Hidupgaya.co – Masih banyak pemilik merek yang belum menyadari bahwa karya tetap butuh cerita dan komunikasi yang kuat agar tidak hanya jago kandang atau ‘merasa besar’ tanpa tolok ukur yang jelas.
Bukan sekadar karya seni semata, sebuah merek juga harus ‘naik kelas’ jika ingin bertahan lama dan tidak lantas hilang karena pergantian sosok penting di baliknya.
Jenama global yang bertahan hingga puluhan tahun diketahui memperlakukan merek sebagai bisnis, bukan semata karya seni. “Dengan pendekatan itu, posisi creative director dapat berganti tanpa menghentikan keberlangsungan merek,” ujar Thresia Mareta, pendiri Lakon Indonesia, serta penasihat JF3 di acara diskusi ‘JF3 Talk Recrafted: Shaping The Future’ di Summarecon Discovery, La Piazza, Kelapa Gading Jakarta, baru-baru ini.
Sebaliknya, ketika sebuah brand terlalu melekat pada nama pribadi desainer dan diperlakukan hanya sebagai ekspresi kreatif, keberlanjutannya menjadi lebih sulit dipertahankan.
Thresia menyebut merek memiliki peluang untuk tumbuh lebih panjang ketika dibangun sebagai bisnis yang kuat dengan produk yang relevan dan berkualitas.
Untuk itu, dibutuhkan platform kredibel, juga ruang untuk saling berbagi ilmu dan tumbuh bersama. Thresia mengungkap bahwa JF3 bukan hanya platform untuk tampil saja, tapi sebagai wadah untuk saling mengisi, berbagi ilmu, supaya semua bisa tumbuh bersama. “Eksekusi tidak bisa dilakukan oleh JF3 saja, tapi harus oleh semua pelaku juga,” cetusnya.

Hal yang menarik yang disoroti Thresia adalah terkait koneksi antar elemen ekosistem belum benar-benar terjalin dengan baik di kalangan pelaku fesyen Tanah Air.
“Ada media, ada pelakunya, tapi apakah si pelaku mengerti media? Apakah medianya benar-benar mengerti si pelaku? Media sering bingung apa yang mau ditulis karena pelakunya pun belum mengerti apa yang menarik buat mata jurnalis,” ujarnya.
Dia mengakui media online kini tumbuh subur, namun itu juga menjadi tantangan apakah bisa menjadi wahana komunikasi yang kredibel. “Media online memang banyak banget, tapi tidak semuanya kompeten, yang ramai belum tentu yang pantas dibaca,” bebernya.
Thresia menekankan, karya fesyen yang kuat tetap membutuhkan cerita yang kuat agar bisa dipahami, dipercaya, lalu berkembang.
Untuk mendorong para desainer agar lebih memacu diri, sebut Thresia, JF3 Fashion Show mensyaratkan koleksi yang ditampilkan minimal 20 look. “Itu bukan tanpa alasan, brand perlu di-challenge agar terdorong membangun kapasitas, konsistensi, dan identitas yang lebih kuat,” ujarnya.
Pendiri program PINTU itu menambahkan bahwa jenama yang mampu hadir secara konsisten dari tahun ke tahun akan memiliki karakter dan positioning yang berkembang secara alami, berbeda dengan brand yang hanya memproduksi koleksi dalam skala terbatas.
Harus diakui, dorongan untuk buat koleksi ready-to-wear juga merupakan tantangan tersendiri. Berbeda dengan produksi untuk bazar atau pesanan terbatas, koleksi ready-to-wear menuntut koleksi yang lebih lengkap, identitas brand yang jelas, serta kemampuan menjaga konsistensi.
“Faktor-faktor inilah yang pada akhirnya akan menjadi pembeda dalam pertumbuhan jangka panjang,” ujarnya.
Lebih lanjut Thresia menyampaikan, JF3 telah menyiapkan program dan sistem untuk mendorong pertumbuhan merek Indonesia, di antaranya Fashion Village & CODE.STRT, sebagai wadah test market langsung bagi brand untuk memahami perilaku konsumen nyata di lapangan.
Selanjutnya International Collaboration: JF3 menghadirkan desainer dari Korea Selatan sebagai bagian dari kolaborasi dua arah, mereka datang ke Indonesia, dan JF3 diundang hadir di Korea.
Program berikutnya Future Fashion Designer (sebelumnya Future Fashion Award), kini lebih terfokus pada eksekusi nyata, peserta ditantang untuk langsung mengeksekusi desain, pola, dan produksi, bukan sekadar konsep di atas kertas.
Adapun program PINTU ke Paris Trade Show dibentuk untuk membuka peluang bagi desainer Indonesia untuk tampil dan terekspos di panggung internasional. Tak ketinggalan, JF3 Model Search, cara untuk mendukung tidak hanya desainer, tetapi juga model.
Bukan hanya desain, desainer perlu paham fashion styling
Kesempatan sama, Ronal Holoang, pengajar ISWI Fashion Academy menyoroti konsistensi JF3 dari tahun ke tahun termasuk penambahan lomba fashion styling.
Itu poin penting mengingat masih banyak desainer Indonesia yang hanya fokus membuat baju tapi tidak mengerti styling. “Padahal styling adalah ujung tombak dalam menjual gaya,” bebernya.
Dia mengaku pernah hadir di show jenama ternama, namun hasilnya mengecewakan. “Konsepnya kurang matang, tidak ada styling, model pakai sandal seadanya, rambut tidak ditata,” cetus Ronal.
Dia memilih untuk tidak mengunggah materi itu ke media sosial karena mengaku dilematis, antara kejujuran jurnalistik dan dampaknya ke bisnis yang menghidupi banyak orang.

Ronal mendorong para calon desainer untuk tahu tujuannya sejak awal. “Goal-nya harusnya jelas sejak masuk sekolah fesyen, ingin membangun brand sebesar apa? Ambisi itu yang perlu ditanamkan dari awal,” cetusnya.
Identitas desainer menjadi narasi kuat
Hal menarik lain disampaikan desainer Hartono Gan, yang mengakui bahwa Gen Z sangat bagus dalam membuat konsep dan moodboard, tapi sayang eksekusinya sering tidak sejalan.
Menurutnya, narasi yang kuat harus kembali ke identitas desainer itu sendiri karena identitas brand harus berdasarkan cara hidup desainernya.
“Fesyen bukan soal baju. Fashion is the air that we breathe, ia berhubungan dengan apa yang kita makan, dengar, baca, dan ke mana kita pergi. Itulah yang membentuk karakter dan narasi,” ujarnya.
Adrian lantas menyoroti marketing di media sosial. “Di era over-saturated paid promo dan fake endorsement, masyarakat sudah sangat pintar memilah mana yang marketing buatan dan mana yang jujur. Dan satu hal penting: viral tidak sama dengan sales. Menjadi viral itu bonus, tapi tepat sasaran jauh lebih penting. Strateginya pun berbeda,” tandasnya.
Tak kalah penting, berdasar pengalaman sendiri, Adrian mengaku berbincang dengan media menjadi komunikasi efektif agar pesan tersampaikan dengan baik.
“Itu membuktikan bahwa desainer sebenarnya selalu punya material untuk diceritakan, tinggal bagaimana media mengulik dan men-drive arah pembicaraannya,” simpul desainer penyuka kain antik. (HG)