Hidupgaya.co – Mitos seputar menstruasi masih kental di kalangan masyarakat, dan banyak orang mempercayai walaupun tak memiliki dasar ilmiah kuat. Karenanya, edukasi kesehatan menstruasi sejak usia remaja berperan penting dalam membantu remaja memahami perubahan tubuhnya secara tepat.

Disampaikan dokter spesialis kebidanan dan kandungan dr. Dinda Derdameysia, Sp.OG, dukungan edukasi dan lingkungan sekolah yang lebih suportif, pemahaman yang tepat mengenai kebersihan dan kesehatan menstruasi juga menjadi faktor penting dalam membantu remaja putri menjalani masa pubertas dengan sehat.

“Edukasi kebersihan menstruasi sejak dini membantu remaja putri memahami perubahan tubuhnya dengan lebih percaya diri serta mendukung kesiapan mereka menjalani masa pubertas secara sehat, termasuk menjaga kebersihan tubuh selama menstruasi,” ujar dr. Dinda di acara temu media Wings for UNICEF – Generasi Bersih Sehat Bersama Hers Protex di Jakarta, baru-baru ini.

Kiri ke kanan: dr. Dinda Derdameysia, Sp.OG; Marketing Manager Paper Product Category Wings Group Indonesia, Stella Eidelina;  Water Sanitation and Hygiene Specialist UNICEF Indonesia, Muhammad Zainal

Tak dimungkiri, sejumlah mitos menstruasi masih dipercaya banyak remaja putri, karena diceritakan secara turun temurun, meskipun tak ada landasan ilmiah terkait hal itu. Terkait hal itu, dr. Dinda meluruskan sejumlah mitos terkenal terkait masa haid, berikut di antaranya:

Mitos: Selama menstruasi dilarang keramas dan potong kuku

Fakta: Keramas dan potong kuku boleh dilakukan selama masa menstruasi untuk menjaga kebersihan.

Mitos: Tidak boleh berenang/berolahraga selama haid

Fakta: Olahraga ringan justru dapat membantu meredakan nyeri haid

Mitos: Pembalut harus dicuci bersih sebelum dibuang

Fakta: Tidak wajib mencuci pembalut bekas pakai, yang penting dibungkus rapi sebelum dibuang ke tempat sampah

Mitos: Jangan minum air dingin/air es saat haid

Fakta: Tergantung preferensi individu, minum air es boleh dilakukan saat haid. Tidak ada hubungan langsung antara suhu minuman dengan sistem reproduksi. Faktanya, bagian dari pencernaan terpisah dari organ reproduksi.

Dokter Dinda mengingatkan sejumlah hal penting saat menstruasi, yakni ganti pembalut setiap 4 jam sekali. “Jangan tunggu sampai penuh. Karena kelembapan udara justru akan meningkat karena banyak berkeringat, suhu udara tinggi, jadi daerah kewanitaan sering basah,” ujarnya.

Hal lain tak kalah penting adalah cara membersihkan area kewanitaan dengan benar. “Bersihkan dengan air dari arah depan ke belakang, bukan sebaliknya,” ujar dr. Dinda.

Dia juga menekankan pentingnya mencuci tangan sebelum dan setelah mengganti pembalut demi menjaga kebersihan diri.

Edukasi Manajemen Kebersihan Menstruasi

Kurangnya akses informasi yang tepat sering menimbulkan kecemasan, terutama saat menstruasi pertama. Di sisi lain, keterbatasan fasilitas sanitasi juga masih menjadi persoalan yang perlu ditangani segera.

Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi tahun 2022 menunjukkan rasio toilet di SMP secara nasional masih belum memenuhi standar, yakni 1:85 untuk laki-laki dan 1:74 untuk perempuan, bahkan belum ada provinsi yang mencapai standar ideal tersebut.

Menjawab tantangan ini, Wings Group melalui program Wings for UNICEF bersama Hers Protex dan UNICEF secara resmi meluncurkan rangkaian program edukasi Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) bagi remaja putri di sekolah sebagai bagian dari komitmen bersama dalam mendukung peningkatan praktik kebersihan menstruasi serta akses edukasi air, sanitasi, dan kebersihan (WASH) di lingkungan pendidikan.

Melalui merek Hers Protex,Wings Group praktik kebersihan menstruasi remaja putri di Indonesia dengan edukasi langsung ke total 20 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Bandung Barat dan Makassar melalui kampanye Generasi Bersih Sehat dengan menargetkan menjangkau 2.000 siswi SMP dan 2.000 orang tua.

Disampaikan Muhammad Zainal, Water Sanitation and Hygiene Specialist UNICEF Indonesia, WASH di sekolah merupakan pendekatan terintegrasi yang tidak hanya berfokus pada penyediaan fasilitas, tetapi juga edukasi kebersihan yang berkelanjutan.

Data UNICEF menunjukkan bahwa 1 dari 7 anak perempuan di Indonesia memilih tidak masuk sekolah selama satu hari atau lebih saat menstruasi. Hal ini menunjukkan pentingnya akses terhadap edukasi kebersihan menstruasi serta dukungan lingkungan sekolah yang memadai agar remaja putri dapat tetap belajar dengan nyaman dan berpartisipasi secara optimal.

“WASH di sekolah merupakan upaya yang terintegrasi untuk memastikan bahwa sekolah memiliki air bersih, sanitasi yang layak, dan juga sarana cuci tangan, serta edukasi tentang kebersihan,” bebernya.

Melalui penyediaan fasilitas yang memadai, lanjut Zainal, program ini bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan sehat bagi siswa.

dr. Dinda Derdameysia, Sp.OG

Keberadaan fasilitas air bersih dan sanitasi yang layak juga menjadi faktor penting dalam melindungi anak-anak dari berbagai penyakit berbasis lingkungan.

Selain itu, program WASH memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kesehatan dan kebersihan menstruasi, khususnya bagi remaja putri. Ketersediaan fasilitas seperti toilet terpisah, air bersih, sabun, serta tempat pembuangan pembalut menjadi aspek krusial dalam mendukung mereka menjalani menstruasi dengan aman dan nyaman.

Kesempatan sama, Marketing Manager Paper Product Category Wings Group Indonesia, Stella Eidelina menekankan pentingnya edukasi sejak dini bagi remaja putri. “Melalui kolaborasi Wings for UNICEF bersama Hers Protex, kami ingin mendorong remaja putri memiliki pemahaman yang tepat mengenai manajemen kebersihan menstruasi sejak dini, termasuk pentingnya memilih pembalut yang tepat dan nyaman sebagai bagian dari upaya bersama mewujudkan Generasi Bersih Sehat,” terangnya.

Dengan pemahaman yang baik, kami berharap remaja putri dapat menjalani aktivitas belajar dengan lebih nyaman, percaya diri, dan bebas khawatir selama menstruasi. (HG)