga kulit tetap sehat, berfungsi dengan baik, dan memiliki kualitas yang optimal dalam jangka panjang.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa kesehatan dan proses penuaan kulit tidak hanya dipengaruhi faktor intrinsik, tetapi juga berkaitan dengan berbagai faktor gaya hidup seperti pola makan, kesehatan sistem pencernaan, aktivitas fisik, kualitas tidur, stres, serta paparan UV dan polusi.
Tasya Farasya, beauthy enthusiast serta pembuat konten kecantikan di media sosial, merasakan sendiri bagaimana cara orang merawat kulit telah berubah sejak ia pertama kali memulai karier.
Kini kebanyakan orang tidak lagi menunggu masalah kulit muncul, melainkan memilih skincare berdasarkan kebutuhan kulitnya dan konsisten memakainya untuk pencegahan.
“Merawat kulit sekarang sangat jauh berbeda dibanding waktu aku awal memulai karier dulu. Kayaknya kalau dulu tuh cuma fokus pada saat udah terjadi masalah, dan ingin menyelesaikan masalah itu. Tapi kalau sekarang banyak yang udah aware dan ingin mencegah agar tidak terjadi masalah kulit,” terang Tasya dalam diskusi kesehatan kulit Wardah Skin Longevity Clinic yang dihelat di Spac8 Ashta District Jakarta Selatan, Kamis (1/10).
Tasya menyoroti pola konsumen dalam melakukan pendekatan perawatan kulit serta meningkatnya kepedulian dalam perawatan jangka panjang.
“Dalam approach-nya untuk pemilihan skincare di wajah, pencegahan sekarang lebih dicari dibanding kayak ‘telanjur basah kecebur’ masalah. Awareness-nya tuh sekarang udah lebih meningkat, udah gitu juga masyarakat udah lebih mengerti tipe kulitnya. Tipe kulit aku seperti ini berarti kebutuhannya skincare-nya apa, ingredients apa yang aku butuhkan,” bebernya.

Dalam memilih produk perawatan kulit, Tasya mendorong masyarakat tidak asal ikut-ikutan tren. “Aku nggak mau ikut-ikutan tren atau FOMO (fear of missing out). Aku pilih skincare yang memang kulitku butuhkan, karena ingredients-nya jelas dan bisa dipakai rutin setiap hari. Tapi skincare saja nggak cukup. Pola tidur dan olahraga juga ikut menentukan kesehatan kulit dalam jangka panjang,” terang Tasya.
Selaras dengan tren terkini, Wardah hadir dengan immersive brand experience holistik, tidak hanya berbicara mengenai kulit namun menganalisis lebih dalam terkait gaya hidup konsumen melalui Wardah Skin Longevity Clinic. Berlangsung di Spac8 Ashta selama 29 September hingga 6 Oktober 2026, ajang ini menjadi ruang untuk bisa menjawab kebutuhan dan perubahan konsumen tersebut.
Menurut dr. Sari Chairunnisa, Sp.D.V.E., Deputy CEO ParagonCorp, di tengah banyaknya informasi di sosial media tentang skincare dan gaya hidup seperti nutrisi, olahraga dan kualitas tidur, konsumen kerap menerima berbagai rekomendasi secara terpisah.
“Melalui Wardah Skin Longevity Clinic, berbagai aspek tersebut dipertemukan dalam satu pengalaman yang didukung oleh para ahli untuk membantu konsumen memahami kondisi kulit dan menerjemahkannya menjadi langkah yang lebih personal dan berdampak jangka panjang,” tuturnya.
Dalam pengantarnya, dr. Sari mengajak masyarakat melihat perawatan kulit sebagai bagian dari merawat diri dalam jangka panjang. “Pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan ketika kulit bermasalah tetap penting, namun menjaga kulit yang masih sehat, melindungi fungsi yang masih baik, dan mempertahankannya lebih lama merupakan hal yang lebih harus kita perhatikan,” imbuhnya.
Move, Eat, Rest
Melalui pendekatan skin exposome science, Wardah menerjemahkan hubungan antara gaya hidup dan kondisi kulit ke dalam tiga pilar utama: Move, Eat, Rest. Pola tidur, stres, nutrisi, aktivitas fisik, serta paparan UV dan lingkungan menjadi bagian dari konteks kesehatan tubuh dan kulit.
Move, mencakup aktivitas fisik yang teratur merupakan bagian dari kesehatan tubuh secara menyeluruh, termasuk sirkulasi dan kesehatan metabolik. Pilar ini mengajak pengunjung melihat olahraga sebagai ritual jangka panjang, bukan sekadar target kebugaran.
Eat, nutrisi menjadi bagian dari kesehatan sistemik. Pilar ini memperkenalkan hubungan antara pola makan, kesehatan pencernaan, dan kondisi kulit melalui pendekatan keilmuan gut–skin axis (poros kulit-usus).
Rest, mencakup tidur, pemulihan, dan pengelolaan stres. Pilar ini membahas bagaimana kurang tidur dan stres kronis berkaitan dengan kulit yang tampak kusam dan lebih reaktif, melalui konsep irama sirkadian dan brain–skin axis (sumbu otak-kulit).

Kesempatan sama, Novia Sukmawaty, Group Head Marketing Professional & Consumer Experience ParagonCorp, mengakui kian banyak orang memandang kesehatan sebagai investasi jangka panjang, dan cara pandang yang sama kini mulai terlihat dalam cara mereka merawat kulit.
“Kalau kita lihat di gaya hidup sekarang, kita melihat adanya perubahan gaya hidup konsumen. Orang semakin aware dan semakin ingin lebih tahu terkait mengenai kesehatan kulit,” beber Novia.
“Melalui Wardah Skin Longevity Clinic, kami ingin menghadirkan ruang yang aman bagi konsumen untuk mendapatkan pengetahuan baru, berdiskusi, dan berkonsultasi langsung dengan para pakar dari berbagai bidang. “
Wardah Skin Longevity Clinic sengaja dirancang sebagai clinic journey, bukan sekadar pameran atau tempat mencoba produk. “Personalisasi bukan soal memberi lebih banyak data, tetapi membantu konsumen bergerak dari sekadar informasi menuju langkah berikutnya yang lebih jelas untuk dirinya,” jelasnya.
Dari ajang ini diharapkan pemahaman konsumen terkait skin literacy makin tinggi. “Nah dari situ bisa diterapkan untuk di kehidupannya masing-masing dengan lebih baik untuk ke depannya,” Novia menambahkan.
Skin longevity, investasi jangka panjang untuk kulit
Dari sisi dermatologi, dr. Conny Melly Rosdiana, Sp.D.V.E., FINSDV, Ketua Bidang 3 PERDOSKI Cabang Jakarta, menegaskan bahwa merawat kulit bukan hanya soal penampilan atau mencegah penuaan, tetapi juga menjaga fungsi dan struktur kulit itu sendiri.

“Kulit merupakan organ terluas ditubuh kita dan memiliki banyak fungsi vital, mulai dari proteksi, pengaturan suhu tubuh, pertahanan sistem imun, regenerasi, hingga merespons lingkungan di sekitarnya,” jelasnya.
Menurutnya, menjaga ketahanan kulit dari waktu ke waktu tidak cukup hanya dengan mengobati ketika masalah sudah muncul. “Untuk kesehatan kulit jangka panjang, kita perlu melakukan pencegahan, perlindungan, dan perawatan rutin sejak dini. Prevention, protection, dan maintenance inilah fondasi dari skin longevity,” ujarnya.
Skin longevity adalah pendekatan jangka panjang untuk menjaga kesehatan, fungsi, kualitas, dan resiliensi kulit agar tetap optimal seiring waktu.
Berbeda dengan pembicaraan anti-aging yang fokus pada tampilan, skin longevity fokus pada bagaimana kulit terus menjalankan fungsinya dengan baik, mulai dari menjaga sawar kulit, melindungi diri dari paparan lingkungan, hingga beregenerasi secara optimal.
“Analoginya seperti battery health pada ponsel: yang dijaga bukan hanya tampilan perangkat, melainkan performanya dalam jangka panjang,” tandas dr. Conny. (HG)