Hidupgaya.co – Generasi kekinian semacam Gen Z dan Milenial mungkin kurang mengenal nama-nama seperti Sundari Soekotjo, Nyi Tjondrolukito atau Tuti Tri Sedya. Ketiganya merupakan musisi keroncong Indonesia yang memiliki sejumlah penggemar, bukan hanya di dalam negeri, namun juga mancanegara.

Disampaikan Tuti Tri Sedya, yang mendapatkan julukan sebagai salah satu Diva Keroncong Indonesia, menjadi penyanyi keroncong telah membawanya menjelajah tak kurang dari 30 negara. “Sayangnya, musik keroncong hanya dimainkan pakai keyboard saat di luar negeri. Padahal, publik di luar negeri lebih menghargai jika dimainkan dengan musik tradisional seperti wayang. Musik keroncong itu aslinya diiringi dengan gamelan,” tutur Ketua Pengurus Yayasan Musik Keroncong Bersatu (Musikesatu) saat acara halal bihalal di Cinere Depok, Minggu (5/6/2022).

Jajaran oengurus dan pembina Musikesatu (dok. Hidupgaya.co)

Meski kurang familiar di kalangan milenial, namun musik keroncong banyak disukai karena sifatnya yang fleksibel. “Keroncong itu klasik bisa berkembang mau dibawa ke mana, juga sangat fleksibel. Orang (penyanyi) keroncong mau dikasih lagu apa saja bisa jalan,” tutur penyanyi yang menjadi langganan di Istana Negara yang sering tampil untuk menghibur para tamu negara seperti Benazir Bhutto, George Bush, Yasser Arafat, Bill Clinton, Mahathir Mohamad, hingga Xi Jinping.

Tuti menambahkan, musik keroncong merupakan musik yang unik dan berbeda dari musik lainnya. “Keroncong memiliki 28 bar, sedangkan yang lain tidak lebih dari 12 bar,” tuturnya seraya menambahkan keroncong merupakan musik asli Indonesia yang diharapkan bisa diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia.

Ada anggapan bahwa musik keroncong berasal dari tarian Moresco Arab Moor yang dibawa oleh para pelaut Portugis. Namun menurut buku ‘Krontjong Toegoe’ yang ditulis oleh Victor Ganap, diyakini musik ini berasal dari Indonesia. Dalam bukunya, Victor Ganap menyatakan bahwa keroncong sangat berbeda dengan musik-musik dari Portugis. Bahkan, di negara itu tidak ditemukan musik keroncong seperti yang dikenal di Indonesia. 

Dikutip dari laman Dewan Kesenian Jakarta, sejarah musik keroncong berawal dari Kampung Tugu sejak zaman Hindia Belanda melalui komunitas Tugu sehingga dinamakan Krontjong Toegoe. Musik keroncong mulai disebarkan pada abad ke 20, dari Batavia (Jakarta) hingga ke Surabaya. “Namun yang menyebar di Indonesia saat ini musik keroncong Solo,” terang Tuti.

Mengenalkan Keroncong ke Generasi Milenial dan Gen Z

Kesempatan sama, penyuka musik keroncong sekaligus jurnalis senior Ninok Leksono menyampaikan, untuk mendapat pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda asli Indonesia, musik keroncong harus diperjuangkan secara gigih, seperti halnya wayang. “Harus gigih memperjuangkan akan sampai kedudukan yang sama,” ujarnya.

Menurut Ninok, setelah pengakuan warisan budaya tak benda dari UNESCO diperoleh, ada tiga amanah yang harus dilaksanakan, yaitu melestarikan, mempopulerkan dan mengembangkan. “Keroncong harus muncul di mana-mana, skala lokal hingga nasional. Syukur-syukur menjadi fever… demam keroncong,” tutur pembina Musikesatu yang mengakui musik hidup dalam hal ini termasuk keroncong – lebih ‘nyes’ dan menggairahkan dibandingkan hanya menyaksikan dari rekaman. “Bisa bikin bengong dan terpesona.”

Selain itu, musik keroncong juga harus diperkenalkan ke generasi berikut agar lestari. “Makanya saya salut ada komunitas semacam Musikesatu ini. Saya bangga dan kagum makanya saya dukung. Seniman itu sulit dipersatukan namun di Musikesatu ini kesempatan persatukan seniman. Di komunitas keroncong ini mudah-mudahan mudahan guyub bersatu,” ujar Ninok. 

Guna melestarikan keroncong, sebut Tuti, Musikesatu akan mempromosikan musik ini di dalam negeri maupun di manca negara, melalui advokasi, edukasi, kegiatan seni dan budaya, serta pemberdayaan komunitas. “Termasuk dalam hal ini melalui program KISS (Keroncong Inspirasi Sahabat Sekolah). Ini program Goes to School dari Musikesatu sebagai bagian dari kegiatan edukasi, ataupun peningkatan minat terhadap musik keroncong bagi generasi penerus,” bebernya.

Penyanyi keroncong Tuti Tri Sedya (berdiri) bersama pembina Musikesatu, Suprapto Santoso – dok. Hidupgaya.co

Selain itu juga akan dihelat program Keroncong Academy, yang diwujudkan dalam bentuk pelatihan offline maupun webinar secara santai, yang diadakan secara gratis dan berkala, melalui balai pelatihan, Zoom meeting, atau GoogleMeet, sebagai wadah tempat bertemunya tokoh keroncong, artis keroncong idola, dengan para penggemarnya, ataupun para peminat musik keroncong. “Diharapkan melalui kegiatan ini, transfer knowledge, pengalaman, ataupun kisah inspiratif dari generasi senior kepada junior dapat berjalan baik,” ujar pemilik nama asli Tuti Maryati.

Salah satu pencinta musik Jawa, Suprapto Santoso, sepakat bahwa musik keroncong harus dikenalkan ke kalangan yang lebih luas. “Keroncong harus main live streaming jadi semua orang bisa nonton,” cetus pembina Musikesatu dan pemilik grup musik tradisional Sinar Baskara antusias. (HG)