Henti Jantung dan Serangan Jantung Berbeda, Keduanya Mengancam Nyawa

Hidupgaya – Penyakit jantung merupakan masalah serius yang tak bisa disepelekan, karena bisa mengancam nyawa jika terlambat ditangani. Kita umumnya familiar dengan istilah serangan jantung (heart attack) dan mungkin masih asing dengan istilah henti jantung (cardiac arrest). Meskipun sama-sama berdampak serius, namun henti jantung berbeda dengan serangan jantung.

Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Ario Soeryo Kuncoro, pada kasus henti jantung, organ ini berhenti berdetak secara tiba-tiba karena adanya gangguan gaya listrik pada otot jantung. Kondisi ini membuat jantung tidak dapat berdetak dengan normal dan memicu terjadinya aritmia alias denyut jantung tidak teratur. “Akibat berhentinya  detak jantung maka distribusi darah ke seluruh tubuh akan terganggu,” beber Ario dalam webinar yang dihelat Heartology Cardiovascular Center,  Sabtu (8/5)

Sudah tentu henti jantung bukan masalah sepele, katena pada kondisi yang parah bisa mengancam nyawa – bahkan dalam hitungan menit. Alasannya, organ vital lainnya (seperti otak) tidak menerima pasokan darah yang cukup. sehingga membuat kinerjanya terganggu.

Sedangkan pada serangan jantung, kondisi ini terjadi saat suplai oksigen dari aliran darah ke jantung tidak cukup. Penyebab aliran darah yang mengangkut oksigen tidak lancar antara lain karena penyumbatan pembuluh darah ateri (aterosklerosis).

American Heart Association menyebut, serangan jantung dapat terjadi dalam waktu yang lebih panjang, yaitu hitungan jam – bukan hanya menit seperti pada kasus henti jantung.

Selama terjadinya serangan jantung, bagian jantung yang tidak menerima oksigen akan terus mengalami kerusakan berupa kematian otot jantung. Jika kondisi ini tak selekasnya ditangani maka bisa memicu ajal. Berbeda dengan henti jantung, saat serangan, jantung tidak berhenti berdetak.

Dilihat dari gejalanya, ada perbedaan antara henti jantung dan serangan jantung. Pada henti jantung, pasien akan mengalami napas terputus – bahkan tidak bernapas sama sekali, lemas tiba-tiba, pingsan, warna kulit pucat kebiruan, bahkan denyut nadi/detak jantung tidak ditemukan.

Lain halnya dengan serangan jantung yang terjadi dalam durasi lebih panjang. Gejala serangan jantung kadang tidak spesifik, antara lain sangat lemas, keringat dingin, detak jantung tak beraturan, rasa nyeri di perut bagian atas, juga pada dada, rahang atau sekitar tulang belikat punggung bagian atas.

“Baik henti jantung maupun serangan jantung merupakan kondisi gawat darurat, jadi butuh penangaan segera,” beber Ario.

Serangan Jantung saat Olahraga, Kok Bisa?

Serangan jantung umumnya disebabkan oleh adanya penyumbatan arteri jantung (aterosklerosis) secara progresif akibat penyakit jantung dan pembuluh darah. Penyumbatan arteri jantung dapat dipicu oleh tumpukan lemak darah atau kolesterol, yang kemudian meningkatkan tekanan darah yang menggerus dinding pembuluh darah.

Risiko serangan jantung dapat meningkat akibat gaya hidup tidak sehat, riwayat penyakit kardiovaskular, dan sindrom metabolik pada usia lanjut. Namun hal yang tujuannya baik, seperti olahraga, dapat berakibat fatal bagi jantung. “Memang secara umum olahraga baik untuk kita, namun olahraga ekstrem bisa berisiko terhadap kesehatan, dalam hal ini masalah jantung,” urai Ario.

Alasannya, latihan olahraga ekstrem – termasuk perlombaan olahraga ketahanan (endurance) – dapat mengakibatkan kerusakan jantung dan gangguan irama jantung. Khususnya bagi orang yang memiliki faktor genetik.

Pencinta olahraga ekstrem biasanya latihan keras dan memaksa tubuh melewati batas ketahanan normal. Misalnya lari marathon atau bersepada jarak jauh, terus menerus dalam kurun waktu singkat, dehidrasi, cedera dan kelelahan berlebihan. “Ketika jantung harus dipaksa bekerja keras terus menerus, jantung akan mengalami perubahan bentuk, misalnya penebalan dinding jantung dan pada beberapa orang akan memperberat terbentuknya jaringan parut jantung,” imbuh Ario.

Nah, kelainan otot jantung ini salah satunya bermanifestasi sebagai gangguan irama yang dapat mengganggu fungsi jantung. “Akibatnya, pencinta olahraga ini terancam mengalami henti jantung mendadak,” beber Ario.

Ario mengatakan, kondisi ini bisa dideteksi lebih awal. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah ini menyarankan bagi pencinta olahraga ekstrem agar melakukan cek jantung dengan ekokardiografi secara rutin, khususnya apabila ada riwayat keluarga meninggal mendadak dan terdapat kelainan pada rekam . Ekokardiografi, sebut Ario, dapat menunjukkan pergerakan, ukuran dan bentuk jantung, serta seberapa baik bilik dan katup jantung bekerja.

Selain itu, ekokardiografi juga dapat menunjukkan area otot jantung yang tidak memompa secara adekuat karena suplai darah yang buruk atau terdapat suatu cedera akibat serangan jantung sebelumnya. Ario mengatakan, berdasarkan hasil ekokardiografi, dokter dapat menyarankan hal yang perlu dilakukan, agar tetap dapat berlatih dengan jantung aman.

“Jadi jangan takut berolahraga karena latihan fisik baik bagi jantung. Namun lakukan dengan aman dan terukur alias tidak memaksakan diri,” pungkas Ario. (HG)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s