4 Cara Menjaga Kesehatan Mental Orang Tua dan Anak dari Kacamata Psikolog di Masa Pandemi

on

Hidupgaya – Situasi yang masih tidak menentu, serta banyaknya hal berat yang harus dilalui tentu menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh anggota keluarga di masa pandemi sekarang ini. Kesehatan mental jadi hal yang perlu diperhatikan, bukan hanya bagi orang tua, tapi juga anak-anak. 

Ilustrasi kegiatan ibu memasak bersama anak ( dok. dreamstime)

Penelitian yang dilakukan oleh Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia bersama Kemendikbud di 12 provinsi terhadap siswa SD-SMA/K menunjukkan bahwa pendampingan termasuk saat belajar menjadi faktor sosial dengan pengaruh terbesar dalam menjaga kesehatan mental anak. 

Sedangkan bagi orang tua, khususnya yang menjalani WFH – mereka membutuhkan dukungan psikologis, agar dapat menemukan keseimbangan antara pekerjaan (kantor dan rumah) dan pendampingan anak. Fakta ini menunjukkan bahwa orang tua perlu berbagi peran dan memaksimalkan dukungan lingkungan yang ada termasuk perangkat rumah tangga, untuk membantu menjaga keseimbangan antara menjaga kesehatan mental diri dan anak.

Pentingnya orang tua untuk menjaga kesehatan mental diri dan anak juga disampaikan psikolog anak, Vera Itabiliana Hadiwidjojo. “Tidak mudah bagi orang tua untuk menenangkan diri menghadapi situasi penuh ketidakpastian seperti saat ini. Namun perlu diingat, kondisi mental anak, sangat bergantung pada orang tuanya. Untuk itu, orang tua perlu mengatur siasat untuk terus saling mendukung dalam menghadapi situasi penuh tantangan seperti saat ini,” bebernya.

Kecemasan yang dialami anak umumnya dipengaruhi oleh situasi di sekitarnya termasuk bagaimana orang tua menyikapi sesuatu. Jika orang tua cemas berlebihan akan situasi saat ini misalnya, anak akan ikut cemas. Anak bisa menjadi cemas ketika melihat orang tuanya bertengkar, sedih melihat orang tuanya sakit. 

Cemas karena dilarang bermain di luar, tidak bisa bertemu teman, juga terhadap tugas sekolah yang banyak. Ketika mengalami kecemasan, anak akan sering terlihat murung, tidak bersemangat sehingga terkesan malas. 

Anak juga lebih emosional, sulit tidur atau bahkan tidur terus, pola makan terganggu, menarik diri, serta kehilangan minat atas aktivitas yang biasanya disenangi.

Country General Manager Indonesia, PT Beko Appliances Indonesia, Ali Cagri Gonculer, sepakat bahwa tidak saja fisik, namun kesehatan mental menjadi isu yang perlu kita perhatikan bersama. Tak hanya orang dewasa, nyatanya kondisi ini juga berdampak pada kualitas kesehatan fisik dan mental anak. “Sebagai mitra keluarga Indonesia yang berkomitmen untuk mendukung masyarakat menjalani hidup yang lebih sehat, Beko berupaya untuk menghadirkan rangkaian produk rumah tangga yang dapat menjadi solusi, dan mengurangi beban pekerjaan rumah tangga,” ujarnya. 

“Teknologi yang dihadirkan Beko bukan hanya terdepan, tapi juga memungkinkan penggunanya untuk hidup lebih bersih dan sehat. Membawa kualitas ala profesional, di rumah penggunanya,” tutur Ali Cagri.

Guna menjaga kesehatan mental baik pada orang tua maupun anak, Vera berbagi 4 tips berikut:

1. Berikan pemahaman tentang kondisi saat ini secara garis besar pada anak, dengan menggunakan buku cerita, video ataupun animasi yang menjelaskan kondisi saat ini dengan singkat. 

“Kecemasan anak dapat timbul ketika dia melihat banyak yang sakit. Jelaskan pada anak bahwa sudah ada tindakan-tindakan yang diambil untuk mengatasi situasi, juga adanya langkah-langkah pencegahan yang telah menjadi rekomendasi,” ujar Vera.

2. Libatkan anak dalam praktik untuk mengurangi penularan.  Bahas bagaimana anak dapat turut ambil peran dalam menerapkan protokol kesehatan untuk menjaga dirinya dan juga orang lain sehingga dia dapat juga menjadi pahlawan bagi orang lain atau keluarganya.

“Misalnya, ajak anak untuk membersihkan alat belajar, mainan, atau pesanan makanan dari luar, sebagai langkah pencegahan yang dapat dilakukan,” ujar Vera.

3. Lakukan rutinitas terjadwal guna membantu menenangkan anak karena dia tahu apa yang akan terjadi dalam kesehariannya. Sesuatu yang dapat diprediksi dan berjalan secara konsisten membuat anak merasa aman dan nyaman. Diskusikan dan berbagi peran dengan pasangan dalam pendampingan belajar, juga membuat kegiatan yang variatif seperti menggambar, membuat prakarya atau memasak bersama. Lakukan secara menyenangkan, karena anak akan terpengaruh oleh bagaimana reaksi orang tua dalam menyikapi sesuatu. 

“Ibu bisa membuat kreasi menu makanan tertentu bersama anak. Hal ini bisa menjadi pencapaian tersendiri bagi anak dan dia bisa berkreasi dengan menu itu,” saran Vera.

4. Manfaatkan teknologi guna membantu memastikan kebersihan dan higenitas di area rumah, untuk memberikan rasa aman dan kenyamanan lebih bagi anak dan keluarga. Orang tua dapat berbagi beban dengan teknologi yang mendukung kenyamanan rumah sekaligus memperlihatkan kepada anak bahwa pekerjaan rumah tangga adalah kegiatan yang mudah dilakukan.

Nah, silakan coba ya! (HG)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s