Hal Penting yang Harus Diperhatikan Saat Membeli Properti Agar Tidak Boncos

Hidupgaya – Ada nasihat saat hendak membeli perhatikanlah lokasi, lokasi dan lokasi. Diulang sampai tiga kali menandakan lokasi merupakan faktor penting dalam urusan properti, khususnya jika tujuannya adalah untuk investasi. Selain lokasi, ada hal penting lain yang juga harus diperhatikan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di belakang hari. Salah satunya adalah membaca perjanjian secara teliti, seksama dan dan menyeluruh, alih-alih hanya hanya membaca poin-poin pentingnya saja.

Masyarakat yang awam masalah hukum, biasanya cenderung hanya membaca poin pentingnya saja. Padahal ada banyak hal yang harus diperhatikan. “Biasanya konsumen pertama yang awam masalah hukum, akan cenderung membaca poin pentingnya saja Padahal di dalam perjanjian biasanya sangat panjang, dan semua harus dibaca secara teliti. Pertama menyangkut subjek, yaitu developer, atau penjualnya, ataukah si Subyek adalah orang yang berwenang bertindak,’’ tutur Isa Meilia, notaris/PPAT Kota Depok saat menjadi narasumber dalam Nina Nugroho Solution di acara Live Instagram, baru-baru ini.

Dalam obrolan daring yang dipandu oleh Nina Septiana, desainer sekaligus CEO PT Nina Nugroho Internasional, Isa menjelaskan, calon pembeli harus mencari tahu apakah pengembang/developer mempunyai kuasa jual. “Sebab, bisa jadi sertifikat tanah milik si A, sementara developer hanya memiliki perjanjian kerja sama. Bila ini yang terjadi, maka developer tersebut tidak memiliki kewenangan sebagai penjual,” jelasnya. 

Sebaliknya, bila developer bertindak sebagai penjual, bisa saja sertifikat sudah balik nama atau objek diberikan kepada developer sebagai kuasa jual. “Dalam hal ini pemilik tanah telah memberikan kewenangan kepada developer untuk menjual,” ujar Isa.

Yang dimaksud objek adalah tanah, baik yang sudah bersertifikat maupun yang belum. Bila sudah bersertifikat, maka bisa ditelusuri di perangkat pertanahan, untuk dilakukan pengecekan. “Developer yang beritikad baik, pasti sudah melakukan pengecekan ini terlebih dahulu,’ imbuh Isa.

Selain tanah yang sudah dilengkapi sertifikat, ada juga tanah yang belum bersertifikat, misalnya tanah girik. Untuk tanah girik dibutuhkan proses panjang hingga bersertifikat. Dalam kondisi seperti inilah, biasanya konsumen tidak tahu dan sering kali tidak diberitahu. ‘’Jadi konsumen harus menanyakan, apakah tanah yang digunakan untuk membangun properti tersebut sudah bersertifikat atau belum. Kalau sudah bersertifikat, apakah masih atas nama pemilik lama atau sudah balik nama developer,’’ urai Isa.

Meski terkesan ‘rewel’ sebagai pembeli, namun menurut Isa hal itu wajar dilakukan. Apalagi investasi properti menyangkut dana yang tidak sedikit, sehingga calon pembeli harus mampu memperhitungkan semua risikonya.

Isa menekankan, beberapa rincian dalam perjanjian sebaiknya dituliskan. Misalnya tenggat waktu penyerahan sertifikat. Sering kali hal ini tidak tertulis dalam perjanjian, sehingga ketika pengembang terlambat menyerahkan dokumen legalitas, konsumen tidak memiliki dasar hukum untuk menggugat.

Rincian lain yang harus tertulis dalam perjanjian adalah serah terima objek yang tanahnya belum atau tidak bersertifikat. Isa menjelaskan, untuk tanah jenis ini maka dibutuhkan waktu panjang dalam proses penyelesaiannya, berkaitan dengan pengakuan hak dari girik yang kemudian menjadi hak guna bangunan. Karenanya, tenggat waktu penyerahan dokumen kepada konsumen maupun bank pemberi kredit harus dituliskan dengan jelas. Hal ini menjadi hak konsumen. Begitu pula tenggat waktu serah terima fisik. Ini yang kerap terjadi, dijanjikan hanya beberapa bulan, namun kenyataannya hingga bertahun-tahun fisik yang dijanjikan belum diserahkan.

‘’Dalam perjanjian itu konsumen berhak minta ‘dibunyikan’ saja. Serah terima fisiknya itu kapan paling lambatnya, jadi harus ada batas waktunya. Kalau melewati batas waktu yang telah ditentukan, berarti sudah ada kecenderungan developer melakukan wanprestasi,” beber Isa. Konsumen berhak meminta untuk dituliskan, bila melewati batas waktu yang disepakati apa yang akan terjadi, misal developer dikenakan denda.

Detail lain yang perlu dicantumkan dalam perjanjian adalah terkait dengan proses pembangunan. Misalnya penggunaan bahan bangunan, seperti lantai marmer atau keramik dan sebagainya. Sebaiknya hal ini juga dituliskan dalam perjanjian atau pengikatan jual beli.

Dalam membaca perjanjian, lanjut Isa, bila pembeli tidak begitu memahami klausul hukum, maka dianjurkan untuk menyertakan pihak ketiga yang memahami masalah ini. ‘’Boleh teman, saudara, notaris, pengacara, siapa saja yang sekiranya paham dengan masalah ini silakan boleh disertakan untuk memastikan,’’ tutur Isa.

Hal lain yang tak kalah penting adalah ketika membeli properti, pastikan fisik lahan sudah dalam penguasaan developer dengan salah satu tanda, dipasangnya umbul-umbul di lokasi tersebut. Kalau belum ada kegiatan seperti pematangan lahan, dan umbul-umbul bisa jadi tanah tersebut sedang digadaikan. ‘’Dua hal yang harus diperhatikan adalah dari aspek yuridis dan aspek penguasaan fisik. Keduanya harus berimbang,’’ tandas Isa. (HG)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s