Monolog Di Tepi Sejarah: Melihat Indonesia dengan Cara Pandang Berbeda 

Hidupgaya – Seri monolog “Di Tepi Sejarah” akan ditayangkan di kanal budaya milik Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset dan Teknologi, (Kemendikbudristek) Indonesiana. Pementasan ini bisa diakses melalui Kanal Indonesiana, yaitu kanal media khusus budaya yang diinisiasi oleh Kemendikbudristek, yang bertujuan untuk mewadahi, mengintegrasikan, serta mempromosikan karya dan ekspresi budaya masyarakat Indonesia. 

Aktor Chicco Jericho sebagai Amir Hamzah di monolog Amir, Akhir Sebuah Syair (dok. istimewa)

Alasan lain Kemendikbudristek menghadirkan Kanal Indonesiana karena belum adanya media resmi dari Indonesia yang menjadi wadah diplomasi budaya secara internasional. Padahal, negara-negara maju sudah memiliki media kebudayaan terintegrasi yang menjadi sarana diplomasi budaya, antara lain, Arirang TV yang didukung Kementerian Budaya, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan dan BBC Culture yang merupakan saluran radio, televisi, film, laman, dan kanal digital yang didukung Sekretariat Negara Bidang Digital, Media, dan Olahraga Inggris.

Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid menyampaikan harapannya agar publik berpartisipasi dalam mengembangkan dan memanfaatkan Kanal Indonesiana.

“Partisipasi yang diharapkan adalah seluas mungkin, di semua kanal. Kita betul-betul ingin melihat karya dan ekspresi dan mencari produksi yang keren-keren di seluruh daerah, salah satu contohnya dengan upaya mementaskan Monolog Di Tepi Sejarah ini,”  ujar Hilmar.

Dengan mementaskan di Kanal Indonesiana setelah tayang di Kanal Youtube Budaya Saya, Hilmar berharap karya Monolog ini dapat diakses oleh lebih banyak penonton selain itu Hilmar juga menjelaskan bahwa rangkaian monolog ini merupakan inisiatif kecil yang dapat memberi makna baru bagi perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan.

“Di Tepi Sejarah” mengulang kesuksesan Sandiwara Sastra, sebuah seri monolog hasil kolaborasi terbaru Kemendikbudristek, Titimangsa Foundation dan KawanKawan  Media yang menceritakan tentang tokoh-tokoh yang ada di tepian sejarah, mereka yang mungkin tak pernah disebut namanya dan tak begitu disadari kehadirannya dalam narasi besar sejarah bangsa Indonesia. 

Seri Monolog “Di Tepi Sejarah” ini diprakarsai oleh Happy Salma dan Yulia Evina Bhara selaku Produser dari Titimangsa Foundation dan KawanKawan Media. Pentas ini juga merupakan kerja bersama dengan Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia.

Happy Salma, menambahkan bahwa ide awal seri monolog “Di Tepi Sejarah” tercetuskan ketika ia sedang menggarap monolog “Aku Istri Munir” yang berkisah tentang Suciwati Munir dan naskahnya ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma.

Monolog “Aku Istri Munir” kala itu dimainkan Happy Salma di ruang yang kecil, sebuah kamar dalam sebuah rumah. Memang niat awalnya pentas ini merupakan persembahan kecil saja bagi perjuangan Suciwati Munir. Tapi banyak sekali yang setelah menonton pentas itu menjadi menemukan jalan lain untuk merawat ingatan. 

“Dari situ, saya jadi terinspirasi bahwa dengan situasi sekarang, banyak juga cara untuk tetap bergerak, berbuat dan semoga bermanfaat lewat panggung teater yang tidak kehilangan ruh panggungnya. Dimainkan hanya oleh satu orang pemain agar terasa intim dan personal membawakan makna tentang kemanusiaan,” tutur Happy Salma.

Di Tepi Sejarah mengangkat 4 judul monolog; “Nusa Yang Hilang”, “Radio Ibu”, “Sepinya Sepi”, dan “Amir, Akhir Sebuah Syair”, yang keempatnya mewakili keanekaragaman wilayah dan melibatkan orang-orang di seluruh pelosok Indonesia. 

Nusa yang Hilang

“Nusa Yang Hilang” berkisah tentang seorang yang bernama asli Muriel Stuart Walker (Chelsea Islan), wanita kelahiran Skotlandia yang tumbuh besar di Amerika. Ia kemudian pergi ke Bali dan berganti nama menjadi Ketut Tantri. Ia pergi ke Bali, karena sebuah harapan dari film yang ditontonnya tentang keindahan Bali, tetapi kenyataan berkata lain. 

Ketut Tantri terlibat jaringan gerakan bawah tanah, ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Setelah Jepang menyerah, Ketut Tantri bergabung dengan para pejuang di Surabaya. Ia menjadi penyiar radio gerilya Barisan Pemberontak dengan siaran-siaran proganda berbahasa Inggris. 

Lewat corong radio, Ketut Tantri mewartakan semua kekejaman tentara Inggris pada rakyat Surabaya. Monolog ini ditulis oleh Ahda Imran dan Kamila Andini yang merangkap juga sebagai sutradara teater dan visual.

Radio Ibu

“Radio Ibu” bercerita tentang Riwu Ga (Arswendy Bening Swara), seorang lelaki tua yang lahir di Sabu, Nusa Tenggara Timur. Riwu bertemu keluarga Bung Karno semasa pembuangan Presiden pertama RI itu di Ende. Riwu adalah mantan pelayan, pengawal dan sahabat Bung Karno yang menjadi petani jagung di masa tuanya. Walaupun tinggal di pondok kebun, ia terus mendengarkan radio peninggalan Bu Inggit. 

Ia ingin memastikan masa depan cerah Indonesia sesudah merdeka, seperti mimpi-mimpi Bung Karno. Naskah ditulis oleh Felix Nesi, sedangkan sutradara teater oleh Yustiansyah Lesmana dan sutradara visual oleh Yosep Anggi Noen.

Sepinya Sepi

“Sepinya Sepi” mengangkat kisah seorang perempuan tua Tionghoa, The Sin Nio (Laura Basuki) yang berkeinginan ikut terjun ke kancah revolusi. Ia mewujudkan keinginan itu dengan masuk tentara sebagai prajurit. Meski begitu, ia harus rela mengubah penampilannya menjadi lelaki, dan memakai nama Moechamad Moechsin. 

Namun, The Sin Nio tahu siapa dirinya, orang biasa, bekas prajurit yang keras kepala menjaga masa lalunya, meski harus ditelan kesepian. Kesepian yang tak memberinya tempat. Bahkan dalam kematian sekalipun, makamnya tak pernah mendapat tempat. Sutradara teater oleh Heliana Sinaga, sutradara visual oleh Yosep Anggi Noen dan Penulis Naskah oleh Ahda Imran.

Amir, Akhir Sebuah Syair

“Amir, Akhir Sebuah Syair” berkisah tentang Amir Hamzah (Chicco Jerikho), seorang sastrawan yang hidup di masa terjadinya revolusi sosial di Indonesia. Ia juga adalah keturunan dari Kesultanan Langkat. Bersama Armin Pane dan Sutan Takdir, Amir bergerak, berjuang demi Indonesia yang berdaulat dengan pena dan kata-kata, dengan sajak, roman, risalah, dan kisah kisah. 

Dan, untuk itu, Amir telah mengorbankan diri dan hidupnya. Demi kewajibannya pada keluarga, Amir meninggalkan perjuangannya untuk Indonesia. Amir tak bisa lagi menulis syair, tapi sajak-sajaknya, yang seluruhnya bernada liris itu, masih menyisakan gema. 

Di akhir hidupnya, ia dipancung oleh seorang algojo bernama Ijang Widjaja, yang merupakan guru silat Amir di masa kanak-kanak. Ijang dipenjara akibat keterlibatannya sebagai algojo. Namun, ia dibebaskan setelah menjalani beberapa tahun hukuman dan menjadi gila lantaran tak mampu menanggung rasa bersalah yang terus menghantuinya. Sutradara teater dan penulis naskah oleh Iswadi Pratama sedangkan sutradara visual oleh Yosep Anggi Noen.

Seri monolog ini juga melibatkan seniman yang berdedikasi pada profesinya, di antaranya Iskandar Loedin (penata artistik dan cahaya), Deden Jalaludin Bulqini (penata artistik dan multimedia), Mamed Slasov (penata cahaya), Retno Ratih Damayanti (penata kostum), Eba Sheba (penata rias), Ricky Lionardi (penata musik), Achi Hardjakusumah (penata musik), Freza Anhar (penata musik), Imam Maulana (penata musik dan suara) dan Batara Goempar (penata sinematografi Nusa yang Hilang). (HG)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s