Hidupgaya.co – Tora Sudiro mengaku cukup waa-was saat anak bungsunya yang menapak usia remaja beraktivitas di luar rumah, khususnya bepergian sendiri dengan transportasi umum.

Di sisi lain, Tora tak ingin membatasi ruang gerak Jenaka Mahila Sudiro (14). Di usia remaja, putri bungsunya itu mulai banyak kegiatan di luar rumah.

Sebagai orang tua yang juga sibuk, Tora dan Mieke Amalia tak selalu bisa mengantar yang tidak bisa selalu mengantar sang buah hati.

Menurut Tora, kekhawatiran utama yang selalu muncul adalah soal keselamatan Jenaka selama di perjalanan.

Sebagai ayah, ia ingin memastikan sang putri sampai tujuan dengan aman, sekaligus mengajarkan kemandirian anak.

Pritta Tyas, psikolog, dan Tora Sudiro di acara diskusi media sekaligus peluncuran GrabKeluarga Fitur Remaja di Jakarta, Selasa (30/6) – dok. Hidupgaya.co

“Kami inginnya dia sampai dengan aman dan memonitor dia. Nggak mungkin kita telepon terus-menerus. Yang paling penting termonitor,” cetus Tora di acara diskusi media sekaligus peluncuran GrabKeluarga Fitur Remaja di Jakarta, Selasa (30/6).

Bagi Tora, memberikan kepercayaan kepada putri bungsunya yang beranjak remaja untuk mulai bepergian sendiri merupakan proses yang membutuhkan keseimbangan antara memberi kebebasan dan memastikan keamanannya.

Kekhawatiran Tora lazim dialami orang tua yang memiliki anak beranjak remaja. Psikolog keluarga Pritta Tyas menyampaikan orang tua tetap perlu mendampingi proses anak belajar mandiri sesuai usia dan tingkat kesiapan mereka.

Keinginan untuk terus melindungi anak sebenarnya bukan hanya muncul karena rasa khawatir, tetapi juga karena naluri merawat yang sudah terbentuk sejak anak kecil.

“Memberikan kepercayaan secara bertahap menjadi langkah penting agar anak bisa tumbuh percaya diri dan mandiri,” cetus Pritta.

Dia mengingatkan apabila orang tua hendak mengenalkan kemandirian ke anak di usia 13-18 tahun, harus dipahami apakah orang tua tipe pencemas atau bukan.

Pritta lebih lanjut mengungkap, setiap orang tua memiliki respons yang berbeda ketika anak mulai memasuki fase remaja dan meminta lebih banyak kebebasan.

“Ada orang tua yang merasa semakin tenang ketika anak mulai mandiri, tetapi ada pula yang tingkat kecemasannya tinggi sehingga terus membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang dapat terjadi,” cetusnya.

Terkait anak bepergian mandiri tanpa kendaraan pribadi,  ada hal menarik. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mengungkap, sekira 63 persen anak usia 13-18 tahun masih berangkat ke sekolah menggunakan kendaraan pribadi atau diantar oleh orang tua.

Data yang sama menyebut hanya 7,7 persen yang menggunakan transportasi umum secara mandiri, termasuk taksi online atau layanan ride-hailing.

Data ini menunjukkan bahwa perjalanan mandiri bagi remaja belum sepenuhnya menjadi kebiasaan, sehingga diperlukan proses bertahap untuk membangun kesiapan anak sekaligus kepercayaan orang tua.

Menjawab tantangan itu, GrabKeluarga Fitur Remaja, layanan yang dirancang untuk mendukung mobilitas remaja berusia 13-18 tahun hadir agar dapat bepergian secara lebih mandiri, sekaligus memungkinkan orang tua tetap memberikan pendampingan melalui fitur pemantauan digital. 

“GrabKeluarga Fitur Remaja membantu orang tua dalam memberi ruang bagi anak untuk belajar bepergian mandiri, dengan tetap menghadirkan lapisan keamanan, pemantauan, dan komunikasi yang membuat orang tua lebih tenang,” tutur Asep Haekal, Head of Strategy, Integrated Marketing Communication, Transport, OVO & Bank, Grab Indonesia.

Melalui fitur keamanan dan pemantauan yang terintegrasi, orang tua dapat mengikuti perjalanan anak, tetap terhubung selama perjalanan, dan memperoleh rasa tenang tanpa harus selalu mendampingi secara langsung. (HG)