Agar Bisnis Lancar Bak Jalan Tol, Perhatikan 3 Hal Ini

Hidupgaya – Perempuan wirausaha masih memiliki sejumlah hambatan dalam mengembangkan bisnisnya, salah satunya karena support system tak berjalan dengan baik.

Ada fakta menarik terkait kewiraushaan, khususnya di kalangan perempuan. Riset Google menyebut perempuan Indonesia lebih suka berwirausaha, dibandingkan dengan 12 negara lainnya, misalnya Jepang dan Brazil. Data lain menyebut, Indonesia masuk ke dalam urutan 20 untuk negara dengan jumlah pengusaha wanita terbanyak.

Dipaparkan CEO sekaligus pendiri CIAS, Indrawan Nugroho, faktanya dalam tiga tahun terakhir, jumlah wirausaha perempuan meningkat 3 kali lipat. “Sebanyak 64,5% atau 37 juta pelaku UMKM di Indonesia dikelola oleh kaum perempuan. Namun sayangnya aktivitas para penopang ekonomi bangsa ini tidak banyak mendapat dukung dari banyak pihak,” tutur Indrawan di acara webinar Professional Women’s Week bertajuk ‘Wanita Pengusaha: Strategi Menang di Dunia Laki-laki,’ yang digelar Senin (20/9).

Dunia usaha penuh dengan persaingan, bahkan hingga sekarang masih dikonotasikan sebagai dunianya laki-laki. Karenanya, untuk para wanita yang ingin terjun ke dunia bisnis dibutuhkan strategi jitu agar berhasil masuk ke belantara bisnis.

Apakah wanita bisa ? “Bisa dong, tapi memang harus dipersiapkan secara cerdas. Kita tidak dalam membicarakan persoalan gender. Ini juga buka perempuan versus laki-laki. Tapi lebih kepada bagaimana menaklukkan dompet para pelanggan,” beber Indrawan.

Tantangan Bisnis yang Dihadapi Perempuan

Indrawan menyebut setidaknya terdapat 3 tantangan yang dihadapi perempuan dalam menjalankan bisnis, di antaranya:

1. Stereotip gender

Tidak bisa dinafikkan bahwa sosok perempuan dipandang lemah secara emosional dan ambisi. Padahal stereotip belum tentu benar, dan seharusnya dijadikan sebagai sebuah tantangan. Menurut Indrawan, dalam hal ini, para wanita tidak perlu khawatir dan harus menghapus pandangan tersebut. “Yang perlu dilakukan adalah dengan memberikan sebuah pembuktian, bahwa dia tidak seperti yang disangkakan,” ujarnya.

2. Norma di masyarakat

Salah satu contoh, yang mestinya bekerja itu laki-laki, sementara perempuan cukup di rumah saja, mengurus suami dan anak-anak. Bila laki-laki bekerja lembur dianggap sebagai hal wajar, sedangkan bila perempuan terlalu asyik bekerja dianggap hal egois.

3. Multiperan wanita

Sejatinya wanita itu dalam satu waktu dapat menjelma sebagai ibu, istri, anak, sekaligus sahabat bagi orang-orang di sekitarnya. Namun pada saat agenda pembagian raport, ketika ayah tak bisa datang ke sekolah , lingkungan tidak mempersoalkan. Tapi jika ibu yang tidak bisa hadir, posisi ibu selalu menjadi yang disalahkan.

Indrawan menambahkan, apabila para wanita yang ingin memulai bisnis, ketiga variabel ini perlu dipikirkan secara bijak. “Ini layaknya sebuah strategi perang, bicara strategi, maka sama dengan memilih. Memilih mau berbisnis apa. Cara menjalankannya bagaimana, berpartner dengan siapa. Saran saya pilihlah peperangan yang paling mudah Anda untuk menangkan.,” ujarnya.

“Jangan memilih usaha hanya karena teman sukses menjelankannya sedangkan Anda tidak mengerti sama sekali,” terang Indrawan.

Dalam berbisnis dibutuhkan energi. Salah satu yang menjadi kekuatan adalah adanya dukungan dari keluarga, terutama suami dan orang tua. “Jadi sebaiknya sebelum ‘berperang’ dalam bisnis, perlawanan -perlawanan semacam ini sudah dihilangkan dulu,” ujarnya.

Indrawan menyarankan, sebelum memulai usaha, mintalah dukungan suami, juga orang tua. “Kalau dalam ajaran Islam, supaya mendapatkan berkah,” imbuhnya.

Indrawan menegaskan pentingnya support system bagi perempuan yang menjalankan bisnis. “Dengan terbangunnya support system yang dapat diandalkan maka sebagian pekerjaan dapat didelegasikan,” tandasnya.

Tantangan Bisnis di Masa Pandemi Covid-19

Pengalaman menarik disampaikan CEO dan pendiri London School Public Relations (LSPR), Prita Kemal Gani dalam menjalankan bisnis. Di masa pandemi Covid-19, Prita melihat berkah dalam membina kedekatan dengan keluarga.

“Ada blessing di tiap kejadian. Anak kedua saya yang kuliah di Inggris. Karena pandemi harus pulang ke Indonesia. Sehingga selama 1,5 tahun ini bersama kami. Pada saat pandemi ini kita bisa melihat, mendengar ada rumah tangga yang menjadi runyam, karena orang tua tidak terbiasa di rumah, tapi karena ada WFH harus kerja di rumah. Biasanya selalu pergi, begitu di rumah saja, justru bikin stres,” tuturnya.

Prita mengatakan saat bekerja dari rumah, setiap orang harus punya privacy. “Di sinilah dbutuhkan sebuah upaya untuk memberikan ruang pada anggota keluarga,” ujarnya.

Sedangkan Hany Seviatry, pengusaha batik yang juga istri Wali Kota Cilegon punya pengalaman yang berbeda selama masa pandemi. “Di awal pandemi terpaksa harus menerapkan pembayaran dengan sistem borongan terhadap para perajin batik. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja,” tuturnya.

Tak hanya, sebagai pengusaha batik, dia harus senantiasa melakukan edukasi penggunaan masker
dan menjaga prokes kepada para perajin. “Bagi para perajin saya, corona itu nggak ada. Adanya di Jakarta, banyak yang meninggal juga di Jakarta, sedangkan di tempat kami di Cilegon tidak ada corona. Ini menjadi tantangan bagi saya, bagaimana memberi penjelasan kepada mereka,” pungkas Hany. (HG)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s