Hidupgaya.co – Kompetisi edukatif yang sesuai usia dan didampingi dengan baik merupakan cara efektif untuk menstimulasi perkembangan kecerdasan anak secara menyeluruh.
“Dari segi akademik, kompetisi dapat mendorong anak berpikir lebih fokus, strategis, kreatif, kritis, sekaligus meningkatkan motivasi intrinsik untuk terus berkembang,” ujar psikolog Saskhya Aulia Prima di sela diskkusi kompetisi DANCOW Indonesia CERDAS Season 2 di Jakarta, baru-baru ini.
Adapun dari segi emosional, kompetisi membantu anak mengenali dan mengelola perasaan, seperti belajar menghadapi rasa gugup, kecewa, maupun rasa percaya diri atas pencapaian.
Sedangkan secara sosial, anak bisa belajar tentang aturan, sportivitas, dan empati, terutama untuk kompetisi berbasis tim. “Ikut kompetisi berbasis tim membuat anak lebih memahami bahwa keberhasilan tidak hanya bergantung pada diri sendiri, tetapi juga kolaborasi,” terang psikolog sekaligus pendiri Tiga Generasi.
Tak selamanya kompetisi berbuah kemenangan. Untuk itu, peran orang tua dalam membantu anak memaknai proses kompetisi, termasuk saat mengalami kekalahan, menjadi hal penting.
Tak dimungkiri, kecenderungan orang tua saat ini masih sering berfokus pada hasil akhir perlombaan. Padahal, kegagalan seharusnya tidak dipandang sebagai hal memalukan, melainkan sebagai kesempatan belajar bagi anak untuk berkembang.
Cara yang bisa ditempuh orang tua saat anak kalah dalam berkompetisi menurut saran Saskhya, ubah fokus pembicaraan pascakompetisi ke arah strategi dan evaluasi pengalaman. Menurutnya, pendekatan ini krusial pada usia sekolah untuk membangun cara pandang positif terhadap tantangan serta menumbuhkan rasa percaya diri anak.
Misalnya, ajukan pertanyaan yang tidak terkesan menghakimi, seperti “Apa yang menarik atau apa yang kamu temui dari kekalahan kamu?”
Alih-alih membahas kekalahan, psikolog anak dan keluarga itu menyarankan agar orang tua membahas poin positif selama kompetisi, seperti masukan dari juri atau jawaban yang sudah baik. “Hindari pemberian nasihat saat anak masih dalam kondisi sedih, menangis, atau stres,” ujarnya.
Saskhya menyarankan agar proses diskusi dan pendampingan disarankan berlangsung ketika kondisi anak sudah santai dan fokus, misalnya saat makan bersama. “Melalui pendampingan yang tepat, anak dapat memahami bahwa kekalahan merupakan bagian dari proses untuk mencoba lagi dengan lebih baik,” tandasnya.
Tak kalah penting, berikan anak apresiasi tidak hanya saat menang, namun juga saat dia kalah. “Keberanian untuk mencoba, berusaha, dan bangkit kembali setelah gagal juga menjadi momentum penting yang perlu dirayakan bersama anak,” pungkasnya. (HG)
